JAKARTA, (ERAKINI) - Nama KH Zuhrul Anam Hisyam mencuat ke publik setelah bersama KH Muhibbul Aman Aly menyatakan bahwa penggunaan "sound horeg" atau pengeras suara berlebihan dalam kegiatan keagamaan tergolong haram mutlak.
Pernyataan ini disampaikan dalam forum Bahtsul Masail Pesantren se-Jawa dan Madura, dan menuai beragam respons dari masyarakat.
Dilansir dari berbagai sumber pada Senin (14/7/2025), KH Zuhrul Anam Hisyam dikenal sebagai salah satu ulama terkemuka yang memiliki kedekatan dengan KH Maimoen Zubair, ulama kharismatik asal , .
Dengan keteguhan dalam menjaga nilai-nilai keilmuan dan spiritualitas, KH Zuhrul Anam Hisyam menjadi sosok ulama yang tidak hanya disegani di lingkungan pesantren, tetapi juga memiliki pengaruh luas dalam kehidupan keagamaan masyarakat.
Pandangan kritisnya terhadap "sound horeg" mencerminkan sikap tegas dalam menjaga adab dan ketenangan dalam beribadah.
Tidak hanya sebagai murid, KH Zuhrul Anam juga merupakan menantu dari KH Maimoen Zubair. Dalam pengabdiannya di dunia pendidikan Islam, beliau mendirikan pesantren At-Taujih dan lembaga pendidikan tinggi bernama Ma’had Aly Andalusia.
Jejak keilmuannya dibentuk dari banyak guru besar, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antara para gurunya adalah sang ayah, As Syaikh Hisyam Zuhdi, dan mertuanya sendiri, KH Maimoen Zubair.
Beliau juga menimba ilmu dari ulama besar dunia seperti Prof. Dr. Ahmad Muhammad Nur Saif Hilal (Dubai), Prof. Dr. Muhammad Alawi Al Maliky (Arab Saudi), hingga Syekh Ismail Zain Al-Yamani (Yaman).
Melalui Yayasan Al-Anwar Al-Hisyamiyah, KH Zuhrul Anam membina sejumlah lembaga pendidikan di wilayah Kebasen, Jawa Tengah. Lembaga-lembaga tersebut mencakup SMP, SMA, Madrasah Diniyah, hingga Ma’had Aly dan Pendidikan Diniyah Formal. Selain itu, beliau juga mengelola BLK Komunitas (BLKK) untuk pemberdayaan masyarakat.
Aktivitas dakwah KH Zuhrul Anam tidak hanya terbatas di lingkungan pondok. Beliau dikenal aktif mengisi pengajian rutin atau selapanan di wilayah Banyumas, Cilacap, Kebumen, dan sekitarnya. Kegiatan ini dijalankan secara istiqamah sebagai bentuk pengabdian kepada umat, sekaligus memperkuat tradisi keilmuan pesantren di masyarakat.
Meskipun memiliki jadwal yang padat di luar pesantren, KH Zuhrul Anam tetap menjaga kedekatan dengan para santri. Ia dikenal tidak mengenal istilah libur dalam kegiatan ngaos (belajar mengaji), bahkan tetap mengajar secara daring saat berada di luar pondok. Hal ini menjadi bukti konsistensinya dalam mentransfer ilmu kepada generasi muda.
Selain dikenal sebagai ahli fiqih, KH Zuhrul Anam juga merupakan mursyid thoriqoh Naqsyabandiyah, sebuah jalan spiritual dalam tradisi tasawuf. Thoriqoh ini diwarisi langsung dari KH Maimoen Zubair dan dijalankan dengan penuh kedalaman ruhani. Ribuan jamaah telah menyatakan bai’at kepadanya, menunjukkan kuatnya kepercayaan terhadap bimbingan spiritual beliau.
Ajaran sufisme yang beliau ajarkan menekankan pentingnya kedekatan spiritual melalui dzikir, wirid, dan penguatan jiwa santri. Salah satu tradisi yang dijaga adalah pembacaan wirid bersama selepas subuh hingga waktu isyraq. Melalui kegiatan ini, beliau menanamkan nilai kebersamaan dan spiritualitas kepada seluruh santri.
KH Zuhrul Anam juga menghidupkan tradisi shuhbah ash-sholihin atau membersamai orang-orang shalih sebagai bentuk pembentukan karakter ruhani. Melalui pendekatan ini, beliau membentuk kepribadian santri yang tidak hanya kuat secara ilmu, tetapi juga matang secara spiritual dan etika.