Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar saat membuka kegiatan Bedah Buku KH. Abdul Wahab Hasbullah di Pesantren Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta, Kamis (4/6/2026). (Foto: Kemenag).
YOGYAKARTA, (ERAKINI) – Kiprah pesantren dalam perjalanan sejarah Indonesia tak terbantahkan. Dari lingkungan pendidikan berbasis keislaman tersebut lahir banyak ulama, pemimpin, dan pejuang yang berkontribusi besar bagi bangsa sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga era modern saat ini. Dengan warisan panjang, rekam jejak prestasi yang kuat, serta kemampuan membentuk karakter generasi muda, pesantren telah menjadi salah satu pilar penting pembangunan nasional.
Meski demikian, Menteri Agama (Menah) RI Nasaruddin Umar,mbmengingatkan agar pesantren tidak hanya terpaku pada kejayaan masa lalu. Menurutnya, lembaga pendidikan pesantren harus mampu tampil sebagai kekuatan strategis yang menawarkan solusi terhadap berbagai tantangan kebangsaan yang akan dihadapi Indonesia di masa depan.
Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka acara bedah buku tentang KH Abdul Wahab Hasbullah yang digelar Direktorat Pesantren Kementerian Agama di Pesantren Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta, Kamis (4/6/2026).
“Pesantren merupakan salah satu warisan pendidikan tertua di Indonesia yang telah berkontribusi besar sejak masa awal penyebaran Islam di Nusantara. Saya mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak terjebak pada romantisme sejarah, melainkan menghimpun energi dan bersinergi membangun masa depan. Pesantren harus menjadi jawaban terhadap berbagai problem kebangsaan yang kita hadapi saat ini dan di masa mendatang. Dengan segala keterbatasannya, pesantren dan madrasah telah membuktikan mampu melahirkan generasi unggul yang berprestasi di tingkat nasional maupun internasional," ujar MenagMenag di Krapyak, Kamis (4/6/2026)..
Menurut Menag, pesantren memiliki kekayaan sumber pengetahuan yang membentuk keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan sosial. Hal inilah, kata dia, yang menjadi kekuatan pesantren dalam melahirkan pemimpin dan manajer yang dibutuhkan bangsa.
Menag dalam kesempatan itu juga turut menyalurkan bantuan Rp100 juta kepada Pesantren Ali Maksum Krapyak. Menag menambahkan, penguatan kelembagaan pesantren menjadi semakin penting seiring terbentuknya Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama. Kehadiran Ditjen baru tersebut diharapkan mampu memperkuat peran pesantren dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Menag juga menyoroti keberhasilan sejumlah madrasah yang mampu bersaing bahkan melampaui sekolah-sekolah unggulan dengan biaya pendidikan yang jauh lebih tinggi. Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi oleh sistem pembelajaran, keteladanan, dan nilai-nilai yang ditanamkan.
Putri KH Abdul Wahab Hasbullah, Nyai Hj Hizbiyah Rochim Wahab, menyampaikan bahwa sosok KH Abdul Wahab Hasbullah merupakan teladan dalam membangun persatuan umat dan bangsa. Menurutnya, pendiri Nahdlatul Ulama tersebut tidak hanya dikenal sebagai tokoh organisasi, tetapi juga sebagai pemimpin yang mampu menjembatani berbagai perbedaan demi kepentingan yang lebih besar.
"Beliau mengajarkan pentingnya membangun jembatan di atas perbedaan. KH Abdul Wahab Hasbullah berhasil memadukan tradisi dan modernitas, agama dan nasionalisme, serta kepentingan elite dengan aspirasi masyarakat akar rumput," ujarnya.
Diharapkan oleh dia nilai-nilai perjuangan KH Abdul Wahab Hasbullah dapat menginspirasi para santri untuk menjadi pemimpin masa depan yang cerdas, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Sementara itu, Ketua Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang, KH Mohammad Hasib Wahab Hasbullah, dalam kesempatan yang sama mengajak seluruh pesantren untuk terus berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Ia menekankan pentingnya menjaga optimisme di tengah berbagai tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan pesantren.
"Semoga seluruh pesantren di Indonesia senantiasa mendapatkan perlindungan dan keberkahan dari Allah SWT sehingga dapat terus menjalankan perannya dalam mencetak generasi penerus bangsa," tuturnya.
Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menjelaskan bahwa pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren merupakan tonggak sejarah penting dalam perjalanan panjang perjuangan pesantren di Indonesia. Menurutnya, selama puluhan tahun urusan pesantren hanya berada pada level eselon III dan kemudian meningkat menjadi eselon II sebelum akhirnya memperoleh penguatan kelembagaan menjadi direktorat jenderal.
"Terbentuknya Direktorat Jenderal Pesantren merupakan bentuk pengakuan negara terhadap kontribusi besar pesantren dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Ini adalah hasil perjuangan panjang para ulama dan tokoh pesantren," kata Basnang.
Direktorat Jenderal Pesantren, kata dia, saat ini tengah menyusun peta jalan pengembangan pesantren untuk 10 tahun ke depan. “Fokus pengembangan tersebut mencakup penguatan fungsi pendidikan, dakwah, serta pemberdayaan masyarakat guna menjawab berbagai tantangan sosial yang berkembang,” jelas Basnang.
Adapun acara bedah buku ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi sejarah pesantren sekaligus mengenalkan kembali keteladanan KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai ulama, pendiri Nahdlatul Ulama, dan tokoh nasional yang berperan penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hadir Staf Ahli dan Staf Khusus Menag, Kakanwil Kemenag DIY Ahmad Bahiej, dan tamu undangan lainnya.