Profil Ustazah Qotrunnada, Pendakwah Asal Betawi yang Menimba Ilmu hingga Damaskus
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Nama Ustazah Qotrunnada Syathiri bukanlah sosok baru dalam dunia dakwah Indonesia. Sejak mulai terjun penuh pada 2015, pendakwah asal Betawi ini telah menjadi figur sentral di berbagai majelis taklim, televisi nasional, dan platform media sosial.
Sosoknya dikenal luas bukan hanya karena kemampuannya menyampaikan ilmu agama dengan bahasa yang ringan dan komunikatif, tetapi juga karena keistiqamahannya dalam mengisi kajian rutin di berbagai penjuru Indonesia.
Putri dari pasangan Syatiri Ahmad dan almarhumah Ustazah Siti Suryani Thahir ini lahir di Jakarta pada 19 Februari 1981. Latar belakang keluarganya yang kental dengan tradisi dakwah dan pendidikan menjadikan Ustazah Qotrunnada tumbuh dalam suasana yang sarat ilmu.
Dari Sukabumi ke Damaskus
Pendidikan formal Ustazah Qotrunnada dimulai dari TK dan SD Islam Al Azhar Pusat di Jakarta, sebelum kemudian melanjutkan pendidikan Tsanawiyah dan Aliyah Keagamaan di Pondok Pesantren Almasthuriyah, Sukabumi, Jawa Barat.
Hasrat menuntut ilmu membawanya ke Damaskus, Suriah, untuk belajar di Ma’had Abu Noor di bawah bimbingan Syekh Kaftaru. Di sana, ia menekuni studi dakwah Islam pada rentang 1996-1999. Setelah kembali ke Indonesia, ia mendalami ilmu tafsir, hadis, dan dakwah secara nonformal di Akademi Dakwah Assuryaniyah, serta sempat menempuh studi filsafat di Universitas Paramadina.
“Ketika saya kuliah di Damaskus, saya belum membayangkan akan menjadi pendakwah. Saya hanya menjalankan amanah orang tua untuk belajar agama. Baru setelah ibu saya wafat, saya memantapkan diri melanjutkan jalan dakwah beliau,” tuturnya kepada erakini, Rabu (16/7/2025).
Melanjutkan Warisan Dakwah Orang Tua
Wafatnya sang ibu menjadi titik tolak kiprah dakwah Ustazah Qotrunnada. Beliau mulai melanjutkan majelis-majelis taklim yang dahulu dibina ibunya di berbagai wilayah Jabodetabek. Dalam proses itu, ia memperoleh banyak dukungan dari sang ayah, seorang pendidik dan pengajar bahasa Arab dan sastra di IAIN Jakarta.
“Saya memulai dari majelis-majelis ibu saya. Jamaah yang rindu memintanya dilanjutkan, dan saya pun meminta izin kepada suami dan ayah untuk meneruskannya. Sejak itu, saya mulai terbang bebas di dunia dakwah,” kenangnya.
Ustazah Qotrunnada tidak hanya memimpin majelis rutin, tetapi juga mendirikan komunitas kajian baru yang menyasar generasi muda, ibu-ibu muda, hingga remaja putri. Kajian yang semula digelar daring saat pandemi, kini telah berkembang menjadi kajian tatap muka yang tersebar di berbagai kota besar.
Dakwah di Era Digital dan Layar Kaca
Perkembangan dakwah digital juga tak luput dari perhatiannya. Di masa pandemi COVID-19, ia mulai aktif menyapa jamaah melalui siaran langsung di Instagram dan Zoom. Seiring waktu, kiprahnya juga meluas ke televisi nasional. Ia menjadi narasumber di berbagai program keislaman di Trans TV, TVRI dan TV One.
Kini, ia juga dikenal luas melalui media sosial, termasuk YouTube dan Facebook. Salah satu kontennya tentang amalan bulan Muharram sempat viral dan mendapat respons positif dari warganet.
Dakwah Kontekstual, Ceria, dan Membumi
Pendekatan dakwah Ustazah Qotrunnada dikenal khas. Ia menggunakan metode dua arah dan menyisipkan humor agar jamaah tidak jenuh. Topik yang dibahas disesuaikan dengan latar belakang jamaah: dari amalan keseharian, masalah keluarga, hingga kegelisahan remaja.
“Saya ingin mereka tidak hanya mendengarkan, tapi juga merasa didengarkan. Karena itu, saya sesuaikan metode dakwah saya dengan kebutuhan jamaah, tapi tetap harus ada kitab rujukan. Kajian rutin harus pakai kitab,” ujarnya tegas.
Keluarga Pendukung Dakwah
Peran keluarga juga menjadi pilar penting dalam perjalanannya. Ia menikah dengan KH Alwy Rasyid bin KH Abdul Rasyid Abdulla Syafiie.
“Sebelum terjun penuh ke dunia dakwah, saya minta izin dan mendapat dukungan dari suami,” tuturnya.
Anak-anaknya kini juga mengikuti jejak pendidikan agama: satu mondok di Tarim, Yaman, dan satu lagi di Mesir.
“Saya tidak meninggalkan harta, tapi saya ingin meninggalkan ilmu dan akhlak untuk mereka. Karena itu yang akan menjaga mereka di mana pun mereka berada,” tambahnya.
Konsisten Menebar Cahaya
Hingga kini, Ustazah Qotrunnada masih aktif membina berbagai majelis di Jabodetabek dan luar daerah, dari Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Batam dan Kalimantan. Kajian daringnya juga menjangkau jamaah dari luar negeri seperti Australia dan Timur Tengah.
Dakwah baginya bukan hanya soal ceramah, tetapi juga tentang hadir dalam kehidupan jamaah dan menjadi solusi atas persoalan mereka.
“Dakwah saya ingin relevan dengan realita mereka. Maka saya bawa pendekatan yang ringan, menyenangkan, dan mudah dipahami,” katanya.
Dengan warisan keilmuan, semangat pembaruan, dan pendekatan yang membumi, Ustazah Qotrunnada Syathiri menjadi salah satu pendakwah perempuan Betawi yang memberi warna tersendiri dalam khazanah dakwah Indonesia.


















