Sejarah Lahir PMII, 13 Tokoh Pendiri dan Ketua Umum dari Masa ke Masa
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Organisasi kemahasiswaan terbesar di Indonesia, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merayakan Hari Lahir (Harlah) nya yang ke-65 tahun pada Kamis (17/4/2025) hari ini. PMII dibentuk di Surabaya, Jawa Timur pada 17 April 1960.
Sebagai organisasi kader yang telah melahirkan banyak tokoh dan pemimpin bangsa, PMII memiliki sejarah panjang yang berakar dari keinginan mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) untuk memiliki wadah tersendiri dalam menyalurkan aspirasi dan perjuangan mereka.
Dilansir dari Ensiklopedia NU, cikal bakal PMII bermula dari Kongres ke-3 Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) yang diselenggarakan pada 27–31 Desember 1958 silam. Pada Kongres itu, muncul gagasan membentuk Departemen Perguruan Tinggi IPNU sebagai respons atas meningkatnya jumlah mahasiswa yang tergabung dalam IPNU.
Keputusan penting kemudian diambil dalam Konferensi Besar IPNU yang berlangsung pada 14–16 Maret 1960 di Kaliurang, Yogyakarta. Dalam forum tersebut, disepakati perlunya pembentukan organisasi mahasiswa NU yang berdiri secara terpisah dari IPNU dan IPPNU.
Sebelumnya, sejumlah organisasi lokal seperti Ikatan Mahasiwa Nahdlatul Ulama (IMANU/Jakarta), Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU/Surakarta), dan Pergerakan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (PMNU) sudah lebih dulu hadir. Tetapi, organisasi tersebut belum mampu mewujudkan wadah nasional yang terstruktur dan terorganisir.
Singkat cerita, upaya mengintegrasikan mahasiswa NU dalam satu struktur bersama pelajar dinilai kurang berhasil, mengingat perbedaan kebutuhan dan dinamika antara pelajar dan mahasiswa. Demikian pula dengan Departemen Perguruan Tinggi IPNU yang akhirnya tidak diakui oleh Persatuan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), sehingga ruang geraknya terbatas.
Tak hanya dipengaruhi oleh faktor internal seperti telah diuraikan di atas, kondisi eksternal juga mendorong pembentukan PMII. Tidak terkecuali dominasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang dekat dengan Masyumi serta dinamika politik nasional yang dipengaruhi oleh keterlibatan tokoh-tokoh HMI dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). PRRI merupakan gerakan oposisi pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat yang berlangsung sekitar tahun 1950-an.


















