JAKARTA, (ERAKINI) - Bendahara Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Sumantri Suwarno membenarkan kabar pengunduran diri auditor yang tengah memeriksa laporan keuangan PBNU. Langkah itu diambil setelah muncul dugaan bahwa hasil pemeriksaan auditor dimanipulasi pihak tertentu hingga menimbulkan kesimpangsiuran di ruang publik.
Sumantri menyebut auditor merasa tidak nyaman karena temuan yang belum final justru dijadikan dasar opini yang menyeret nama sejumlah pihak, termasuk Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
“Auditor mengatakan mengundurkan diri dan suratnya sedang diproses karena mereka merasa apa yang mereka hasilkan sudah dikutip dan dimanipulasi sedemikian jauh untuk menimbulkan framing yang salah. Seolah-olah itu adalah hasil kerja dari auditor,” ujar Sumantri saat ditemui di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (2/12/2025).
Menurut Sumantri, proses audit masih berjalan dan klarifikasi kepada berbagai pihak belum dilakukan. Namun, sejumlah opini telah beredar dan dijadikan landasan untuk menekan atau bahkan menghukum pengurus tertentu.
“Proses yang dia lakukan belum selesai, tetapi sudah disimpulkan terlalu jauh dan digunakan untuk menghukum orang. Siapa yang melakukan itu? Terus terang saya tidak mengerti,” kata Sumantri.
Ia menilai munculnya opini-opini itu berasal dari pihak yang tidak sabar menunggu proses auditor bekerja secara tuntas.
“Ini kan bisa dipanggil kapan saja. Saya bahkan meminta kepada jajaran Syuriah, ya panggil saja saya. Terus panggil auditornya, kalau perlu panggil Bang Maming (Mardani Maming), supaya konstruksi masalah ini utuh,” katanya.
Diketahui, pengunduran diri auditor terjadi di tengah memanasnya dinamika internal antara Syuriah dan Tanfidziyah PBNU dalam beberapa pekan terakhir. Ketegangan mencuat setelah beredar Risalah Rapat Harian Syuriah yang mencantumkan permintaan agar Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, mengundurkan diri.
Rapat itu disebut digelar di Hotel Aston, Jakarta, Kamis (20/11/2025), dan dihadiri 37 dari 53 pengurus harian Syuriah. Risalah tersebut juga memuat tanda tangan Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar.
Namun, sejumlah petinggi Syuriah membantah adanya keputusan meminta Gus Yahya mundur. Mereka menyebut tidak pernah memberikan persetujuan, sehingga kedua kubu kini saling mengklaim versi kebenarannya.
Perseteruan tersebut bahkan berujung pada pencopotan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dari posisi Sekjen PBNU, yang dinilai lebih berpihak kepada kubu Syuriah.
Soal dinamika di PBNU, para kiai sepuh NU sempat menggelar Forum Musyawarah Sesepuh di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, Minggu (30/11/2025). Pertemuan itu diprakarsai KH Anwar Manshur (Lirboyo) dan KH Nurul Huda Djazuli (Ploso) sebagai langkah mengembalikan kondusifitas organisasi.
Dalam waktu yang bersamaan, muncul pula tuduhan kepada Gus Yahya terkait dugaan aliran transaksi keuangan mencurigakan (TPPU) ke rekening PBNU senilai Rp100 juta. PBNU menegaskan bahwa dugaan soal TPPU tidak benar dan menyatakan bahwa semua keuangan di PBNU dapat dipertanggungjawabkan.