Kisah Hidup Letjen R Suprapto, Mantan Ajudan Jenderal Sudirman yang Gugur Diculik G30S/PKI
Thomas Pulungan






Letjen Raden Suprapto merupakan perwira tinggi TNI AD yang lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, pada 20 Juni 1920. Ia adalah anak bungsu dari 10 bersaudara buah hati pasangan Raden Pusposeno dan Raden Ajeng Alimah.
Keluarganya menjalani kehidupan yang religius dan disiplin, membentuk karakter R Suprapto yang lembut dan tegas. Ia pun selalu berpesan kepada anak buahnya agar selalu berserah diri kepada Allah SWT.
Pada siang hari itu tanggal 30 September 1965, sebelum peristiwa penculikan, R Suprapto mencabut gigi yang sakit, sehingga malam harinya ia tidak bisa tidur karena rasa sakit.
Untuk mengisi waktu, ia membuat lukisan yang direncanakan untuk disumbangkan ke Museum Perjuangan di Yogyakarta. Ia juga mencatat rencana pembangunan gedung rumah sakit tentara yang diharapkan dapat memiliki fasilitas setara rumah sakit di negara-negara maju.
Namun, takdir berkata lain. Pada malam itu pasukan penculik yang terdiri dari satu peleton Resimen Cakrabirawa yang dipimpin Serda Sulaiman, bersama kelompok Sukwan PKI, ternyata telah bersiap di Lubang Buaya, Jakarta Timur, untuk menculik R Suprapto.
Tepat pada pukul 03.00 dini hari tanggal 1 Oktober 1965, pasukan penculik bergerak menuju rumah R Suprapto di Jalan Besuki No 19, Menteng, Jakarta Pusat, dengan menggunakan satu truk.
Sekitar pukul 04.30 WIB, PKI tiba di rumah R Suprapto, yang menyebabkan anjing di sebelah kiri rumah menggonggong. Gonggongan itu pun membangunkan R Suprapto, yang segera menuju pintu untuk menanyakan kedatangan mereka. Namun ia melarang istri dan anak-anaknya ikut.
Dari luar, terdengar jawaban Cakrabirawa dan R Suprapto pun membuka pintu. "Ada apa pagi-pagi buta begini membangunkan saya?" kata R Suprapto kepada prajurit Tjakrabirawa, dalam buku 'Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam'.
"Siap, Pak, Bapak dipanggil untuk menghadap Presiden Soekarno sekarang juga," jawab salah satu prajurit.
R Suprapto lalu minta izin untuk berganti pakaian. Namun, prajurit Cakrabirawa memaksa segera berangkat. Para penculik menghalanginya secara kasar, bahkan mendorongnya keluar.
Ratna Purwati, sulung dari lima anak R Suprapto yang saat itu berusia 18 tahun, turut terbangun karena suara ramai tersebut. Dari jendela kamarnya, dia mengintip ke arah garasi mobil di samping rumah yang pintunya digedor-gedor oleh prajurit Cakrabirawa.
"Bunyi gedobrakan dari arah luar terdengar menyeramkan," kata Ratna.
Beberapa orang kemudian memegang tangan R Suprapto dan memaksanya naik ke dalam truk. Pasukan penculik lalu membawa R Suprapto ke Lubang Buaya.
Dikutip dari tulisan sejarawan UGM, Julianto Ibrahim, di laman esi.kemdikbud, Kamis (26/9/2024), R Suprapto mengenyam pendidikan dasar di Hollandsch Inlandsche School (HIS), Purwokerto, pada usia tujuh tahun.
Setelah menyelesaikan HIS, ia melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) bagian B. Di MULO, ketertarikan R Suprapto terhadap dunia militer mulai muncul, terlihat dari hobinya melukis alat perang seperti pesawat, senapan, dan meriam.
Ia juga gemar menggali tanah untuk membuat benteng-bentengan besar sebagai sarana bermain perang dengan saudara dan teman-temannya. R Suprapto kemudian melanjutkan pendidikan di Algemene Middelbare School (AMS) bagian B di Yogyakarta, yang diselesaikannya pada tahun 1941.
Saat di AMS, bakat menulisnya muncul dengan terbitnya karangan berjudul "Mijn Ideaal" yang mendapat nilai baik dan dimuat dalam majalah Vox. Setelah menyelesaikan studi di AMS pada tahun 1941, saat itu pemerintah Hindia Belanda tengah memperkuat angkatan perangnya menghadapi ancaman invasi Jepang dalam Perang Dunia II.
R Suprapto kemudian memasuki Koninklijk Militaire Akademie (KMA) di Bandung. Namun, pendidikan tersebut terputus ketika Jepang menduduki Indonesia, dan R Suprapto ditangkap karena menjadi bagian dari taruna Akademi Militer Belanda.
