JAKARTA, (ERAKINI) - Pengajian Buya Yahya di Cirebon, Jawa Barat tidak pernah sepi dari jemaah yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Buya Yahya dikenal sebagai ulama yang cerdas dengan segudang cabang ilmu agama Islam seperti tasawuf, fiqih, ulumul Quran dan gramatika Bahasa Arab.
Perjalanan dakwah Buya Yahya selalu menarik diulas sebagai motivasi yang dapat diterapkan masyarakat, terutama dalam upayanya menjauhkan diri dari sifat iri dengki dan kebodohan. Tak kalah dengan muda, ceramah-ceramah selalu trending dan FYP di media sosial TikTok dan Youtube. Para jemaah membagikan potongan ceramah yang berkaitan dengan fenomena masyarakat sekarang hingga perkara hukum Islam lainnya.
Untuk membahas lebih jauh sosok Buya Yahya, mari kita simak ulasan berikut ini:
Dilansir dari situs STAI Al-Bahjah pada Jumat (27/12/2024), Buya Yahya memiliki nama lengkap Yahya Zainul Maarif. Dia dikenal luas sebagai ulama yang aktif mengajar dan berdakwah di Cirebon sejak 2005. Bahkan kegiatan dakwahnya meluas ke berbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri.
Lahir di Blitar 10 Agustus 1973, Buya Yahya menghabiskan masa pendidikan dasar dan menengahnya di kota kelahirannya, sebelum melanjutkan pendidikan agama di Yaman.
Perjalanan dakwahnya dimulai ketika ia diutus oleh gurunya, Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun, untuk memimpin Pesantren Persiapan bagi mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke Universitas Al-Ahgaff di Yaman.
Pada awalnya, Buya Yahya mengontrak tempat di Pondok Pesantren Nuurussidiq di Cirebon pada tahun 2006. Meski belum mendapatkan izin dari gurunya untuk berdakwah, ia tetap sabar dan tekun mengembangkan dakwahnya.
Setelah memperoleh izin pada akhir 2006, Buya Yahya mulai berdakwah secara resmi. Ia memulai dakwah dari musholla-musholla kecil, tanpa memaksakan diri dan dengan pendekatan yang sederhana.
Usahanya kemudian dimudahkan oleh Allah SWT, yang membuka jalan bagi Buya Yahya untuk menyampaikan dakwah di masjid-masjid besar, seperti Masjid At-Taqwa di alun-alun Cirebon.
Dalam waktu yang relatif singkat, majelis taklim yang ia asuh menjadi sangat populer, dengan jamaah yang semakin ramai setiap malam. Selain itu, ia juga membuka majelis taklim bulanan di berbagai tempat di Cirebon, Majalengka, Kuningan, Indramayu, dan sekitarnya.
Tak hanya di masjid, dakwah Buya Yahya juga menjangkau berbagai tempat umum, seperti swalayan dan department store. Ia juga berperan dalam penyebaran dakwah lewat media, termasuk program pesantren udara yang ia jalankan di Stasiun Radio Salma 101 FM, untuk mengisi setiap celah kehidupan dengan dakwah yang bermanfaat.
Riwayat Pendidikan
Sebelum menuntut ilmu di Yaman, Buya Yahya menuntut pendidikan agama di Madrasah Diniyah Blitar dan Pesantren Darullughah Wadda’wah di Bangil, Pasuruan. Setelah itu, pada tahun 1996, ia berangkat ke Universitas Al-Ahgaff di Yaman untuk melanjutkan pendidikan.
Di Yaman, Buya Yahya mendalami berbagai ilmu agama Islam, seperti fiqih, aqidah, ulumul Quran, dan hadits, dengan belajar dari sejumlah ulama besar, termasuk Syekh Fadhol Bafadhol, Syekh Muhammad Al Khotib, dan Habib Ali Masyur Bin Hafidz. Ia juga mengambil ilmu ushul fiqih dan bahasa Arab dari para pakar seperti Syekh Muhammad Al-Hafid Assyingqithi dan Dr. Mahmud Assulaimani dari Mesir.
Selama di Yaman, Buya Yahya mengajar di Fakultas Tarbiyah dan Dirosah Islamiah serta Markas Pendidikan Bahasa Arab di Universitas Al-Ahgaff, yang semakin memperkaya ilmunya.
Buya Yahya tidak hanya berfokus pada dakwah melalui majelis taklim, tetapi juga mendirikan lembaga pendidikan formal melalui Yayasan Al-Bahjah, yang kini telah memiliki sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA.
Sebagai langkah selanjutnya, Buya Yahya memprakarsai pendirian Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Bahjah untuk menampung santri yang ingin menjadi juru dakwah yang profesional. Perguruan tinggi ini menawarkan berbagai jurusan, termasuk Manajemen Haji dan Umroh, Hukum Tata Negara, Manajemen Pendidikan Islam, Ekonomi Syariah, dan Pendidikan Matematika, dengan tujuan untuk mencetak generasi ulama yang memiliki wawasan keilmuan luas.
Kini, Buya Yahya aktif berdakwah di berbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri, mengasuh majelis taklim Al-Bahjah, serta mengelola Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah yang berpusat di Cirebon.
Keberadaan Buya Yahya sebagai penyebar dakwah risalah Islam memberikan pencerahan bagi umat, terutama di tengah tantangan global yang semakin intens terhadap Islam.
Dengan segala pencapaian dan kiprahnya, Buya Yahya terus memberikan teladan dalam dakwah, bukan hanya melalui ucapan, tetapi juga melalui sikap dan keteladanan yang mencerminkan kecintaan beliau kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.