BNPB mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Utara (Sumut), bertambah menjadi 166 jiwa. Foto: Ilustrasi/Dok BNPB
JAKARTA, (ERAKINI) – BNPB mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat bencanabanjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Utara (Sumut), bertambah menjadi 166 jiwa. Sementara itu sebanyak 143 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan, penambahan jumlah korban terjadi seiring intensifnya operasi pencarian dan pertolongan (SAR) oleh tim gabungan yang dipimpin Basarnas sejak penetapan status tanggap darurat pekan ini.
“Dalam satu hari ini bertambah 60 korban jiwa berkat operasi pencarian tim gabungan,” ujar Suharyanto dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (30/11/2025).
BNPB menyebut dampak terbesar tercatat di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga. Selain korban jiwa, pengungsi juga dilaporkan mencapai ribuan kepala keluarga, tersebar di Tapanuli Selatan, Sibolga, Mandailing Natal, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan.
“Proses pendataan masih berlangsung beriringan dengan operasi SAR yang terus berjalan 24 jam,” kata dia.
Suharyanto juga menyampaikan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pembukaan akses wilayah terisolasi, dan percepatan distribusi logistik terus diintensifkan.
BNPB menempatkan lima helikopter perbantuan di Bandara Silangit untuk memaksimalkan distribusi bantuan ke Tapanuli Tengah, Mandailing Natal, dan wilayah lain yang sulit ditembus. Helikopter TNI AD Bell 412EPI, MI-17V5, helikopter swasta, serta pesawat Cessna Caravan turut dioperasikan.
BNPB sudah mengerahkan alat berat dan armada udara, namun karena material longsor menutup banyak titik sehingga upaya pembukaan akses membutuhkan waktu dan sumber daya yang besar. “Untuk akses transportasi Sibolga-Padang Sidempuan sudah kami kerjakan pembukaannya hingga sore hari ini dan seterusnya,” kata Suharyanto.
Selain jalur utama, beberapa jembatan di Sibolga dan Tapanuli Tengah juga terputus, termasuk Jembatan Pandan dan jembatan pada ruas Sibolga-Manduamas. Sejumlah jalur kabupaten belum dapat dilalui karena kondisi medan berat dan cuaca yang masih berubah-ubah.
Di Mandailing Natal, sedikitnya tujuh wilayah masih terisolir. Beberapa desa bahkan hanya dapat dijangkau menggunakan helikopter atau setelah alat berat berhasil membersihkan material longsor.
Untuk mempercepat distribusi logistik dan pembukaan akses, BNPB mengerahkan lima helikopter perbantuan di Bandara Silangit, Tapamuli Tengah. Helikopter BNPB, heli TNI AD Bell 412EPI, MI-17V5 dan helikopter swasta bergerak mendistribusikan bantuan ke titik-titik pengungsian.
Pesawat Cessna Caravan juga dimanfaatkan untuk mengirimkan logistik dan personel ke wilayah yang masih bisa dijangkau udara. “Sibolga sebenarnya sudah dapat kami jangkau lewat udara untuk distribusi logistik, meskipun jalur darat belum tembus,” kata Suharyanto.
Operasi SAR 24 Jam
Suharyanto sebelumnya sudah menginstruksikan agar operasi SAR di wilayah terdampak banjir dan tanah longsor dilakukan selama 24 jam. Operasi SAR dipimpin Basarnas dengan dukungan TNI, Polri, dan relawan dengan fokus utama pencarian berada di Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan, yang masih melaporkan adanya warga hilang.
Operasi SAR berjalan paralel dengan percepatan pendistribusian logistik bagi warga terdampak. BNPB memastikan seluruh dukungan logistik, peralatan, serta kebutuhan permakanan terus dikirimkan melalui berbagai moda, baik darat, laut maupun udara, mengikuti kondisi lapangan yang masih dinamis.
"Prioritas utama tetap pada keselamatan warga dan percepatan pemulihan daerah terdampak," kata Suharyanto.