Momen politikus PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko (kiri) bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) pada deklrasi Gerakan Prabu di Gedung Marina, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (18/8/2023). (Foto: Prabowo Subianto/Facebook)
JAKARTA, (ERAKINI) – Politikus PDIP Budiman Sudjatmiko resmi dipecat PDI Perjuangan buntut manuver politiknya dengan mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.
Budiman yang merupakan aktivis 1998 itu memilih lebih mendukung Prabowo Subianto ketimbang Ganjar Pranowo yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Pilpres 2024.
Bagaimana sepak terjang Budiman Sujatmiko dalam dunia perpolitikan? Mari kita simak fakta-faktanya.
1. Aktif dalam Gerakan Mahasiswa saat Kuliah di UGM
Budiman Sujatmiko merampungkan sekolah menengah atas pada 1989 setelah menempuh pendidikan di SMA Negeri 5 Bogor dan SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Kemudian sempat dia menempuh pendidikan tinggi ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Namun, Budiman tidak menyelesaikan kuliahnya karena aktivitasnya dalam gerakan mahasiswa.
"Saya terlibat dalam gerakan mahasiswa saat berkuliah di Fakultas Ekonomi UGM. Kemudian saya menerjunkan diri sebagai community organizer yang melakukan proses pemberdayaan politik, organisasi, dan ekonomi di kalangan petani dan buruh perkebunan di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur," seperti tertulis di laman budimansudjatmiko.net.
2. Didapuk sebagai Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD)
Pada April 1996, sejumlah intelektual muda dan aktivis mendeklarasikan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Di partai ini, Budiman Sudjatmiko didapuk sebagai ketua.
3. Dituduh jadi Dalang Kerusuhan Perebutan Kantor DPP PDI di Jakarta
Pada tanggal 27 Juli 1996 atau tiga bulan setelah Budiman didapuk sebagai ketua PRD, terjadi kerusuhan akibat perebutan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Jakarta.
Saat itu Budiman dituduh terlibat atas kerusuhan tersebut oleh pemerintahan Presiden Soeharto. Ia dianggap mendalangi Mimbar Bebas selama sebulan sebelum kerusuhan terjadi.
4. Divonis Bersalah dan Dihukum 13 Tahun Penjara oleh Pemerintahan Suharto
Karena dianggap terlibat dan dituduh menjadi dalang kerusuhan perebutan kantor PDI di Jakarta, Budiman divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 13 tahun penjara.
"Publik mengenal saya ketika saya dituduh mendalangi gerakan menentang Orde Baru dan divonis dengan hukuman 13 tahun penjara. Saya bukanlah seorang pemberani, saya hanya membenci ketakutan yang saat itu mewabah seperti penyakit menular," katanya seperti tertulis di laman budimansudjatmiko.net
5. Dibebaskan oleh Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur
Dari total hukuman 13 tahun penjara yang diberikan oleh pemerintahan Presiden Suharto tersebut, Budiman hanya menjalaninya selama 3,5 tahun saja.
Budiman kemudian bebas setelah diberi amnesti oleh Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada 10 Desember 1999.
6. Melanjutkan Kuliah di Universitas London dan Universitas Cambridge, Inggris
Setelah dibebaskan oleh Gus Dur, Budiman melanjutkan pendidikan dengan mengambil Ilmu Politik di Universitas London. Kemudian Budiman juga melajutkan di Universitas Cambridge, Inggris mengambil Master Hubungan Internasional.
Usai menempuh pendidikan di luar negeri, Budiman kembali ke Tanah Air dan kemudian bergabung dengan PDIP pada 2004. Karier politik Budiman pun cemerlang.
Pada Pemilu 2009, ia terpilih menjadi Anggota DPR dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah VIII (Kabupaten Banyumas dan Cilacap).
8. Terpilih sebagai Legislator, Dipercaya di Komisi II DPR
Pada Pemilu 2014, Budiman kembali terpilih sebagai legislator. Budiman dipercaya di Komisi II DPR yang membidangi pemerintahan dalam negeri, otonomi daerah, aparatur negara, dan agraria. Budiman merupakan salah satu tokoh yang membidani lahirnya Undang-Undang (UU) Desa.
"Selama ini yang terjadi hanyalah pembangunan di desa dan bukan pembangunan desa. Bila ini terus berlanjut, maka desa tetap akan menjadi anak tiri dalam pembangunan Indonesia. Melalui Undang-Undang Desa, mayoritas masyarakat Indonesia akan mendapatkan bagian yang sepantasnya dari kemakmuran negara ini," kata Budiman.
9. Kerap jadi Jubir di Pihak Jokowi di Acara Debat dengan Pendukung Prabowo
Sebagai seorang kader PDIP, Budiman Sudjatmiko juga terlibat dalam pemenangan calon presiden (capres) Joko Widodo di Pilpres 2014 dan Pilpres 2019. Budiman kerap diajukan menjadi juru bicara dalam acara debat dengan para pendukung Prabowo Subianto yang menjadi lawan Jokowi. Budiman, sedikit banyak turut mengantarkan Jokowi ke kursi Presiden Republik Indonesia.
10. Bermanuver Politik dengan Menyatakan Dukungan ke Prabowo Subianto
Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, Budiman melakukan manuver politik dengan menyatakan dukungan terhadap Prabowo Subianto yang merupakan capres usungan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR).
Budiman resmi mendeklarasikan dukungannya kepada Prabowo Subianto di Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 18 Agustus 2023. Padahal PDIP sendiri telah mengusung Ganjar Pranowo sebagai capres di Pilpres 2024.
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto memberikan ultimatum kepada Budiman buntut deklarasi dukungan kepada Prabowo Subianto pada Pilpres 2024.
"Partai tidak mentolerir terhadap tindakan indisipliner setiap kader partai. Partai akan mengambil suatu tindakan yang tegas. Opsinya mengundurkan diri atau menerima sanksi pemecatan," kata Hasto, Minggu (20/8/2023).
Akibat manuver politiknya tersebut, Budiman Sudjatmiko akhirnya resmi dipecat dari keanggotaan PDIP pada Kamis (24/8/2023). Budiman mengaku telah menerima surat pemecatan sebagai kader PDI Perjuangan.
"Benar sudah saya terima (surat pemecatan PDIP). Tadi pukul 20.00 WIB saya menerimanya," ujar Budiman di Jakarta, Kamis (24/8/2023) malam.
Surat pemecatan itu ditandatangani langsung oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto pada hari Kamis (24/8/2023).
"Ini adalah pengakhiran dari satu episode dalam hidup saya dan memulai episode berikutnya. Bagian dari perjalanan saya sebagai manusia politik sejak saya remaja," kata Budiman.