Presiden Amerika Seirkat Donald Trump berbicara dengan Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (Foto: Antara/Reuters).
JAKARTA, (ERAKINI) - Kunjungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ke negara-negara Teluk yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Qatar dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas politik dan ekonomi kawasan Timur Tengah. Lebih dari itu, kondisi ini diyakini membuka peluang baru bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.
Hal itu disampaikan oleh Akademisi dan Dosen Hubungan Internasional Program Studi Ketahanan Nasional Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI), Muhamad Syaroni Rofi’i, dalam acara diskusi bertajuk 'Amerika dan Dunia Arab Pasca Kunjungan Presiden Donald Trump' yang digelar Forum Kramat di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (23/5/2025).
"Pertemuan Trump dengan negara-negara di Timur Tengah bisa berdampak pada stabilitas kawasan. Timur Tengah saat ini tengah menggeliat dalam aktivitas ekonomi dan pembangunan," ujar Syaroni.
Menurut dia, berbagai perusahaan asal Amerika Serikat mulai membangun proyek-proyek berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di kawasan tersebut. Karena negara-negara Teluk memiliki keterbatasan sumber daya manusia (SDM), peluang terbuka bagi tenaga kerja terampil dari negara lain, termasuk Indonesia.
"Indonesia bisa memanfaatkan kedekatan dengan negara-negara Timur Tengah untuk mengisi kebutuhan SDM. Selain itu, Indonesia yang kaya bahan mentah bisa menjadi pemasok bagi kawasan tersebut," ujarnya.
Syaroni mencontohkan proyek pengembangan kawasan wisata Naomi di Timur Tengah yang tengah berjalan. Proyek ini dinilai berpotensi menyerap tenaga kerja Indonesia di sektor perhotelan dan jasa.
"Selama ini banyak posisi di bidang hospitality diisi oleh pekerja dari Bangladesh, Vietnam, dan Filipina. Kita bisa masuk ke sektor ini, bukan lagi hanya sebagai pekerja rumah tangga, tapi tenaga terampil di hotel, spa, dan layanan lainnya," katanya.
Dampak positif lainnya bagi Indonesia adalah stabilitas kawasan Timur Tengah yang erat kaitannya dengan perjalanan ibadah umat Muslim Indonesia.
"Timur Tengah adalah mitra spiritual kita. Jika situasi di sana stabil, perjalanan umrah dan haji akan lebih aman dan harga tiket pesawat juga lebih stabil," tuturnya.
Selain itu, kestabilan kawasan turut memengaruhi harga minyak dunia. Jika gejolak politik di Timur Tengah dapat diredam, harga minyak pun cenderung lebih stabil. "Dan ini tentu berdampak langsung pada harga BBM di Indonesia," kata Syaroni.
Dia pun menilai secara keseluruhan, pertemuan Donald Trump dengan negara-negara Teluk membawa dampak positif bagi Indonesia, baik dari aspek ekonomi, ketenagakerjaan, maupun stabilitas energi.
Sementara itu, menurut Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ulil Abshar Abdalla, kunjungan Presiden Amerika SerikatDonald Trump ke kawasan Teluk menandai perubahan signifikan dalam kebijakan luar negeri AS terhadap negara-negara Arab.
Kunjungan ini mencakup Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab, tanpa melibatkan Israel. Menurut Ulil, hal ini berbeda dengan kunjungan Trump pada 2017 yang juga menyertakan Israel dalam agenda perjalanannya.
"Ini adalah kunjungan yang mengejutkan, karena kali ini tidak ada Israel dalam daftar negara yang dikunjungi. Hal ini mencerminkan dinamika politik baru," kata Ulil.
Diketahui, kegiatan diskusi yang digelar Forum Kramat merupakan agenda rutin PBNU yang membahas berbagai persoalan global. Kegiatan kali ini turut dihadiri ratusan peserta dari berbagai unsur masyarakat, termasuk perwakilan badan otonom dan lembaga di bawah naungan PBNU.