Suasana podcast redaksi erakini.id bersama Praxis Public Relation Agency di studio Praxis, Jakarta Selatan, Selasa (30/9/2025). (Foto: Ahdori/Erakini)
JAKARTA, (ERAKINI) - Pendaftaran Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan ditutup pada 5 Oktober 2025. Sebagai upaya memperluas informasi terkait program ini, redaksi erakini.id bersama Praxis Public Relation Agency menggelar podcast di studio , Jakarta Selatan, Selasa (30/9/2025).
Plt Kepala Pusat Asesmen Pendidikan BSKAP, Kemendikdasmen RI, Dr. Rahmawati, S.T., M.Ed yang menjadi narasumber pada kegiatan tersebut menjelaskan bahwa TKA merupakan terobosan baru yang dirancang untuk mengukur capaian belajar siswa berdasarkan kurikulum secara objektif.
“Tes kemampuan akademik ini dilakukan dengan instrumen dan mekanisme yang terstandar, sehingga hasilnya bisa diperbandingkan antar-siswa. Lebih penting lagi, ini membantu siswa memahami potensi akademiknya, apa yang sudah dikuasai, dan apa yang perlu diperbaiki,” ujar Rahmawati.
Menurut dia, penyelenggaraan TKA melibatkan kerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi maupun Kantor Wilayah Kementerian Agama. Meski baru pertama kali digelar, pengalaman Kemendikdasmen dalam pelaksanaan asesmen nasional dinilai cukup menjadi bekal.
“Harapannya, siswa mengikuti TKA ini dengan penuh semangat dan menjunjung tinggi kejujuran serta integritas. Dengan begitu, hasil yang diperoleh benar-benar berkualitas,” kata Rahmawati.
Dalam kesempatan yang sama, Pemerhati Pendidikan, Doni Koesoema Albertus yang juga hadir dalam acara tersebut menilai TKA sebagai terobosan positif. Menurutnya, berbeda dengan ujian nasional yang bersifat wajib, TKA bersifat sukarela sehingga memberi ruang bagi siswa untuk memilih.
“Ini hal baru, karena sebelumnya ujian model standar seperti UN diwajibkan. Sekarang siswa bisa memilih untuk ikut atau tidak. Itu menghargai hak anak agar tidak merasa terpaksa,” kata Doni.
Meski begitu, ia menekankan pentingnya persetujuan siswa ketika mengikuti tes yang berskala nasional.
“Kalau ada orang tua, guru, atau kepala dinas yang memaksa siswa ikut, itu keliru. Tes ini sebaiknya diposisikan seperti cek kesehatan gratis, yang bermanfaat untuk mengetahui kondisi diri,” ujarnya.
Lebih lanjut, Doni menilai TKA dapat mendorong semangat belajar siswa.
“Setiap ujian pada akhirnya membuat anak belajar. Memang hasil tes standar tidak bisa menggambarkan keseluruhan diri anak, tetapi tetap berguna untuk kepentingan tertentu, misalnya pemetaan kemampuan akademik,” tuturnya.