Momen Wamenhaj Dahnil menggendong Pak Zainal, jemaah haji Indonesia tahun 2025. Kini jemaah tersebut telah meninggal dunia (Foto: Ist)
JAKARTA, (ERAKINI) - Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anjar Simanjuntak mengenang almarhum Zainal, jemaah haji Indonesia pada musim haji 2025 yang sempat ia gendong saat prosesi lempar jumrah. Jemaah tersebut kini telah berpulang.
Ungkapan duka cita disampaikan Dahnil melalui akun Instagram resminya, Rabu (31/12/2025). Dalam unggahannya, Dahnil mengenang momen ketika Zainal kelelahan dan terhenti saat hendak melempar jumrah di Mina.
“Semoga husnul khatimah, Pak Zainal. Saya teringat ketika musim haji tahun 2025 lalu, beliau terhenti ketika ingin melempar jamarat. Saya dan teman-teman bergantian menggendong beliau sepanjang lebih dari 6 kilometer perjalanan,” tulis Dahnil.
Menurut Dahnil, pengalaman tersebut menjadi pengingat penting bahwa petugas haji dituntut memiliki kondisi fisik yang prima dan daya tahan yang kuat. Ia menilai, pelayanan maksimal kepada jemaah tidak akan tercapai tanpa kesiapan fisik petugas di lapangan.
“Ini salah satu pengingat saya bahwa petugas haji harus sehat fisiknya dan kuat tenaganya,” ujar Dahnil.
Dahnil juga menyinggung kebijakan terbaru Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI yang menyiapkan pendidikan dan latihan (diklat) terpadu dengan pendekatan semi-militer bagi calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 1447 Hijriah/2026 M.
Kebijakan tersebut dirancang dalam format pelatihan intensif menyerupai sistem “masuk barak” untuk membentuk karakter, kedisiplinan, serta kesiapan fisik dan mental para petugas haji. Rencana ini dipaparkan oleh Tim Kelompok Kerja (Pokja) Diklat PPIH di bawah Direktorat Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj RI dalam presentasi di hadapan Menteri dan Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Selasa (30/12/2025).
Pelatihan calon PPIH Arab Saudi 2026 melibatkan berbagai unsur lintas sektor, mulai dari TNI, Polri, hingga tenaga kesehatan. Kolaborasi ini ditujukan untuk memperkuat sistem pembinaan petugas agar lebih profesional dan memiliki daya tahan tinggi saat bertugas di lapangan.
Anggota Tim Pokja Diklat PPIH 2026, Letkol Arm Tulus Widodo, menjelaskan bahwa agenda presentasi difokuskan pada pemaparan konsep dan skema pelatihan khusus bagi calon petugas haji.
“Agenda hari ini adalah presentasi di depan Bapak Menteri dan Wakil Menteri Haji dan Umrah RI. Kami menyiapkan pendidikan dan latihan khusus bagi calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji PPIH Arab Saudi 1447 H/2026 M,” kata Tulus.
Ia menambahkan, pelatihan akan menitikberatkan pada pembinaan jasmani (binjas) sebagai faktor utama penunjang pelaksanaan tugas PPIH, dengan kesehatan sebagai aspek paling fundamental.
“Faktor utama dalam mendukung pelaksanaan tugas PPIH adalah kesehatan. Karena itu, kegiatan binjas kami susun secara terprogram dan terarah sesuai arahan Bapak Menteri,” ujarnya.
Tahapan pelatihan meliputi jalan sehat, senam kebugaran, hingga latihan baris-berbaris yang difokuskan untuk membentuk karakter dan disiplin petugas.
“Pelatihan ini bersifat semi-militer. Namun perlu ditegaskan, ini bukan untuk menjadikan petugas sebagai militer, melainkan pendekatan semi-militer guna membentuk karakter, disiplin, dan rasa bangga dalam melaksanakan tugas,” tegas Tulus.
Ia berharap, penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M di bawah Kementerian Haji dan Umrah RI dapat berjalan lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Dengan pelatihan ini, kami bersinergi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan pelayanan maksimal yang dibekali attitude, skill, dan knowledge, sehingga petugas mampu menghadirkan pelayanan dengan senyum, salam, dan sapa atau 3S,” kata dia.
Sementara itu, Direktur Bina Petugas Haji Reguler Kemenhaj RI Chandra Sulistio Reksoprodjo menegaskan bahwa kesiapan fisik menjadi perhatian khusus dalam Diklat PPIH tahun ini.
“Selain mampu menjalankan tugas pokok dan fungsi masing-masing bidang, petugas haji harus memiliki kesiapan fisik yang memadai. Tanpa fisik yang kuat, petugas akan kesulitan menghadapi berbagai persoalan di lapangan,” ujar Chandra.
Menurut Chandra, Diklat PPIH 2026 tidak hanya menekankan aspek fisik, tetapi juga memperkuat pengetahuan, kesiapsiagaan, serta mitigasi risiko yang berpotensi dihadapi petugas selama operasional haji.
“Kami lengkapi petugas dengan pengetahuan tambahan untuk mengantisipasi berbagai kondisi dan situasi di lapangan. Namun yang paling kami tekankan adalah bahwa tugas utama petugas haji adalah melayani jemaah,” katanya.
Ia menegaskan, disiplin yang dibangun melalui diklat tersebut sepenuhnya berorientasi pada pelayanan.
“Disiplin di sini adalah disiplin untuk melayani jemaah haji. Petugas harus benar-benar memahami dan mengingat tujuan utama mereka bertugas, yaitu memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah,” pungkas Chandra.
Melalui konsep diklat “barak” dengan pendekatan semi-militer ini, Kementerian Haji dan Umrah RI menegaskan komitmennya dalam menyiapkan petugas haji yang tangguh secara fisik, matang secara mental, disiplin, serta berfokus penuh pada pelayanan dan perlindungan jemaah.