JAKARTA, (ERAKINI) - Panitia Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PMB PTKIN) masih membuka pendaftaran Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) Tahun 2026. Panitia menyiapkan sistem seleksi nasional yang modern, transparan, dan terintegrasi.
Ketua Panitia Nasional PMB PTKIN 2026, Prof Dr Abd Aziz MPd menegaskan bahwa UM-PTKIN bukan sekadar jalur masuk perguruan tinggi, melainkan pintu strategis dalam membentuk generasi akademik yang unggul, berintegritas, dan berwawasan keislaman moderat.
“PTKIN hadir sebagai institusi pendidikan tinggi yang mengintegrasikan ilmu, nilai, dan karakter. Melalui UM-PTKIN 2026, kami membuka kesempatan luas bagi generasi muda Indonesia untuk menjadi bagian dari ekosistem akademik yang inklusif, inovatif, dan berdaya saing,” ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (13/5/2026).
Pelaksanaan UM-PTKIN tahun ini menggunakan Sistem Seleksi Elektronik (SSE) yang dilakukan secara luring di titik lokasi ujian yang dipilih peserta. Sistem tersebut diterapkan secara serentak di 58 PTKIN dan 1 PTN di seluruh Indonesia.
Abd Aziz mengatakan bahwa penggunaan sistem SSE membuat proses seleksi lebih efisien, akurat, paperless, serta menjunjung prinsip adil, transparan, dan ramah difabel. Untuk itu, panitia telah menyiapkan sistem pengawasan yang berlapis.
"Kita akan ada beberapa alat digital untuk mengawasi mereka (peserta), dan tentu kita juga akan mempunyai pengawas SSE yang ada di situ juga. Kita Insya Allah juga akan bisa mendeteksi mana-mana saja yang mereka ini ada joki dan lain sebagainya. Kita akan bisa mendeteksi mulai dari awal," tegasnya.
Adapun materi seleksi UM-PTKIN 2026 difokuskan pada pengukuran kemampuan penalaran dan literasi peserta melalui Tes Bakat Skolastik yang mencakup kemampuan logis, verbal, spasial, dan kuantitatif; serta Tes Literasi yang meliputi bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Arab, literasi numerasi, baca-tulis Al-Qur’an, serta literasi ajaran Islam.
Menurut Abdul Aziz, pendekatan ini bertujuan memastikan mahasiswa yang diterima tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki fondasi karakter dan literasi yang kuat.
Abd Aziz menyebutkan hingga saat ini jumla total jumlah pendaftar sudah sekitar 60.000 calon mahasiswa dari daya tampung yang tersedia 80.000 lebih. "Pendaftaran kita akan buka sampai tanggal 30 Mei. Kita masih ada waktu kira-kira 17 hari, kita masih panjang waktunya," tukasnya.
PTKIN Semakin Kompetitif dan Multidisipliner
Abd Aziz menambahkan bahwa PTKIN yang meliputi UIN, IAIN, dan STAIN, kini terus berkembang menjadi pusat keunggulan akademik di berbagai bidang, mulai dari ilmu keagamaan, sains, teknologi, kesehatan, ekonomi, hingga ilmu sosial multidisipliner.
Melalui UM-PTKIN, calon mahasiswa memiliki peluang memilih program studi sesuai minat dan potensi akademiknya.
Pada pelaksanaan tahun ini, Panitia Nasional PMB PTKIN juga menghadirkan sejumlah inovasi layanan, di antaranya:
1. Simulasi ujian SSE guna membantu peserta memahami sistem sebelum ujian berlangsung;
2. Informasi tingkat keketatan program studi sebagai referensi dalam menentukan pilihan prodi;
3. Peningkatan layanan bagi peserta difabel sejak proses pendaftaran hingga pelaksanaan ujian.
Abd Aziz berharap inovasi tersebut dapat membantu peserta menyusun strategi pendaftaran secara lebih rasional dan berbasis data.
Berikut jadwal pelaksanaan UM-PTKIN 2026:
Pendaftaran: 13 April 2026 pukul 08.00 WIB – 30 Mei 2026 pukul 15.00 WIB
Pembayaran: 13 April 2026 pukul 08.00 WIB – 30 Mei 2026 pukul 23.59 WIB
Finalisasi: 13 April 2026 pukul 08.00 WIB – 3 Juni 2026 pukul 15.00 WIB
Cetak kartu ujian: mulai 1 Mei 2026 pukul 08.00 WIB
Pelaksanaan ujian: 8–14 Juni 2026
Pengumuman hasil: 30 Juni 2026
Biaya pendaftaran ditetapkan sebesar Rp200.000 dan dibayarkan melalui bank yang ditunjuk panitia nasional.
PTKIN Jadi Pusat Integrasi Ilmu dan Spiritualitas
Sementara itu, Bendahara Panitia Nasional PMB PTKIN, Prof Dr Rosihon Anwar MAg menjelaskan bahwa PTKIN saat ini tidak lagi dipandang hanya sebagai lembaga pendidikan agama, melainkan pusat peradaban yang mengintegrasikan spiritualitas dan sains modern.
Ia menjelaskan, PTKIN terdiri atas tiga bentuk kelembagaan, yakni UIN (Universitas Islam Negeri), yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum; IAIN (Institut Agama Islam Negeri) yang berfokus pada rumpun ilmu keislaman; serta STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) yang fokus pada cabang tertentu ilmu agama Islam.
Rosihon menegaskan bahwa paradigma PTKIN modern telah bergerak menuju integrasi ilmu. Mahasiswa tidak hanya dibekali kedalaman spiritual, tetapi juga kompetensi profesional di berbagai bidang.
Ia mencontohkan perkembangan fakultas di PTKIN yang kini mencakup Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, hingga Fakultas Kedokteran dan Kesehatan.
“PTKIN saat ini sedang bergerak menuju internasionalisasi dan digitalisasi melalui penguatan moderasi beragama, akreditasi internasional, serta pengembangan smart campus berbasis Artificial Intelligence dan Big Data,” ujarnya.
Melalui transformasi tersebut, PTKIN diharapkan mampu melahirkan lulusan yang kompetitif secara global sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai keislaman moderat.