Peserta yang dinyatakan lulus seleksi calon taruna Akademi Kepolisian (Akpol) di Polda Nusa Tenggara Timur (NTT). Foto: Humas Polda NTT
KUPANG, (ERAKINI)- Proses seleksi calon taruna Akademi Kepolisian (Akpol) di Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) menuai sorotan karena dugaan kecurangan dan nepotisme. Sebab, dari 11 calon taruna yang lolos seleksi, tidak satu pun yang berasal dari warga asli NTT.
Seleksi Akpol ini pun ramai disorot di media sosial, karena mayoritas calon yang dinyatakan lolos berasal dari marga Batak atau Sumatera Utara, bukan dari . Umpatan dan sindiran pun banyak muncul di platform seperti WhatsApp dan media sosial terkait pengumuman hasil seleksi taruna 2024 oleh panitia daerah Polda .
Nama NTT pun diubah oleh warganet dengan sebutan 'Nusa Tempat Titip'. Warganet juga menyindir bahwa naturalisasi ternyata tidak hanya terjadi dalam sepakbola, tetapi juga dalam seleksi calon taruna Akpol lintas provinsi.
Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda NTT, Kombes Pol Ariasandy, menegaskan, proses seleksi telah dilakukan secara terbuka dan transparan, tidak ada yang ditutup-tutupi.
“Siapa saja boleh mendaftar, dan tidak ada yang ditutup-tutupi selama proses seleksi,” ujarnya dikutip dari Antara Kupang, Senin (8/7/2024).
Selain itu, proses seleksi juga melibatkan pengawasan ketat dari pihak internal Polda NTT serta eksternal seperti media, dokter, psikolog, dan berbagai instansi terkait lainnya.
Ujian dilaksanakan menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT) di laboratorium komputer sekolah-sekolah di Kota Kupang, dengan hasil ujian diumumkan secara langsung setelah ujian berakhir.
Bahkan, setelah ujian selesai hasil ujian langsung diumumkan saat peserta ujian keluar dari ruangan ujian. Sehingga setiap peserta bisa mengetahui hasil ujian masing-masing. Hal ini dilakukan agar jika ada yang tidak puas dengan hasil ujiannya, bisa langsung mengajukan protes di lokasi ujian kepada panitia.
Mantan Kapolres Timor Tengah Selatan (TTS) itu menambahkan, dari tiga kuota reguler terdapat tiga peserta yang lahir dan besar di NTT yang dinyatakan lolos ke pusat.
“Lalu ada dua orang yang sejak SD sudah tinggal di NTT, sehingga tidak benar jika dikatakan bahwa kurang prioritaskan putra dan putri NTT,” tegasnya.
Kabag Dalpers Biro SDM Polda NTT, AKBP Sajimin, menyebutkan, seleksi Akpol ini diikuti oleh 86 peserta, terdiri dari 70 pria dan enam wanita.
Setelah berbagai tahapan seleksi, mulai dari pemeriksaan administrasi hingga supervisi dari Mabes Polri, 20 peserta dinyatakan lolos untuk melanjutkan ke tahap akhir, dengan rincian 17 pria dan 3 wanita.
Tapi, Mabes Polri hanya memberikan alokasi kuota sebanyak 11 orang untuk Polda NTT, dengan rincian lima orang dari kuota Mabes dan enam orang kuota reguler.
Diketahui, Polda NTT telah selesai menggelar sidang akhir untuk menentukan kelulusan calon Akpol 2024 oleh Panitia Daerah (Panda) Polda NTT untuk tahun ajaran 2024 pada Kamis(4/7/2024) lalu.
Sidang berlangsung di aula Rupatama Lantai III Polda NTT yang oleh dipimpin Kapolda NTT Irjen Pol Daniel Tahi Monang Silitonga, didampingi Wakapolda Brigjen Pol Awi Setiyono, Irwasda Kombes Pol I Made Sunarta, dan Karo SDM Polda NTT Kombes Pol Satrya Yusada.
Sidang kelulusan ini juga turut dihadiri oleh para orang tua calon taruna Akpol, peserta seleksi, pengawas internal dan eksternal, serta para ketua tim seleksi.
Dalam sidang itu 11 peserta diyatakan lolos ke tahap berikutnya. Peserta yang dinyatakan lulus kemudian berangkat ke Akpol Semarang untuk mengikuti seleksi tingkat Mabes selama tiga pekan, yakni dari 7 Juli hingga 1 Agustus 2024.
Mereka selanjutnya akan memulai pendidikan di Lemdik Akpol Semarang mulai 2 Agustus 2024 dengan durasi pendidikan selama 4 tahun.