Korban berinisial F yang diduga dikeroyok oleh oknum mahasiswa dari organisasi Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS) di Mesir. (Foto: istimewa)
JAKARTA, (ERAKINI) – Beredar viral sebuah data kekerasan yang diduga dilakukan oknum mahasiswa dari organisasi Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS) di Mesir. Redaksi Erakini, Senin (24/7/2023) siang menerima data rekap sekaligus kronologi lengkap kekerasan yang diduga dilakukan oleh oknum organisasi kekeluargaan asal Sulawesi di tesebut.
Berikut data dan kronologi lengkap kasus pengeroyokan tersebut,
1. Kasus pertama, korban berinisial F (19). Kejadian berawal dari imbas tensi tinggi yang terjadi di dalam lapangan futsal. Pertandingan futsal antara tim korban dengan tim kekeluargaan Sulawesi berjalan dengan sengit dan panas. Kedua tim merupakan tim yang diunggulkan dalam turnamen Cordoba Cup tersebut.
Lalu, suporter kekeluargaan Sulawesi merasa terprovokasi dengan gestur wajah yang dilakukan korban di dalam lapangan.
“Sudah sewajarnya ketika pertandingan panas pasti ada provokasi dari kedua belah pihak pemain guna melemahkan mental lawan, dan tidak sepatutnya supporter yang terprovokosi,” tulis dalam isi rekap data tersebut.
Singkatnya, pertandingan pun selesai dengan hasil seri. Anggota keamanan pertandingan memperingatkan korban bahwa ada indikasi penyerangan oleh superter terhadapnya. Lalu korban dikawal dari dalam lapangan futsal. Tepat di depan gerbang lapangan, apa yang telah direncanakan pun terjadi.
Beberapa supporter lari dari dalam lapangan lalu menendang korban dari belakang. Korban pun tersungkur di atas aspal, kepalanya diinjak, lalu dipukuli. Selang beberapa menit kemudian, anggota keamaan lapangan membubarkan masa dan korban langsung dibawa ke sekretariat kekeluargaan Jawa tengah.
2. Kasus kedua, kroban berinisial MA (22). Kejadian bermula ketika salah satu teman dekat MA mengunggah story Instagram dalam akun pribadinya. Ia berbicara tentang ketidakpuasannya atas keputusan yang disahkan oleh kedua belah pihak secara kekeluargaan tentang permasalahan awal yang telah terjadi.
Kemudian MA mengomentari unggahan sory tersebut atas dasar kepedulian terhadap korbanpengeroyokan yang di mana korban adalah teman dekat MA.
Diluar praduga, komentar yang MA sampaikan di-screenshot dan diunggah kembali melalui story instagram menyebabkan kegaduhan. Dan sampai timbul terjadinya pengeroyokan terhadap MA dan beberapa teman MA.
Singkatnya pada Rabu (12/7/2023) sekitar pukul 21.45, CLT bertempat dikediaman MA. Datang sekitar 15 orang oknum anggota dari Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS) Mesir. Mereka mengonfirmasi kebenaran komentar MA pada postingan story Instagram teman MA, yang kemungkinan telah disadap oleh pihak pelaku.
“Selang berapa waktu gerombolan mereka langsung menghajar saya dengan jiwa premanismenya tanpa ada sedikitpun rasa manusiawi dari mereka terhadap saya,” tulis MA dalam rekap data yang Erakini terima.
“Saya dihantam habis-habisan selama kurang lebih 1 Jam lamanya, tidak ada dari mereka yang tidak terlibat dalam pengeroyokan ini,” lanjutnya.
MA kemudian mengalami luka pukulan dan tendangan pada bagian kepala, hidung, kedua mata (hingga pendarahan dalam), telinga bagian kanan, tangan kiri dan kanan dan badan bagian atas.
Mereka juga mengancam dan menanyakan asal kekeluargaan MA dan merendahkan budaya daerah asal MA (Banten) yaitu Debus. Kemudian mereka merampas HP MA lalu membuka privasi chat pada WhatsApp MA serta dan memaksa MA untuk menunjukan akun email pribadi dengan mengancam gerak gerik MA dalam sosial media akan dilacak.
“Tak hanya luka fisik yang saya rasakan, namun, trauma mental yang juga saya rasakan hingga takut bersosial media dan berkegiatan di luar rumah,” ujar MA.
