Profil KH Adib Rofi'uddin Izza, Kiai Sederhana dari Buntet Pesantren
Abdul Rahman Ahdori
CIREBON, (ERAKINI) - KH Adib Rofi'uddin Izza dikenal sebagai sosok ulama kharismatik yang tumbuh dari lingkungan pesantren dengan tradisi keislaman yang kuat. Beliau merupakan putra pertama dari KH Izzuddin bin KH Ahmad Zahid dan Nyai Hj Niyahah binti KH Busyrol Karim.
Dilansir dari berbagai sumber pada Kamis (10/7/2025), Kiai Adib lahir dari keluarga ulama di lingkungan Pesantren Buntet, Cirebon. Dia mewarisi tradisi keilmuan dan spiritualitas yang telah mengakar kuat selama berabad-abad.
Melalui ceramah, kegiatan dakwah, serta partisipasinya dalam berbagai forum nasional, KH Adib terus menghadirkan pencerahan dan semangat keislaman yang menyejukkan bagi masyarakat luas.
Dedikasinya dalam membangun umat melalui pendidikan dan pesantren menjadi kontribusi nyata bagi Islam dan Indonesia. Harapan pun mengiringi agar KH Adib terus berkarya dan menjadi pelita bagi generasi mendatang.
Sang ayah, KH Izzuddin, adalah sosok yang sangat disegani di kalangan ulama pada masanya. Ia dikenal dekat dengan sejumlah tokoh besar seperti KH Kholil Bisri Mustofa, KH Sahal Mahfud, serta KH Maimun Zubair—yang juga menjadi guru bagi KH Adib sendiri.
Tidak hanya itu, rumah keluarga KH Izzuddin pernah menjadi tempat singgah para ulama besar, seperti Syekh Yasin Al-Padani dari Mekkah dan KH Syafi’i Hadzami dari Betawi. Kedatangan para tokoh ini menjadi penanda kedudukan penting keluarga besar KH Adib dalam jaringan ulama Nusantara.
Adapun Pesantren Buntet, tempat keluarga KH Adib bermukim dan mengabdi, merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa Barat. Berdiri sejak masa KH Muqoyyim, yang menjalani tirakat puasa selama 12 tahun sebelum mendirikan pesantren, Buntet telah menjadi pusat penyebaran Islam sekaligus lumbung cerita spiritual masyarakat.
Beragam kisah karomah—atau keajaiban para kiai—masih hidup di tengah masyarakat, seperti cerita tentang KH Anwaruddin Krian yang dikisahkan berhaji dengan menunggang ikan cucut, serta kisah KH Busyrol Karim yang dikabarkan pernah "hidup kembali" di Sumatra usai wafat di Cirebon.
Tradisi-tradisi ini membentuk fondasi spiritual dan kultural yang kuat bagi KH Adib, sekaligus mempertegas identitasnya sebagai penerus ulama besar Buntet.


