Meski ditahan, R Suprapto berhasil melarikan diri dan kembali ke Purwokerto. Ia kemudian tertarik dengan isu-isu sosial pemuda, mengikuti kursus di Cuo Seinen Kunrensyo (Pusat Latihan Pemuda), dan bekerja di kantor pendidikan masyarakat desa Banyumas.
Keterlibatannya dalam kegiatan kepemudaan membawanya bertemu dengan Sudirman, yang kelak menjadi Panglima Besar TNI. Selama pendudukan Jepang, R Suprapto aktif dalam pelatihan kepemudaan semi militer seperti Keibodan, Seinendan, dan Suisyintai.
Pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, R Suprapto bersama pemuda-pemuda di Cilacap aktif dalam mempertahankan kedaulatan negara dengan merebut gedung-gedung dan senjata yang dikuasai oleh pasukan Jepang.
Setelah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk pada 5 Oktober 1945, R Suprapto segera bergabung dan diangkat sebagai Kepala Bagian II Divisi V TKR Purwokerto dengan pangkat Kapten.
Dalam perannya, ia mendampingi Komandan Divisi V, Kolonel Sudirman, selama peristiwa palagan Ambarawa pada 12-15 Desember 1945. Dengan taktik Sapit Urang, pasukan TKR berhasil merebut Ambarawa dan memukul mundur pasukan Sekutu hingga Semarang.
Keberhasilan di Ambarawa mengantarkan Sudirman menjadi Panglima Besar TKR. Berkat hubungan baik yang terjalin lama, Kapten Suprapto lalu diangkat sebagai ajudan Jenderal Sudirman.
Di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Suprapto menikah dengan gadis asal Cilacap, Julie Suparti, pada 4 Mei 1946, dan mereka dikaruniai lima anak.
Setelah menikah, karier R Suprapto melesat dengan berbagai jabatan. Pada 1948, setelah Markas Besar Komando Djawa (MBKD) terbentuk, ia diangkat sebagai kepala bagian II MBKD yang dipimpin Kolonel AH Nasution.
Pada Oktober 1948, R Suprapto, yang saat itu berpangkat Mayor, dipindahkan ke Solo sebagai Kepala Staf Divisi II dan Perwira yang diperbantukan pada staf Gubernur Militer daerah Surakarta, Pati, dan Semarang di bawah Kolonel Gatot Subroto. Dalam posisi ini, Suprapto aktif terlibat dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun.
Setelah perang kemerdekaan berakhir dengan Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949, R Suprapto dipindahkan ke Semarang sebagai Kepala Staf Teritorium IV/Diponegoro dengan pangkat Letnan Kolonel. Dengan pengakuan kedaulatan pada akhir Desember 1950, ia diangkat sebagai Kepala Bagian II di Staf Umum Angkatan Darat Jakarta.
Setahun kemudian, Suprapto dipercaya sebagai Asisten I Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) sambil merangkap jabatan sebagai wakil KSAD. Setelah dua tahun menjabat sebagai wakil KSAD, pada Desember 1953, R Suprapto dipindahkan ke Kementerian Pertahanan sebagai perwira menengah yang membantu Menteri Pertahanan.
Pada 1 Januari 1956, R Suprapto, yang telah berpangkat Kolonel sejak 1 Juli 1954, ditunjuk sebagai Sekretaris Gabungan Kepala Staf (GKS). Dengan kenaikan jabatan ini, R Suprapto merasa perlu untuk meningkatkan kemampuan militernya, sehingga ia mengikuti kursus C Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD) di Bandung selama beberapa bulan, dimulai pada 6 Agustus 1956.
Mulai 1 Januari 1960, R Suprapto naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal dan menjabat sebagai Deputi KSAD untuk wilayah Sumatera, yang berkedudukan di Medan.
Setelah hampir dua tahun, pada Juli 1962, ia kembali ditarik ke Jakarta dan menjabat sebagai Deputi Administrasi Menteri/Panglima Angkatan Darat. Pada bulan Juli 1963, pangkatnya naik menjadi Mayor Jenderal.
Sebagai perwira tinggi Angkatan Darat, Mayor Jenderal R Suprapto dengan tegas menolak pembentukan Angkatan V yang digagas oleh PKI. Sikap kerasnya ini yang kemudian menjadikan dirinya menjadi target penculikan PKI bersama 7 jenderal lainnya.
Pada tanggal 3 Oktober 1965, sumur tua tempat pembuangan jenazah R Suprapto bersama enam perwira tinggi Angkatan Darat lainnya dan satu ajudan Jenderal AH Nasution (Kapten Pierre Tendean), ditemukan.
Bertepatan dengan Hari ABRI pada 5 Oktober 1965, Presiden menetapkan R Suprapto mendapatkan kenaikan pangkat Anumerta atas jasa-jasanya. R Suprapto beserta tujuh perwira lainnya yang gugur dalam penculikan G30S/PKI juga dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.