Wakil Sekretaris Jenderal PB IKA PMII, Insan Purnama saat menjadi narasumber diskusi bertajuk Penguatan dan Pengembangan Moderasi Beragama Berbasis Pendidikan Karakter di Hotel Le Dian, Kota Serang, Banten, Jumat (26/12/2025). (Foto: IKA PMII)
SERANG, (ERAKINI) - Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan kunci penting untuk menangkal berkembangnya paham ekstremisme dan liberalisme, terutama di tengah derasnya arus informasi di media sosial.
Wakil Sekretaris Jenderal PB IKA PMII, Insan Purnama, mengatakan bahwa moderasi beragama yang diprakarsai Kementerian Agama (Kemenag) RI efektif sebagai penangkal ideologi ekstrem karena menempatkan agama sebagai sumber inspirasi, bukan sebagai alat aspirasi politik atau kepentingan tertentu.
“Kita harus mampu memosisikan agama sebagai sumber inspirasi dalam beragama, bukan sebagai aspirasi perbincangan yang justru bisa menjerumuskan. Moderasi adalah kunci agar kita tidak terjebak dalam kultur ekstremisme maupun liberalisme,” ujar Insan saat menjadi narasumber dalam kegiatan Program Pemberdayaan Lembaga Mitra Bidang Pendidikan bertajuk Penguatan dan Pengembangan Moderasi Beragama Berbasis Pendidikan Karakter di Hotel Le Dian, Kota Serang, Banten, Jumat (26/12/2025).
Insan menjelaskan, pada periode tertentu ruang digital di Indonesia sempat dibanjiri narasi intoleransi. Menurut dia, moderasi beragama tidak cukup dipahami sebatas wacana, melainkan harus diinternalisasi sebagai kemampuan memahami esensi kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kita memiliki komitmen terhadap empat konsensus kebangsaan. Karena itu, generasi muda perlu diedukasi agar memiliki imunitas terhadap ideologi yang bertentangan dengan kesepakatan bersama,” tuturnya.
Alumnus Pascasarjana Universitas Indonesia ini menjelaskan, PB IKA PMII berkomitmen untuk terus bersinergi dengan berbagai lembaga dalam memperkuat nilai-nilai Pancasila dan moderasi beragama melalui berbagai program berkelanjutan di sejumlah daerah.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Harmoni Bumi Pancasila, Dr Ali Muhtarom, menekankan pentingnya character building bagi sivitas akademika, khususnya mahasiswa dan aktivis.
Menurut Wakil Rektor UIN Banten ini, pembangunan karakter harus berjalan seimbang dengan pola pikir moderat dan penguatan nilai-nilai positif yang mengakar kuat, bukan bersifat imitasi atau manipulatif.
“Karakter itu identik dengan internalisasi nilai yang positif dan mengakar. Dalam era disrupsi informasi saat ini, moderasi beragama juga harus tercermin dalam sikap, pola pikir, dan perilaku yang seimbang serta berbasis data yang valid,” ujarnya.
Dr Ali mengingatkan agar setiap gerakan advokasi atau aksi sosial yang dilakukan generasi muda dibangun atas dasar data yang dapat dipertanggungjawabkan, mengingat maraknya informasi yang belum terverifikasi di media saat ini.
Kegiatan diskusi bertema Penguatan dan Pengembangan Moderasi Beragama Berbasis Pendidikan Karakter tersebut terselenggara atas kerja sama PB IKA PMII, Yayasan Harmoni Bumi Pancasila dengan Direktorat Jenderal Pendidikan IslamKemenag RI.
Sejumlah narasumber hadir dalam kegiatan itu, di antaranya Kepala Pusat Rumah Moderasi Beragama (RMB) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Salim Rosyadi, Sekretaris Yayasan Harmoni Bumi Pancasila Tsabit Latief, serta Insan Purnama selaku Wakil Sekretaris Jenderal PB IKA PMII.