Tiga Tokoh Budayawan Indonesia, Zastrouw Al Ngatawi, Jadul Maula dan Abdullah Wong saat menjadi dewan hakim pada ekshibisi Lalaran Nadhom di serangkaian ajang MQKN 2023 di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur, Kamis (13/7/2023). (Foto: Erakini/Akhmad Baihaqi Arsyad)
LAMONGAN, (ERAKINI) – Lalaran Nadhom di Pondok Pesantren adalah hal yang potensial untuk dijadikan karya seni musik dan pertunjukan entertainment yang sarat akan nilai keilmuan di tengah gempuran hiburan
yang miskin nilai di era kini. Hal tersebut diakui oleh para tokoh budayawan Indonesia.
Salah satunya diakui oleh Budayawan Zastrouw Al Ngatawi saat menjadi dewan hakim pada ekshibisi Lalaran Nadhom di serangkaian acara Musabaqah Qira’atil Kutub Nasional (MQKN) 2023 di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur. Menurutnya, Lalaran Nadhom bisa menjadi sebuah entertainment yang bagus bagi kaum muda zaman sekarang.
“Lalaran Nadhom ini kalau ditata mulai dari segi musiknya, dari segi komposisi nadanya dan dari segi kreatif event-nya itu bisa menjadi sebuah entertainment yang sangat bagus bagi anak muda di tengah entertain zaman sekarang yang miskin nilai,” kata Budayawan yang pernah menjadi ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) 2004-2015 tersebut, Kamis (13/7/2023).
Selain itu, menurutnya, lalaran nadhom ini bisa menjadi sarana dialog kultural atau dialog kebudayaan antara komunitas pesantren dengan komunitas di luar pesantren.
Pada kesempatan yang sama, hal senada disampaikan oleh Budayawan Abdullah Wong. “Jika santri diberi kesempatan bagaimana mengemas sajian-sajian literasi dengan berbagai macam ekspresi, menurutnya itu luar biasa,” ungkapnya saat menjadi salah satu dewan hakim Lalaran Nadhom di MQKN 2023.
Ia kemudian mengimajinasikan nadhom atau syair tidak lantas berhenti di lalaran saja. Bisa menjadi tarian atau bisa jadi drama misalnya. “Sebuah drama pertunjukan, tapi kontennya itu Al-Amtsilah, At-tashrifiyah, kontennya itu tentang bab kalam misalnya, kontennya tentang fi’il amar. Itu kan menarik,” kata Budayawan yang juga seorang Novelis tersebut.
Dia mencontohkan, misalnya satu peserta bilang Kum dan yang lainnya berdiri semua, satu peserta bilang ijlis, peserta lain mengikuti instruksi dan kemudian duduk semua.
Jadi hal tersebut, menurutnya, punya banyak kemungkinan dan punya banyak potensi. “Santri mestinya diajak ke sana membuka cakrawala imajinasinya supaya mampu deliver atau menyampaikan apa nilai-nilai literasi yang sangat kuat di pesantren sebagai sesuatu yang menghibur,” katanya.
Menurut dia, sekarang dunianya sangat etertain. “Kenapa dunia entertain itu mereka yang menguasai mereka yang selalu tampil? lha ini moment nya, ini kesempatan bagi kita para santri, karena kontennya sudah ada,” jealsnya.
Sebagaimana diketahui, Lalaran Nadhom merupakan salah satu tradisi unik di dunia pesantren, yaitu aktivitas secara bersama-sama melantunkan bait-bait syair (nadhom) dengan irama lagu yang mengandung pengetahuan tertentu diiringi dengan alat musik sederhana dengan tujuan agar mudah menghafal bait-bait pelajaran yang sedang dikaji.
Biasanya para santri menggunakan barang-barang yang ada di dekat mereka di lingkungan pesantren, seperti ember untuk mencuci baju, gayung untuk mandi, sikat gigi, sendok untuk makan dan alat sederhana lainnya.
Dakwah dan Transmisi Keilmuan lewat Seni Budaya
Dakwah dan transmisi keilmuan di pesantren bisa dilakukan lewat seni budaya. Salah satunya dengan Lalaran Nadhom tersebut. Pada MQKN 2023, Lalaran Nadhom telah masuk dalam ajang ekshibisi antar pesantren.
Budayawan Jadul Maula mengungkapkan bahwa Lalaran Nadhom bisa menjadi ujung tombak dakwah keilmuan islam nusantara. Selain itu, dalam Lalaran Nadhom juga ada kearifan.
“Kalau ulama itu dulu memang mislanya ini ilmu yang sulit supaya mudah dinadhomkan . Nadhom ini kan tidak hanya Nadhoman dalam arti keilmuannya, tapi dalam mengekspresikannya bisa ketemu lagu gundul-gundul pacul, ada lagu pop dan lainnya. Ada dilaog dari segi budaya dan itu suatu yang penting menajdi etalases karifa ulama-ulama nusantara, yang membuat ilmu ini bisa berkembang, bsia bertahan sampai ratusan tahun. Ini ilmu yang tinggi,” papar Budayawan yang saat ini menjadi Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi).
