Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh pers. Jurnalis senior Indonesia yang sangat berpengaruh, Fikri Jufri, meninggal dunia pada Kamis (6/3/2025) dalam usia 88 tahun. Foto: Ist
dan pernah menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi. Fikri Jufri yang lahir pada 25 Maret 1936 mengabdikan hidupnya untuk dunia jurnalistik. Kepiawaiannya dalam mewawancarai narasumber, melobi berbagai pihak, dan mendapatkan informasi eksklusif menjadikannya wartawan yang sangat dihormati dan disegani di kalangan rekan sejawat.
Selama puluhan tahun berkarier, Fikri Jufri telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan. Keahliannya dalam menggali informasi dan menyajikannya dengan akurat dan berimbang menjadikannya panutan bagi banyak wartawan muda. Ia juga dikenal karena integritas dan komitmennya terhadap prinsip-prinsip jurnalistik yang baik.
Fikri, yang sering dipanggil FJ, memulai karier kewartawanannya pada masa Orde Baru. Sejak masa-masa awal kebangkitan Orde Baru, FJ sudah dikenal sebagai wartawan yang aktif dalam gerakan untuk membendung sepak terjang kelompok komunis. Sejak berusia belasan tahun anak tunggal ini sudah biasa diajak mendengarkan diskusi-diskusi politik oleh ayahnya yang merupakan seorang nasionalis.
Selain menjadi wartawan ulung, Fikri Jufri juga seorang penulis. Pada ulang tahunnya yang ke-81, tepatnya pada 2017, ia menerbitkan otobiografinya berjudul Saya Al Jufri Bukan Al Capone, yang mengisahkan perjalanan hidupnya serta pengalaman-pengalamannya dalam dunia jurnalistik.
Pengabdiannya yang luar biasa di dunia jurnalistik juga diakui melalui berbagai penghargaan. Pada Hari Pers Nasional 2018, Fikri menerima penghargaan Pengabdian Seumur Hidup di Bidang Jurnalistik, bersama dua tokoh lainnya, Harjoko Trisnadi dan Bernard Soedarmara. Penghargaan ini merupakan bukti nyata atas dedikasinya yang tak tergoyahkan selama bertahun-tahun.
Kiprahnya dalam dunia pers Indonesia tidak hanya terbatas pada posisi sebagai wartawan dan pemimpin redaksi, tetapi juga sebagai mentor bagi banyak wartawan muda. Banyak di antaranya yang mengaku terinspirasi oleh Fikri dalam mengembangkan kemampuan dan menjaga etika jurnalistik yang baik.
Fikri sempat menuntut ilmu di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, di mana ia mengagumi pemikiran-pemikiran Sumitro Djojohadikusumo. Dalam pandangannya, jurnalisme adalah tujuan hidup, bukan hanya batu loncatan menuju profesi lain.
Pada 1971, Fikri menikah dengan Anisa dan mereka dikaruniai tiga anak. Meskipun sangat sibuk dengan pekerjaannya, Fikri selalu menyisihkan waktu di hari Minggu untuk berkumpul bersama keluarga, kecuali jika ada tugas penting yang mendesak.