3. Kasus ketiga terjadi pada korban yang sama dengan kasus pertama yaitu F (19). Kronologi kejadian ini dari penuturan saksi yang tinggal serumah dengan F. Pada Rabu (12/7/2023) sekitar pukul 22.45 waktu setempat, rumah yang ditinggali oleh F dan saksi di jalan al Mansoriyah Imaroh 4B flat 2 itu didatangi seseorang yang awalnya menanyakan dengan baik-baik apakah rumah tersebut benar rumah F atau bukan.
“Setelah saya mengiyakan, saya mencoba melebarkan pintu. Terlihat banyak sekali orang yang sudah berdiri di depan rumah. Di saat itu saya baru menyadari F sedang diincar. Dan ketika saya sudah membuka cela pintu sudah sangat mustahil saya mengelak,” kata saksi.
Karena posisi rumah tersebut di lantai satu dan jendela yang tidak cukup kuat membuat saksi berpikir cepat jika malah terjadi pembobolan paksa, sehingga saksi mencoba koperatif untuk mengajak mereka dialog di kamar terdekat dengan pintu (sebelah kanan pintu) dan terdekat dari luar dengan harapan suaranya terdengar keluar juga.
“Namun ketika saya mengajak satu atau dua orang untuk bicara baik baik, orang-orang yang lain melayangkan pukulan dan tendangan ke F,” kata saksi.
Di awal kejadian, mungkin pelaku hanya sejumlah 10-15 orang. Lalu untuk kisaran waktu 10-15 menit teman F berusaha melerai dan menanyakan baik baik seraya memastikan F aman di belakang tubuhnya (posisi di pojok kamar bagian kiri).
“Walaupun begitu, F masih banyak sekali terkena pukulan dan tendangan ketika saya lengah ataupun ditarik ke sana sini,” katanya.
Namun setelah 10-15 menit awal tersebut, salah satu anggota rumah saksi yang lainnya lagi, berinisial G, berteriak minta tolong karena berusaha melapor ke temannya.
“Di saat itu saya reflek memastikan dan melihat anak tersebut aman tidak ikut campur. Saya berteriak ke angota rumah saya itu ‘Nggak usah ikut campur G! " dan ke mereka (gerombolan) saya teriaki juga ‘Jangan sentuh dua anak rumah saya yang tidak tau apa apa’,” katanya. Namun G terkena pukulan 4 sampai 5 kali dibagian kepala.
Di sela-sela itu, F justru menjadi bulan bulanan mereka. “Ketika saya berusaha masuk ke kamar lagi saya dihalangi 3 sampai 4 orang yang berada di pintu kamar,” ungkapnya.
F dipukul secara membabi buta di bagian kepala lalu jartuh ke lantai. F juga diinjak-injak memakai sepatu dan lengan kirinya dicecek putung rokok.
Sekitar pukul 23.00 hingga 10 menit kemudian saksi hanya bisa meringis dan berusaha melerai dari pintu kamar dengan berucap "Sudahlah, sudah bonyok dia, mau cari apa lagi?" ucapnya. Di saat itu juga gerombolan mereka bertambah sekitar 10 orang.
Ketika kondisi sudah tidak kondusif, kamar yang ukurannya sekitar 4,5 × 3 meter dipenuhi sekitar 20 orang yang mengeroyok F. Saksi hanya ingin kejadian itu cepat selesai dengan cara merangsak masuk menanyakan mau mereka apa.
“Ternyata mereka sedang interogasi serta melacak jejak digital antara F dan Y,” katanya. Saat itu sudah tidak ada lagi pemukulan maupun kontak fisik lainnya.
Untuk meyakinkan mereka, saksi membentak Farhan untuk menanyakan keberadaan Y. Di saat itu saksi mendapat ruang dari mereka dan bisa berada di hadapan F untuk memastikan keadaan F tidak lebih parah lagi.
“Kejadian introgasi berlanjut sampai sekitar pukul 23.45. Sampai F dipaksa menghubungi Y lewat WA untuk menanyakan keberadaanya,” katanya. Namun saat itu dijawab berada di luar jangkauan. Y sudah menyadari bahwa dia jadi incaran.
