Kepala Puspenma Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (Kemenag) Ruchman Basori saat diskusi terbatas dengan pimpinan FISIP UIN Sunan Ampel, di Kampus Gunung Anyar, Surabaya. Foto: Ist
SURABAYA, (ERAKINI) — Budaya mutu menjadi bekal terbaik bagi sebuah perguruan tinggi menghadapi era persaingan, menyambut Indonesia Emas 2045. Salah satunya ditentukan dengan penyiapan sumber daya manusia yang berkualitas.
Hal itu dikatakan Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma), Sekretariat Jenderal Kementerian Agama () Ruchman Basori, dalam diskusi terbatas dengan pimpinan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) , di Kampus Gunung Anyar, Surabaya.
Ruchman membeberkan, saat ini rasio magister dan doctor di Indonesia masih berkisar 0,53% masih tertinggal dengan Malaysia, Vietnam, dan Thailand yang sudah diangka 2,43%. Sementara negara-negara maju, seperti USA, Jepang, Korea, New Zaelan, Kanada dan Jerman sudah diangka 9,80%.
Dalam diskusi itu, alumni IAIN Walisongo ini menerangkan pelbagai program Puspenma, layanan Beasiswa Indonesia Bangkit, MoRA The Air Funds, PIP pada Pendidikan dasar dan menengah Keagamaan, KIP Kuliah dan investasi Pendidikan lainnya.
“Pendanaan Riset Indonesia Bangkit (MoRA The Air Funds) menjadi tema menarik untuk para dosen, di tengah anggaran riset yang terbatas”, kata Ruchman.
Sebagaimana diketahui, Kememag berkolaborasi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) memberian anggaran yang relatif besar untuk riset-riset keagamaan, sosial humaniora, ekonomi dan lingkungan, sains dan teknologi dan kebijakan bidang agama dan pendiidikan. Nilai penelitian berkisar antara Rp500 juta hingga Rp2 miliar.
Kegiatan diskusi terbatas, diikuti oleh jajaran Dekanat FISIP UIN Surabaya, mulai dari Dekan, Wakil Dekan, Ketua Jurusan, Sekretaris Jurusan, Kaprodi dan Sekprodi. Soal Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), juga dipaparkan oleh Ruchman kepada para pemangku kebijakan di fakultas yang cukup bergengsi di UIN Sunan Ampel ini.
“Prodi pada FISIP UIN Sunan Ampel dengan akreditasi unggul dapat menjadi destinasi bagi calon awardee BIB karena institusi UIN SA juga sudah unggul”, kata Doktor Manajemen Kependidikan Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini.
“Yang kurang mampu secara ekonomi, tetapi berpotensi secara akademik untuk studi maka diberikan KIP Kuliah, sementara bagi yang pintar tidak melihat latar belakang ekonomi dapat mengambil beasiswa”, lanjut Ruchman.
Sementara itu, Dekan FISIP UIN Surabaya Abdul Chalik mengatakan, pihaknya sengaja mendatangkan Puspenma agar mendapatkan penjelasan yang cukup tentang pembiayaan pendidikan untuk meningkatkan SDM.
“Saya berharap para dosen memanfaatkan kesempatan studi lanjut S3 di Dalam dan Luar Negeri, karena disediakan anggaran yang cukup dari Kementerian Agama. Kita siap berkolaborasi dan mengimplementasikan program-program pembiayaan Pendidikan, khusunya MoRA The Air Funds dan BIB Kemenag,” tegas Khalik.
Forum terbatas itu berlangsung dengan gayeng, antusias dan produktif. FISIP UIN Surabaya, dipimpin oleh kaum muda yang bersemangat, berdedikasi dan memiliki masa depan yang prospektif.