Ketua Umum Forum Nasional IKA PTKIN Idrus Marham didampingi jajaran pengurus menyampaikan hasil Rakernas yang digelar pada 13–15 Juli 2026, di Sekretariat IKA PTKIN, Manggarai, Jakarta, Jumat (17/7/2026). Foto: Erakini
JAKARTA, (ERAKINI) – Forum Nasional Ikatan Keluarga AlumniPerguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (IKA PTKIN) akan memperluas keanggotaannya tidak hanya mencakup alumni 59 kampus Islam. siap merangkul perguruan tinggi swasta, kampus umum, hingga perguruan tinggi berbasis agama lain.
Ketua Umum Forum Nasional IKA PTKINIdrus Marham menyampaikan, gagasan tersebut merupakan salah satu hasil strategis Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang digelar pada 13–15 Juli 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta.
Dalam rangka pengembangan organisasi, muncul pemikiran agar ke depan IKA PTKIN tidak hanya terbatas pada 59 perguruan tinggi Islam, tetapi diperluas ke perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta, bahkan perguruan tinggi berbasis agama lain.
"Sehingga forum ini (IKA PTKIN) betul-betul menjadi sebuah forum dalam rangka untuk memperkuat toleransi beragama, moderasi beragama di Indonesia," kata Idrus kepada wartawan, didampingi jajaran pengurus, di Sekretariat IKA PTKIN, Manggarai, Jakarta, Jumat (17/7/2026).
Menurut Idrus, gagasan tersebut merupakan pemikiran Menteri Agama Nazaruddin Umar yang menilai Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam membangun moderasi beragama yang kini mulai menjadi perhatian dunia internasional.
Ia mencontohkan Australia yang telah menyampaikan keinginan untuk mempelajari praktik toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia.
"Tentu nanti ini adalah modal dasar dalam rangka menjadikan Islam Indonesia pada episentrum, dalam rangka transformasi peradaban dunia. Itu pikiran-pikiran, dan tentu nanti perlu dikembangkan nanti dalam waktu yang tidak terlalu lama," tandasnya.
Idrus menambahkan bahwa hasil Rakernas menjadi landasan penyusunan program kerja organisasi ke depan. Seluruh rekomendasi Rakernas akan menjadi dasar penguatan kelembagaan dan perluasan peran IKA PTKIN.
Dalam rangkain Rakernas juga digelar Seminar Nasional bertema "Transformasi Peradaban Islam untuk Membangun Dunia Baru". Seminar tersebut membahas karakter Islam Indonesia yang dinilai memiliki kekhasan dibandingkan praktik keagamaan di berbagai negara.
Menurut Idrus, Islam Indonesia tidak hanya menjadi agama mayoritas secara jumlah pemeluk, tetapi juga berkembang dengan karakter moderat, mengedepankan nilai rahmatan lil alamin, serta mampu menjembatani kehidupan beragama dengan berbagai aspek kehidupan sosial.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, IKA PTKIN akan mengedepankan komunikasi keagamaan dan komunikasi kemanusiaan sebagai pendekatan utama.
Selama ini, kata Idrus, hubungan internasional lebih banyak didominasi kepentingan politik dan ekonomi. Ke depan, IKA PTKIN ingin menghadirkan pendekatan yang bertumpu pada nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan sebagai fondasi membangun perdamaian global.
Karena itu, ia meminta seluruh jajaran pengurus IKA PTKIN segera menyusun agenda kerja yang lebih intensif dan berkelanjutan, termasuk memperluas sosialisasi gagasan Islam Indonesia ke berbagai negara.
"Ini harus bekerja lebih intensif lagi secara kontinu, berkesinambungan, untuk menyusun agenda-agenda tidak hanya dilakukan di Indonesia, tapi tentu juga nanti akan dilakukan di di beberapa negara-negara lain dalam rangka untuk mensosialisasikan pikiran-pikiran ini," tukasnya.
Tiga Agenda Utama Rakernas
Sementara itu, Ketua Organizing Committee Rakernas Amar Ahmad mengatakan, Forum Nasional IKA PTKIN menggelar dua agenda besar untuk memeriahkan Festival Muharram, yakni Rakernas dan Seminar Nasional.
Menurut Amar, momentum Muharram dimanfaatkan sebagai ajang konsolidasi organisasi yang baru terbentuk pada April 2026 tersebut. Forum Nasional Ikatan Alumni PTKIN menaungi alumni dari 59 PTKIN di seluruh Indonesia.
"Usia organisasi ini memang masih sangat muda, tetapi gagasan dan pemikirannya sudah mendapat perhatian dari kalangan alumni, masyarakat, hingga para pemangku kepentingan nasional," ujar Amar.
Rakernas yang digelar pada 13 Juli diikuti sekitar 240 pengurus alumni dari 59 PTKIN. Amar menyebut jaringan PTKIN memiliki sekitar 2.000 guru besar, dengan sekitar 500 guru besar hadir secara penuh dalam rangkaian Rakernas dan seminar nasional. Sementara pada pembukaan kegiatan, jumlah undangan yang hadir mencapai sekitar 700 guru besar.
Menteri Agama Nasaruddin Umar turut membuka Rakernas sekaligus Seminar Nasional. Kehadiran Menteri Agama menjadi dukungan terhadap penguatan peran alumni PTKIN dalam menjawab berbagai tantangan kebangsaan dan keumatan.
Dalam Rakernas, peserta membahas tiga agenda utama, yaitu penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi, penyusunan program kerja Forum Nasional Ikatan Alumni PTKIN, serta perumusan pokok-pokok pikiran organisasi sebagai kontribusi terhadap isu-isu keumatan dan kebangsaan, baik pada tingkat nasional maupun global.
Pada hari berikutnya, Seminar Nasional menghadirkan sekitar 500 guru besar dari berbagai PTKIN di Indonesia. Seminar membahas tiga tema strategis.
Tema pertama mengulas posisi alumni PTKIN dalam merespons dinamika geopolitik global serta berbagai persoalan kesenjangan sosial melalui perspektif keagamaan.
Tema kedua mengangkat isu ekoteologi, yakni hubungan antara ajaran Islam, keimanan, dan pelestarian lingkungan. Amar mengatakan tema tersebut sejalan dengan perhatian Menteri Agama terhadap pengembangan ekoteologi, sekaligus mendukung arah kebijakan Presiden yang mendorong para cendekiawan untuk lebih aktif merespons persoalan lingkungan.
Adapun tema ketiga membahas penguatan tradisi ilmiah di perguruan tinggi. Diskusi tersebut menyoroti kontribusi alumni PTKIN yang dinilai belum banyak mendapat perhatian dalam percaturan pemikiran nasional, padahal telah banyak berkiprah di berbagai sektor strategis.
Sejumlah tokoh nasional yang merupakan alumni PTKIN turut menjadi pembicara, di antaranya Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Ace Hasan Syadzily yang juga Ketua Ikatan Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji yang merupakan alumni UIN Salatiga.
Menurut Amar, keberhasilan para alumni tersebut menunjukkan bahwa lulusan PTKIN telah memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional. Ke depan, Forum Nasional Ikatan Alumni PTKIN diharapkan bisa tampil dengan gagasan-gagasan yang mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan bangsa, tidak hanya dalam isu-isu keagamaan, tetapi juga persoalan yang lebih luas seperti geopolitik, lingkungan, dan pembangunan nasional.