JAKARTA, (ERAKINI) - Untuk menekan potensi bencana akibat cuaca ekstrem di Ibu Kota, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, BPBD DKI Jakarta, serta TNI Angkatan Udara menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
OMC ini digelar selama tujuh hari, mulai 16 hingga 22 Januari 2026, dengan pusat kendali operasi berlokasi di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Menurut Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, OMC dilakukan sebagai langkah mitigasi untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi, khususnya banjir dan genangan yang kerap dipicu oleh intensitas hujan tinggi di musim penghujan.
Dalam operasi ini, satu unit pesawat Casa 212 seri 200 dengan nomor A-2105 disiagakan, lengkap dengan material semai berupa natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO). “OMC di Jakarta ini merupakan bagian dari upaya penanganan siaga darurat bencana hidrometeorologi di wilayah Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya. Sebelumnya, OMC juga telah dilaksanakan pada 13–19 Januari 2026 dengan menyemai 21,4 ton NaCL dan 7,4 ton CaO pada total 31 sorti,” kata Seto di Jakarta (21/1/2026).
Penyemaian tersebut, kata dia, diprioritaskan untuk menjatuhkan awan-awan hujan yang masih berada di lautan dan bergerak menuju daratan Jabodetabek. Selain itu, penyemaian juga dilakukan dengan tujuan menghambat pertumbuhan awan-awan baru sehingga tidak tumbuh secara optimal di daratan.
Sementara itu, Direktur Operasi Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo mengatakan, seluruh rangkaian kegiatan ini disupervisi secara teknis oleh BMKG. Sebelum melakukan penyemaian, dilakukan pemantauan radar cuaca dan pertimbangan matang untuk memastikan keberhasilan operasi.
Adapun saat ini terjadi beberapa fenomena atmosfer yang berpotensi memberikan dampak hujan di sebagian wilayah Jabodetabek, seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) fase 2, potensi gelombang frekuensi rendah, gelombang Kelvin, serta Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif. Secara umum, kelembapan udara di wilayah Jabodetabek berkisar pada 40–100% pada lapisan 925–500 hPa.
“Labilitas atmosfer menunjukkan kondisi massa udara labil lemah dan potensi konveksi sedang. Prioritas utama kami adalah mengurangi awan-awan hujan yang berkembang dan bergerak memasuki wilayah Jakarta sehingga masyarakat dapat melaksanakan aktivitas dengan nyaman dan tenang,” kata Budi.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Zaini Miftah juga menyatakan operasi ini bentuk mitigasi proaktif & antisipasi dari pemerintah daerah. Sebagaimana prakiraan cuaca dari BMKG, terdapat potensi peningkatan curah hujan pada Dasarian II bulan Januari, oleh karena itu OMC akan dilaksanakan selama 7 hari (16–22 Januari 2026).