Aiswa Djien Pandey, satu-satunya calon taruni Akpol perwakilan Maluku Utara (Malut) yang lolos dari tingkat daerah untuk mengikuti seleksi tingkat pusat. Foto: Humas Polri
SEMARANG, (ERAKINI) - Banyak kisah menarik dari peserta yang lolos seleksi pusat calon taruna (catar) Akademi Kepolisian (Akpol) 2024. Salah satunya kisah Aiswa Djien Pandey.
Aiswa merupakan satu-satunya calon taruni Akpol perwakilan Maluku Utara (Malut) yang lolos dari tingkat daerah untuk mengikuti seleksi tingkat pusat. Ia mencatatkan prestasi membanggakan dengan lolos ke tahap seleksi tingkat pusat setelah berhasil sebagai peringkat pertama di tingkat daerah.
"Saya peringkat pertama, Puji Tuhan. Karena saingan saya juga sudah gugur waktu tes jasmani. Dari Maluku Utara totalnya ada lima orang (calon taruna), yang empat putra, satu putri. Saya asli Maluku Utara," ujar Aiswa usai pengisian Inventory PSI dan PMK di Komplek Akpol, Kota Semarang, dikutip dari keterangan resmi Humas Polri, Selasa (16/7/2024).
Aiswa patut berbangga. Sebab, ia hanya berasal dari keluarga kurang mampu di Desa Wari, Kecamatan Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Meski demikian, ia memiliki modal yang sangat berharga. Aiswa merupakan mantan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional.
Ia turut bertugas menurunkan bendera pusaka 17 Agustus 2022. Aiswa tergabung dalam Pasukan 17 Sayap Kiri tim Pancasila Sakti yang kala itu dikukuhkan Presiden Jokowi.
Sebagai mantan anggota Paskibraka Nasional, ia tentu telah terlatih dalam disiplin dan ketahanan fisik yang kuat. “Di Paskibraka kami sudah dididik, persiapan pengibaran sebulan lebih dari 15 Juli sampai kami balik itu 29 Agustus (2022). waktu di Paskibraka Nasional saya bertugas penurunan bendera,” jelasnya.
Anak pertama dari tiga bersaudara itu bercerita, bahwa di desa tempat tinggalnya, yakni Desa Wari, ia kerap membantu ayahnya bertani pala. Ayahnya yang sebelumnya bekerja sebagai sekuriti, sekarang memang bekerja sebagai petani pala.
Sementara ibunya adalah ibu rumah tangga biasa. Jadi, Aiswa sudah terbiasa hidup berjuang sejak kecil. Kontur pegunungan dan pantai yang indah di tempat tinggalnya telah secara alami melatih kebugarannya.
Sang ayah kerap melatih fisiknya dengan berlari batasan waktu tertentu. Aiswa juga rutin latihan lari di Mako Brimob di desanya.
Sembari fisiknya ditempa, Aiswa juga secara mandiri mengembangkan kemampuan akademiknya. Sadar diri berangkat dari keluarga kurang mampu, Aiswa memaksimalkan apa yang ada untuk belajar.
“Saya berasal dari orang kurang mampu, jadi belajarnya dari online dan lewat buku saja. Saya tidak pernah ikut bimbel (bimbingan belajar) apapun,” ungkap Aiswa yang menyebut baru kali pertama ikut seleksi Akpol ini.
"Saya terbiasa berenang dan juga rutin latihan lari di Mako Brimob di desa saya," ungkap gadis kelahiran Maluku Utara 13 Februari 2006, itu.
Dalam menghadapi seleksi Akpol tingkat pusat ini, kedua orang tuanya tidak bisa mendampinginya. Sebab mereka harus tetap tinggal di desa untuk bertani dan mengurus keluarga.
Meski demikian, ia selalu memegang teguh pesan sang ayah, bahwa usia muda hanya sekali sehingga kesempatan harus dimanfaatkan dan diperjuangkan sebaik mungkin.
“Papag saya juga selalu berpesan, kalau sudah jadi orang yang berhasil saya tidak boleh sombong. Saya harus seperti padi, semakin berisi semakin merunduk,” tukasnya.
Kisah perjuangan, semangat, dan tekad yang kuat Aiswa bisa menjadi contoh inspiratif bagi generasi muda. Dengan kerja keras dan tekad yang bulat, mimpi besar dapat diraih dari latar belakang apa pun.