Gaungkan Ekoteologi, Menag: Tanpa Bahasa Agama Mustahil Benahi Lingkungan
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar terus menggaungkan konsep ekoteologi sebagai pendekatan spiritual dalam membenahi lingkungan guna mencegah bencana alam, seperti banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Menag menegaskan, tanpa pendekatan cinta dan agama, mustahil bumi dapat dilindungi dari kerusakan lingkungan.
“Poin pentingnya adalah penggunaan bahasa agama dalam merawat lingkungan (saving the environment). Tanpa bahasa agama, mustahil menciptakan kesadaran lingkungan yang mendalam. Dengan agama, merusak lingkungan itu dosa, memeliharanya adalah pahala,” ujar Menag dalam Dialog Media jelang akhir tahun di Jakarta, Selasa (23/12/2025).
Menag menjelaskan, konsep ekoteologi merupakan cara merawat lingkungan dengan hati dan pikiran yang hijau. Implementasinya diwujudkan melalui berbagai program konkret, antara lain penanaman lebih dari satu juta pohon, penerapan green pesantren, Eco-Masjid, dan KUA Ramah Lingkungan. Selain itu, melakukan penghematan kertas setara 7.700 pohon melalui sistem digital, serta pembangunan pascabencana dengan prinsip green building.
Nasaruddin mengakui, menggaungkan konsep kurikulum cinta dan ekoteologi bukan hal yang mudah. Menurutnya, masih banyak pihak yang mempertanyakan keterlibatan Kementerian Agama dalam isu lingkungan. Namun, konsep ekoteologi Kemenag ini justru mendapat sambutan positif dari dunia internasional
“Banyak yang bertanya, ‘kenapa Kementerian Agama bicara ekologi? Saya kemarin diundang khusus oleh Paus Fransiskus. Sebuah kebanggaan, di antara pimpinan umat beragama dunia, diminta mendampingi Paus,” ungkapnya.
















