Kolonel Pnb Mohammad Sugiyanto sukses menjalani uji terbang perdana sebagai front seater (kursi depan) pada prototype pesawat tempur generasi 4,5 KF-21 Boramae, Selasa (30/9/2025), di Sacheon, Korea Selatan. Foto: Dok TNI AU
Kerja sama pertahanan Indonesia–Korea Selatan baru saja mencatat tonggak penting. Kolonel Sugiyanto, pilot uji TNI Angkatan Udara (AU) dengan callsign “Mammoth”, sukses menjalani uji sebagai (kursi depan) pada prototype generasi 4,5 , Selasa (30/9/2025), di Sacheon, Korea Selatan.
TNI AU dalam keterangan persnya, Kamis (2/10/2025) menyebutkan, dalam misi berdurasi satu jam, Mammoth melaksanakan pengujian performa serta aspek Stability & Control pada ketinggian 10.000 hingga 20.000 kaki, didampingi pilot uji Korea Aerospace Industries (KAI) Koh Hwi Seok.
Keberhasilan Kolonel Sugiyanto duduk di kursi depan semakin mempertegas peran aktif Indonesia dalam program pengembangan pesawat tempur bersama tersebut. Keterlibatan penerbang TNI AU dalam fase uji terbang menjadi bagian dari implementasi kerja sama Indonesia-Korea Selatan dalam proyek KF-21/IF-X.
Selain itu, kegiatan ini juga mencakup upaya transfer teknologi serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pertahanan. Kesuksesan program pesawat tempur masa depan kedua negara diharapkan dapat memperkuat kemandirian teknologi pertahanan, sekaligus meningkatkan profesionalisme dalam membangun TNI AU AMPUH (Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, dan Humanis).
Jet Tempur Canggih KF-21 Boramae merupakan jet tempur hasil pengembangan bersama Korea Selatan dan Indonesia. Pesawat ini dijuluki “Baby Raptor” karena desainnya mirip dengan F-22 Raptor milik Angkatan Bersenjata Amerika Serikat. Program ambisius ini digarap oleh Korea Aerospace Industries (KAI).
Proyek pengembangan KF-21 menelan anggaran sekitar 8,8 triliun won atau USD 6,77 miliar (sekitar Rp101,55 triliun). Pada tahap awal, enam unit prototipe mulai dikerjakan sejak 2020 dan ditargetkan rampung menjelang 2026. Indonesia dijadwalkan mulai menerima unit perdana setelah 2028.
KF-21 dirancang sebagai jet tempur multirole. Selain mampu bertempur di udara (dogfight), pesawat ini juga berfungsi sebagai penyusup (intercept) dan pengebom (bomber).
KAI telah menyiapkan roadmap pengembangan lanjutan dari KF-21/IF-21, mulai dari Blok I hingga Blok III. Blok II akan dibekali kemampuan lebih canggih dengan standar generasi kelima, sementara Blok III ditargetkan masuk kategori jet tempur masa depan generasi keenam.
Secara persenjataan, KF-21 mampu membawa rudal udara-ke-udara MBDA Meteor, AIM-120 AMRAAM, AIM-9X Sidewinder, serta rudal udara-ke-darat Taurus. Pesawat ini juga bisa dipersenjatai rudal antikapal dan kapal selam Harpoon, ditambah sistem amunisi berpemandu elektronik modern.
Prestasi Ciamik
Keberhasilan Sugiyanto duduk di kursi depan jet tempur canggih itu tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi SMA Taruna Nusantara. Kolonel Sugiyanto diketahui merupakan alumniSMA Taruna Nusantara tahun 1997 (TN 5). Setelah itu Sugiyanto melanjutkan pendidikan ke Akademi Angkatan Udara (AAU) dan lulus tahun 2000, dan Sekbang LX.
Kolonel Sugiyanto merupakan pilot kebanggaan TNI AU yang memiliki prestasi ciamik. Tepatnya pada 16 Mei 2023, Kolonel Sugiyanto mencatat sejarah sebagai pilot mancanegara pertama yang terbang di kursi belakang KF-21.
Sugiyanto kala itu sukses melakukan penerbangan prototipe Nomor 4 pesawat tempurKF-21 Boramae. Peristiwa ini menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya penerbang TNI AU menerbangkan Boramae.
Sugiyanto juga tercatat sebagai penerbang pesawat tempur Hawk 100/200 di Skadron Udara 1 Lanud Supadio, Pontianak. Kolonel Sugiyanto tercatat telah mengantongi lebih dari 3.000 jam terbang.
Dalam kariernya, Sugiyanto telah menduduki sejumlah posisi penting di TNI AU. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Komandan Skadron Pendidikan (Skadik) 104 Wing Pendidikan Terbang di Lanud Adisutjipto, Yogyakarta.
Kemudian sebagai Pabandyaduklat Paban IV/Dukopslat Sopsau di Mabesau Jakarta. Selanjutnya menjadi Komandan Pangkalan TNI AU Wiriadinata Tasikmalaya (2022), sebelum akhirnya bertugas di Skadron Udara 1 Lanud Supadio, Pontianak (2023).