JAKARTA, (ERAKINI) - Menjadi hafidzah atau penghafal al-Quran di usia yang masih kecil adalah impian setiap Muslimah. Dibutuhkan ketekunan dan kemauan yang tinggi untuk menghafal ayat demi ayat dalam al-Quran sehingga menempel dalam ingatan.
Salah satu hafidzah yang menjadi inspirasi Muslimah di Indonesia adalah Nyai Hannah Zamzami. Konten-konten pengajian Nyai Hannah di media sosial mendapatkan respons positif dari masyarakat. Bahkan, masyarakat mengaku terbantu dengan adanya konten-konten pengajian dari Nyai Hannah tersebut.
Tak hanya soal konten membaca al-Quran, belakangan konten soal murajaah Al-Qur’an Nyai Hannah bersama putrinya, Ning Sheila Hasina viral di media sosial. Mereka mengaku tersentuh hatinya dan mendapatkan inspirasi.
Nyai Hannah adalah istri dari salah satu pengasuh pesantren Lirboyo, KH Hasan Syukri Zamzami Mahrus Lirboyo. Kepiawannya dalam membantu sang suami mengelola pesantren, berakhir pada kesibukan yang luar biasa sebagai pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Baqarah yang fokus pada pendidikan tahfidz Al-Qur’an, sorogan bin nadzor, serta pengajian kitab.
Dari garis keturunan ayah, Nyai Hannah adalah putri dari Kiai Abdul Ghoffar yang berasal dari Madura, dengan nasab yang bersambung hingga Syaikhona Kholil Bangkalan.
Dari jalur ibu, ia merupakan cucu dari Nyai Durrotun Nafisah binti Nyai Fatimah binti Kiai Ma’shoem Lasem. Sejak kecil, beliau telah menunjukkan kecintaan pada Al-Qur’an. Pada usia tujuh tahun, beliau mulai menghafal Al-Qur’an di bawah bimbingan ibunya sendiri. Saat berusia 11 tahun dan telah menghafal 9 juz, beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Al-Ishlah, Jepara.
Dalam sebuah video pendek yang viral di YouTube, Nyai Hannah membagikan perjuangannya dalam menjaga hafalan Al-Qur’an hingga kini. Salah satu bentuk riyadhah beliau berasal dari ijazah Bu Nyai Zuhriyah Munawwir, yaitu membaca 10 juz setiap hari selama satu tahun. Meski harus mengasuh anak-anak yang masih kecil, beliau tetap melaksanakan ijazah itu dengan penuh keteguhan dan kelapangan hati.
Salah satu kebiasaan yang terus dijaga hingga kini adalah bangun di jam 2 dini hari untuk membaca Al-Qur’an. Bahkan di sela-sela aktivitas rumah tangga seperti memasak dan mengasuh anak, Nyai Hannah tetap nderes (membaca) Al-Qur’an. Kitab suci itu selalu dekat dengannya, baik secara fisik maupun dalam lisan.
Menurut beliau, murajaah adalah kewajiban bagi para penghafal Al-Qur’an. "Ketika sudah memutuskan untuk menjadi penghafal Al-Qur’an, maka yang wajib itu nderes, bukan lancarnya. Karena urusan lancar tidaknya itu fadhal (anugerah) dari Allah," pesan beliau dalam sebuah kesempatan.
Nyai Hannah menjadi simbol bahwa perempuan pun memiliki peran besar dalam menjaga dan mensyiarkan kalamullah. Beliau membuktikan bahwa kesibukan sebagai ibu rumah tangga bukanlah alasan untuk meninggalkan Al-Qur’an. Sebaliknya, Al-Qur’an justru menjadi sumber kekuatan, ketenangan, dan petunjuk dalam hidup.
Menjadi hafidzul Qur’an adalah kemuliaan, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Dengan istiqomah, Nyai Hannah terus menebar inspirasi dan menjadi teladan bagi para perempuan muslimah di seluruh penjuru tanah air.