Michael Darmawan Cahyadi Josua, satu dari 247 perwira remaja Akpol angkatan 55 yang dilantik oleh Presiden Jokowi di Istana Negara, Selasa (16/7/2024). Foto: Humas Polri
JAKARTA, (ERAKINI)- Ada yang menarik dalam pelantikan dan pengambilan sumpah perwira remaja TNI-Polri lulusan Akademi Militer (Akmil), Akademi Angkatan Udara (AAU), Akademi Angkatan Laut (AAL), dan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2024. Dari 906 perwira remaja yang dilantik itu, ternyata terdapat satu taruna dari .
Dia adalah Michael Darmawan Cahyadi Josua, satu dari 247 perwira remajaAkpol angkatan 55 yang dilantik oleh Presiden Jokowi di Istana Negara, Selasa (16/7/2024).
Ia pun dihadapkan di hadapan Presiden Jokowi bersama M Shultan Andika Bhakti dari perwakilan agama Islam, Gamail Marshal Pamungkas (Protestan), Beltazar Wirya Nugraha (Katolik), serta Komang Wiwin Tribuana Putri (Hindu). Mereka kemudian diambil sumpahnya secara simbolis sesuai agama yang dianut pada Upacara Prasetya Perwira (Praspa), itu.
Michael menjadi satu-satunya dan perwira remaja pertama di Polri penganut agama Konghucu yang dilantik oleh Presiden Jokowi. Michael pun bangga bisa menjadi anggota keluarga Polri.
“Bangga sekali bisa berdiri di depan Presiden Jokowi dan mewakili teman-teman Perwira Remaja TNI-Polri dalam sebuah momen yang sangat bersejarah terutama bagi diri saya pribadi,” ujar Michael dikutip dari keterangan resmi Humas Polri.
Michael berasal dari keluarga keturunan etnis Tionghoa. Agama Konghucu yang ia peluk merupakan warisan nenek moyang yang terus mereka jaga. Salah satu kakeknya adalah xue shi (pendeta) Konghucu. Meskipun memiliki keturunan Tionghoa tapi Michael merasa 100 persen Indonesia.
“Saya ini keturunan keempat atau kelima mungkin di keluarga saya. Jadi enggak kelihatan. Malah seringnya saya dibilang orang Jawa,” katanya.
Michael mengaku Bersama keluarganya hidup membaur dengan masyarakat dari berbagai latar belakang kebudayaan di Kota Depok, Jawa Barat. Selain mengajak kedua orang tuanya pada kegiatan pengumuman penempatan Perwira RemajaPolri usai pelantikan, Michael juga mengajak teman mainnya sejak kecil, Muhammad Rayhan Denel.
“Saya dan Michael sekolah bareng di TK dan SMP. Deket juga sama keluarga dan orang tuanya karena rumah kita tidak jauh. Michael orangnya tekun dan ketekunan inilah salah satu yang membuat ia lolos bisa masuk Akpol,” kata Rayhan.
Asisten Kapolri Bidang SDM Irjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan bahwa dalam setiap rekrutmen, Polri selalu membuka kesempatan yang sama bagi seluruh anak bangsa yang ingin menjadi polisi tanpa diskriminasi latar belakang suku, agama, ras dan golongan.
Pemuda kelahiran 27 Maret 2002 ini mengaku masuk Akpol setelah lulus SMA karena tidak ingin membebani orang tua. Maklum, orang tuanya bukan dari kalangan mampu.
"Makanya saya cari sekolah kedinasan. Kebetulan waktu itu ada sosialisasi rekrutmen Polri dari Polres Metro Depok di sekolah saya. Waktu saya minta izin, ibu sempat keberatan. Tapi akhirnya kedua orang tua saya kasih izin,” katanya.
Dewi Sufaningsih Saputra dan Lie Yosep, ibu dan ayah Michael tidak pernah mengira anak kedua mereka itu tertarik menjadi polisi.
Lie yang tidak memiliki pekerjaan tetap dan hanya menjadi sopir paruh Waktu alias sopir tembak itu menyerahkan semua keputusan kepada Michael.
“Terus terang kondisi ekonomi kami tidak memungkinkan kami menyekolahkan Michael ke tingkat lebih lanjut. Begitu mendengar Michael ingin masuk sekolah kedinasan, saya mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk anak saya, ” sebut Lie.
Lie juga tidak menyangka anaknya bisa lolos seleksi Akpol tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.
Sementara Dewi sempat mengkhawatirkan anaknya tidak bisa menjalani latihan fisik di Akpol.
“Sebagai ibu, tentunya ada rasa khawatir. Tapi melihat ketekunan dia dan apalagi ternyata dia berhasil lolos tahap demi tahap, akhirnya saya mendukung," ucapnya.
Datang dari keluarga etnis Tionghoa dan penganut agama Konghucu yang taat, kedua orang tua selalu berpesan kepada anaknya agar tidak lupa menjalankan ibadah.
“Di Akpol kebutuhan rohani semua Taruna terpenuhi, termasuk saya. Meskipun saya satu-satunya yang beragama Konghucu, saya tidak memiliki masalah sama sekali kalau mau beribadah. Saya tinggal sampaikan ke senior,” ucap Michael.
Dewi dan Lie pun berharap anak mereka bisa menjalani tugas sebagai anggota Polri dengan sebaik-baiknya, menjadi teladan dan bisa mengayomi masyarakat.