“Ketika meraka sudah tidak mendapatkan apa-apa dari F dan sudah melampiaskan amarahnya, mereka mulai meninggalkan rumah kami pukul 00.00,” jelas saksi.
4. Kasus keempat, penyerbuan Sekretariat Jawa Tengah dan DIY. Pada Rabu 12 Juli 2023, tepat pukul 23.00 waktu Cairo. Ada kabar bahwa terdapat segerombolan yang diduga mahasiswa asal Sulawesi berkumpul di sekitar Rumah Sakit Husein Darrasah.
Himbauan masuk dari Dewan Keamanan dan Ketertiban Mahasiswa (DKKM ) untuk bersiap bahwa rombongan tersebut mencari beberapa anggota KSW (Kelompok Studi Walisongo) yang dinilai melakukan provokasi terhadap lembaga mereka.
Sekitar pukul 01.00 dini hari, rombongan telah sampai di sekretariat KSW dengan membagi titik kumpul mereka di berbagai tempat sekitar KSW. Beberapa kelompok berkumpul di depan sekretariat, sebagian yang lain tersebar di beberapa titik seberang KSW.
Memasuki pukul 01.30, tiga perwakilan dari mereka masuk ke Sekretariat KSW dengan dalih ingin berunding perihal provokasi yang dilakukan anggota KSW.
“Kami sambut niat baik yang mereka utarakan dengan tidak melakukan tindakan perlindungan terhadap Sekretariat KSW, walaupun kami mengetahui berpuluh-puluh orang telah bersiap masuk menerobos KSW,” tulis dalam rekap yang diterima redaksi Erakini.
Pembicaraan kedua belah pihak berjalan damai hanya sampai ketika beberapa orang di luar memaksa masuk dengan alasan perundingan terlalu lama. Mereka mengecam dengan serbuan orang-orang di luar ke dalam Sekretariat KSW, jika pihak KSW tidak melakukan tindakan dengan cepat.
Pembicaraan terus berlanjut, tentunya dengan tensi berbeda dari sebelumnya. Belum sampai pada hasil yang diinginkan. Di sela-sela pembicaraan mereka tersinggung dengan anggota KSW yang sedikit menaikkan nada bicaranya, lagi-lagi dengan dalih terpancing provokasi.
Mereka melakukan tindakan anarki di dalam Sekretariat KSW. Laki-laki kurus, berkulit sawo matang, dan berjaket hoodie biru lari dari pintu masuk sekretariat lalu menendang ke dalam kerumunan anak-anak KSW secara membabi buta. Beberapa anak dari KSW terpojok ditambah lemparan gelas kaca yang datang dari arah pintu masuk.
“Keadaan semakin runyam dengan adanya perlawanan dari pihak KSW. Gelas-gelas kopi suguhan dipecahkan di depan penyuguh kopi, ditambah kerumunan anak-anak KKS (Kerukunan Keluarga Sulawesi) yang memaksa masuk ke dalam ruangan yang sudah sesak dengan kerumunan mereka sendiri. Barang-barang elektronik di dalam ruangan diinjak-injak, karpet-karpet tempat sholat, duduknya orang sholawat dengan bengisnya diinjak dengan alas kaki tanpa tahu dari mana sebelumnya,”
Beberapa orang dari pihak KKS mulai terlihat mencoba melerai temannya, dan anak-anak KSW yang terluka langsung dibawa ke Aula Griya Jawa Tengah. Keadaan sempat mereda, sampai akhirnya memanas kembali dengan teriakan “Alex!, Alex!, Alex!, sini, kau!” dari salah satu anggota KKS.
Kemudian salah satu dari mereka muncul di tengah kerumunan dan memukul Ketua serta Wakil Ketua KSW. “Kericuhan akhirnya tidak terelakan kembali, salah satu teman kami kemudian berinisiatif memanggil polisi untuk membubarkan kerumunan,”
Selang beberapa waktu polisi pun datang dan kami yakin bahwa mereka akan keluar dari Sekretariat KSW dan pulang ke tempat masing-masing. Serpihan gelas kaca mulai dibersihkan setelah mereka meninggalkan ruangan sekreteriat, karpet juga di vacuum. Keadaan mulai damai sampai kemudian ada salah satu anak KKS yang masuk dan meminta kepada Ketua KSW untuk berdiskusi. Lalu terdengar kabar bahwa rombongan anak KKS belum pulang dan masih berkumpul di tempat asob seberang KSW. Entah apa yang ingin ia diskusikan kepada Ketua KSW. Adzan subuh mulai terdengar dan keaadan kembali normal.
