Pelantikan pejabat negara umumnya dilakukan di aula gedung dengan setelan resmi berupa jas dan celana panjang. Namun, di Kemenhaj, pejabat dilantik di masjid dan kenakan sarung. Foto: Dok Kemenhaj
JAKARTA, (ERAKINI) –Kementerian Haji dan Umrah pada Rabu (26/11) dan hari ini (28/11), melantik pejabat di tingkat pusat dan kantor wilayah. Namun, ada yang unik dalam prosesi pelantikan tersebut, yakni para pejabat dilantik di masjid dan kompak mengenakan sarung.
Pelantikan pejabat negara umumnya dilakukan di aula gedung dengan setelan resmi berupa jas dan celana panjang. Lantas, apa filosofi di balik pelantikan di masjid dan sarung yang dikenakan pejabat Kemenhaj?
Pada Rabu lalu, Menteri Haji dan Umrah Mochammad Irfan Yusuf (Gus Irfan) melantik pejabat struktural di Masjid Al-Ikhlas, Kementerian Haji dan Umrah RI, Thamrin, Jakarta Pusat.
Gus Irfan menegaskan bahwa pelantikan ini adalah momentum penting bagi percepatan perubahan tata kelola haji dan umrah di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa prosesi yang dilaksanakan di masjid bukan hanya simbolis, tetapi penegasan nilai pelayanan.
“Pelantikan pejabat di masjid ini benar-benar penuh keberkahan. Ini menggambarkan kesiapan kita menjadi pelayan tamu-tamu Allah. Semoga amanah ini membawa kita pada pengabdian terbaik,” ujar Menteri Irfan Yusuf.
Hari ini giliran Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak melantik ratusan pejabat kantor wilayah (kanwil) provinsi dan kabupaten/kota. Prosesi pelantikan juga berlangsung di tempat yang sama, yakni Masjid Al-Ikhlas. Sema seperti sebelumnya, pejabat yang dilantik juga kompak mengenakan sarung.
Sarungan kini memang sudah menjadi tradisi unik di kementerian baru tersebut. Setiap hari Kamis, seluruh pejabat dan pegawai wajib mengenakan sarung. Namun, sarung itu bukan sarung biasa, melainkan seragam khusus yang dinamakan PSL (Pakaian Sarung Lengkap).
Berbeda dengan sarung pada umumnya, PSL ala Kementerian Haji dan Umrah memiliki makna dan filosofi tersendiri. Dahnil kerap membagikan video dirinya mengenakan setelan PSL saat rapat bersama jajaran pejabat Kemenhaj.
Dahnil menjelaskan bahwa seragam baru ini bukan sekadar gaya simbolik, melainkan memiliki nilai historis dan ideologis yang kuat. Menurut Dahnil, inspirasi PSL berasal dari gaya berpakaian para tokoh kemerdekaan Indonesia pada masa penjajahan. Para pendiri bangsa mengenakan pakaian semacam ini sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme sekaligus sebagai identitas keislaman.
“Dulu para Bapak Bangsa kita di era perjuangan melawan kolonialisme menggunakan pakaian seperti ini sebagai simbol perlawanan, khususnya para Bapak Bangsa kita, para haji. Seperti HOS Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, Haji Samanhudi, Haji Ahmad Dahlan, Haji Hasyim Asy’ari, dan lainnya,” ujar Dahnil dalam video yang dibagikannya, dikutip Jumat (28/11/2025).
Pakaian tersebut, kata Dahnil, merepresentasikan semangat perjuangan, kesederhanaan, serta kehormatan kaum santri dan ulama yang berperan besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Dahnil juga membeberkan makna mendalam di balik pilihan busana tersebut. Baginya, setelan yang digunakan para tokoh kemerdekaan bukan hanya gaya berpakaian, tetapi juga simbol identitas budaya dan spiritual bangsa.
Sarung, peci, dan jas merupakan representasi harmoni antara nilai keislaman, nasionalisme, serta kepribadian bangsa Indonesia. Dengan menghidupkan kembali gaya berpakaian itu di lingkungan Kementerian Haji dan Umrah, Dahnil berharap muncul semangat baru untuk bekerja dengan keteladanan dan semangat kebangsaan sebagaimana para pendahulu.