Abdullah Wong menambahkan, dengan adanya cabang lomba Lalaran Nadhom ini, santri berhasil mengenalkan satu disiplin yang sebenarnya rumit yaitu Grammar Bahasa Arab yang dikemas dalam bentuk nadhom atau sya’ir. “Hal semacam ini pernah viral di medio 2022 di Tik-tok, sayangnya tagarnya sholawat dianggap lirik sholawat alfiyah, padahal menurutnya itu lirik nadhom,” ungkapnya.
Menurutnya, momentum ekshibisi lalaran nadhom di MQKN 2023 ini tidak bisa dipandang sebelah mata. “Karena bagi saya percampuran gagasan. Percampuran ide dalam sebuah penampilan ini kan mau ngomong ke peradaban yang berangkat dari turats yang ada. Bagaimana tuh mengemasnya itu?“ kata Abdullah Wong.
Dia berharap bahwa Lalaran Nadhom di salah satu cabang lomba MQKN2023 ini bukan hanya menginspirasi tapi juga menguatkan, menyemangati para santri secara internal di nusantara ini. Selain itu memberi inspirasi yang kuat, motivasi yang kuat kepada teman teman yang di luar pesantren bahwa ternyata belajar di pesantren itu mengasyikkan.
“Ternyata sejarah transmisi keilmuan ke kita itu masuknya begitu soft. Termasuk melewati seni budaya,” ujarnya.
Zastrouw Al Ngatawi juga menyebut, Lalaran Nadhom ini bisa menjadi sarana dialog kultural, dialog kebudayaan antara komunitas pesantren dengan komunitas di luar pesantren. Yang terpenting lagi, tambah Zastrouw, karena tema di MQKN 2023 ini adalah rekontekstualisasi turats, maka yang konkrit reaktualisasi turats tak lain bisa dengan Lalaran Nadhom tersebut.
“Turatsnya itu apa? Kitab-kitab klasik Nadhom Al-Amtsilah dan Nadhom At-tashrifiyah, Nadhom Alfiyah Ibnu Malik. Itu turatsnya direkontekstualisasikan dalam bentuk untian untaian nada , dalam bentuk lagu, dalam bentuk ritme-ritme lagu dalam bentuk komposisi-komposisi performance yang bisa menarik anak-anak muda,” tambah Zastrouw.
Dia mengungkapkan, jika hari ini para santri masih mengutip nada-nadanya Via Vallen untuk menyampaikan Nadhom Alfiyah, mudah mudaha kapan-kapan gantian Via Vallen yang mengutip dan memasukkan Nadzom Alfiyah. “Dengan begitu akan terjadi dialog dari segi estetika dari komunitas pesantren dengan di luar pesantren, sehingga reaktualisasninya bener-bener bisa terwujud,” jelasnya.
Budayawan Jadul Maulapada kesempatan yang sama saat menjadi dewan hakim Lalaran Nadhom di serangkaian ajang MQKN 2023mengungkapkan bahwaLalaran Nadhom ini tidak bisa dipandang sebelah mata.
Menurutnya, Lalaran Nadhom punya nilai yang tinggi. Karena, lanjutnya, kalau di lomba cabang lain yang ditekankan penalaran pemahaman atas teksnya keilmuannya. Sementara di Lalaran Nadhom yang ditampilkan tidak hanya pemikiran tapi juga pakai perasaan, pakai keindahan, juga ada semangatnya untuk menapilkan keindahan. Selain itu juga ada diaolog budaya dengan irama.
“Jadi ini lebih total, yang dimunculkan itu keseimbangan antara hati, pikiran, dan perasaan. Keseimbangan anatara gerak tubuh dengn suaranya, ada warna-warni , ada bentuk, jadi ini lebih kompleks dan berdampak ke masyarakat luas, ini bisa menarik orang,” ujarnya.
Ke depan, lanjut Jadul Maula, status Lalaran Nadhom dalam ajang MQKN mestinya ditingkatkan menjadi ajang yang bergengsi di dalam lomba. Bisa diakui stastusnya sama di dalam cabang-cabang yang lain seperti debat bahasa arab, debat bahasa Inggris atau debat qonun.
Artinya, lanjut Jadul Maula, Lalaran Nadhom tidak hanya sekadar ekshibisi. tetapi satu cabang lomba yang diperhitungan akan mendorong nantinya pesantren atau madrasah melahirkan karya di bidang keseniaan, terutama musik.
“Seni suara akan tumbuh. Ini penting. Hari ini itu hari globalisasi, era media sosial teknologi. Orang begitu tahu visualnya, bunyinya, akan menjadi semakin menarik,” ujarnya.
Abdullah Wong juga mengharapkan bahwa Lalaran Nadhom di salah satu cabang lomba MQKN2023 ini bukan hanya menginspirasi tapi juga menguatkan, menyemangati para santri secara internal di nusantara ini. Selain itu memberi inspirasi yang kuat, motivasi yang kuat kepada teman-teman yang di luar pesantren bahwa ternyata belajar di pesantren itu mengasyikkan.
Zastrouw Al-Ngatawi mengungkapkan, selama ini kultur kapital pesantren itu justru yang mengkonversi menjadi ekonomi pesantren adalah dari kelompok-kelompok yang notabenaya komuntas di luar pesantren Opick, Maher Zain dan masih banyak lagi.
“Selama ini pesantren mempunyai banyak kultur kapital yang luar biasa, sholawat misalnya. Yang itu jika di-create atau dikembangkan bisa menjadi ekonomi kapital,” pungkasnya.