Bareskrim Yakin Pasokan Narkoba Jaringan Fredy Pratama Sudah Terputus
Akhmad Baihaqi Arsyad
JAKARTA, (ERAKINI) – Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri meyakini bahwa pasokan narkoba jenis sabu-sabu dan ekstasi dari jaringan gembong narkoba Fredy Pratama sudah terputus dan sulit masuk ke Indonesia.
Hal itu disampaikan oleh Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol. Mukti Juharsa.
"Sekarang sudah langka, untuk sabu-sabu dan ekstasi sudah hampir susah masuk dari jaringan Fredy Pratama karena 'kaki-kaki'-nya (kurir dan bandar) sudah putus semua, layer pertama putus semua," kata Brigjen Pol. Mukti Juharsa di Jakarta, Jumat (15/9/2023).
Bareskrim Polri dan polda jajaran telah melakukan pemburuan terhadap jaringan Fredy Pratama sejak 2020 sampai 2023. Ada total 408 laporan polisi yang diungkap dengan jumlah tersangka sebanyak 884 orang.
Bareskrim Polri bahkan membentuk satuan tugas khusus untuk memburu jaringan Fredy Pratama dengan sandi operasi ‘Escobar Indonesia’. Satgassus ini sudah bergerak sejak Mei 2023.
Tim satgassus dalam operasi ‘Escobar Indonesia’ tersebut berhasil menangkap sebanyak 39 tersangka dari jaringan Fredy Pratama.
Mereka adalah para petinggi dari jaringan Fredy Pratama memiliki peran seperti pasukan wilayah barat, wilayah timur untuk penyebaran sabu-sabu dan ekstasi, kemudian pembuatan dokumen palsu seperti KTP dan rekening, serta sebagai penjual, penampung keuangan dan pengendalian keuangan.
Bareskrim, dalam membongkar jaringan Fredy Pratama ini, menyita barang bukti narkoba serta aset tersangka Fredy berupa barang bukti sabu-sabu seberat 10,2 ton, ekstasi sebanyak 116.346 butir, uang tunai miliaran rupiah, serta bangunan dan tanah. Bila dikonversi, nominalnya mencapai Rp10,5 triliun mulai 2020 hingga 2023.















