Ilustrasi - BMKG ingatkan adanya potensi hujan lebat di sejumlah daerah pada awal Ramadan 2026, tepatnya hingga tanggal 23 Februari 2026. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) - Memasuki awal Ramadan 2026, masyarakat di berbagai wilayah Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan dengan intensitas signifikan. Peringatan ini disampaikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam prospek cuaca mingguan periode 17-23 Februari 2026, berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer terbaru.
Sebagaimana dilansir dari laman resminya pada Rabu (18/2/2026), BMKG menjelaskan bahwa peningkatan curah hujan berkaitan erat dengan menguatnya Monsun Asia. Aliran angin baratan yang lebih dominan mendorong percepatan pertumbuhan awan konvektif, khususnya di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan.
Selain itu, anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang bernilai negatif di sejumlah wilayah menandakan meluasnya tutupan awan tebal. Kondisi ini identik dengan meningkatnya aktivitas konveksi yang berpotensi memicu hujan lebat.
Faktor lain yang turut berperan adalah aktifnya Gelombang Rossby Ekuator dan Gelombang Kelvin di beberapa kawasan, termasuk Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Kombinasi fenomena ini memperkuat proses pembentukan awan hujan.
Dalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan dinamika atmosfer skala global, regional, dan lokal masih akan berdampak nyata terhadap cuaca nasional. Indikator Southern Oscillation Index (SOI) dan Niño 3.4 menunjukkan kondisi La Niña lemah. Situasi ini cenderung meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian timur.
Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) juga diprediksi ikut memperkuat pembentukan awan hujan. Dalam beberapa hari mendatang, MJO diperkirakan berada pada fase Samudra Hindia (Indian Ocean), yang berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan di banyak wilayah Indonesia.
Tak hanya itu, interaksi antara MJO, Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuator, serta gelombang frekuensi rendah terpantau aktif di sejumlah perairan dan daratan strategis. Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Samudra Hindia barat Sumatra hingga barat daya Jawa, perairan barat Sumatra, Sumatra bagian utara dan tengah, Selat Malaka, Laut Natuna, Selat Karimata, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, hingga Samudra Pasifik utara Papua dan timur laut Papua Nugini.
Monsun Asia yang masih aktif diperkirakan terus memasok massa udara dan uap air dalam jumlah besar ke wilayah Indonesia. Kondisi ini diperkuat oleh indeks surge yang menunjukkan nilai signifikan dalam beberapa hari ke depan.
Di sisi lain, terpantau adanya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat daya Lampung, barat Aceh, perairan barat Kalimantan Barat, serta Samudra Pasifik utara Papua. Dengan tingkat kelembapan udara yang tetap tinggi, kombinasi faktor-faktor tersebut berpotensi meningkatkan intensitas hujan secara signifikan di berbagai daerah.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang. Risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan genangan air diperkirakan meningkat, terutama di wilayah dengan topografi rentan.
Memasuki bulan suci Ramadan, masyarakat diharapkan tetap memantau informasi cuaca terkini serta mengikuti arahan otoritas setempat guna meminimalkan dampak yang mungkin terjadi.