5. Kasus kelima, korban berinisial G. Kronologinya rumah G diketuk dengan keras sampai ditendang, sehingga penghuni merasa terganggu lalu membukakan pintu. Ketika dibuka, sudah berkumpul puluhan orang di depan pintu dan memaksa untuk masuk.
Satu per satu orang masuk tanpa melepas alas kaki. Negosiasi damai sempat dilakukan oleh salah satu kakak tingkat G namun berakhir gagal. “Saya yang berada di kamar sebelah segera melakukan antisipasi dengan mengabari teman saya yang sekiranya bisa membantu dengan segera,” kata G.
Ketika G ingin melihat siapa gerangan kiranya mereka, saya diteriaki dan dipaksa untuk memperlihatkan isi chat orang yang G kirim pesan barusan. "Awas ya, jangan sampai kamu lapor-lapor. Ini nomor siapa ini?" kata pihak gereombolan kepada G.
G menjawab dengan berteriak juga bahwa itu bukan siapa-siapa dan mereka tidak bakal kenal. “Saat itu salah satu dari mereka melayangkan pukulannya dan menimpa pipi kanan saya. Saya kaget dan spontan berteriak untuk membalas perbuatan tidak sopan tamu ini sambil berharap ada orang Mesir ataupun tetangga saya mendengar dan memanggil bantuan,” kata G.
Namun, usaha itu sia-sia. Kerah baju G ditarik dan pukulan kembali dilayangkan di tempat yang sama. “Semakin keras saya berteriak, semakin banyak orang ingin membungkam saya,” katanya.
Handphone G diambil dan terpaksa tidak bisa melanjutkan chat dengan teman yang ingin G mintai bantuan. G dibiarkan di kamar sendirian, kamar ditutup, disuruh membukakan kunci hp G, lalu dibiarkan sampai mereka pulang.
“Mereka pulang setelah menghajar habis-habisan teman rumah saya. Mereka pamit seakan mereka benar-benar bertamu dan tidak melakukan hal kejam,” ujar G.
Lima kasus di atas hanya sebagian dari puluhan kasus perbuatan anarki yang diduga dilakukan oleh oknum Kekeluargaan Sulawesi. Masih ada beberapa kasus yang tidak bisa kami sebutkan secara detail dan rinci. Berikut bentuk kasus dan penyebabnya secara sekilas.
Inisial I dari Kekeluargaan Jawa Barat, di asrama pelajar 2020 patah hidung karena permasalahan ember. Inisial R di Darosah dari Kekeluargaan Jawa Barat 2021 karena masalah bagasi menjadi babak belur dikeroyok. Inisial M di Darrosah dari Kekeluargaan Jawa Barat 2021 karena permasalahan pembelian bantal kemudian dikeroyok. Inisial H di kampus dari Kekeluargaan Jawa Barat 2021 dipukul karena tidak sengaja menginjak salah satu dari anak kekeluargaan Sulawesi
Kemudian inisial I dari Kekeluargaan Jawa Timur, menerima ancaman dari pihak KKS ketika acara Nusantara Olympic dan mendapatkan pukulan dari sterring comitte yang berasal dari KKS, serta mendapatkan ancaman dari Fiqrul untuk mengganti motto Nusantara Olympic.
Inisial Z dari Kekeluargaan Madura 11 Juli 2023, diteror di Asyir. Karena termasuk orang yang ikut melerai saat terjadi penyerangan di sekretariat Jawa Tengah. Terakhir inisial M dari Kekeluargaan Jawa Tengah, menerima pengeroyokan di lapangan ketika pertandingan, akibat dinilai melakukan provokasi terhadap supporter kekeluargaan Sulawesi.
Begitulah isi rekap kasus yang Redaksi Erakini terima. Mengenai kebenaran data tersebut, Redaksi Erakini belum berhasil mengonfirmasi ke pihak KKS dan Kedutaan Besar RI Kairo.