Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko (Foto: tangkapan layar kanal youtube Penjaga Harapan)
JAKARTA, (ERAKINI) - Aktivis dan politisi Budiman Sudjatmiko resmi dilantik sebagai Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) oleh PresidenPrabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa (22/10/2024) lalu.
Penunjukan ini menjadi catatan penting dalam perjalanan politik Budiman yang dikenal sejak era Orde Baru sebagai aktivis pro-demokrasi. Setelah menyatakan mundur dari PDIP, Budiman mendukung pasangan Prabowo-Gibran di Pilpres 2024.
Kini, usai Prabowo-Gibran resmi memimpin pemerintahan, Budiman diberikan peran strategis dengan misi besar yaitu menurunkan angka kemiskinan secara sistematis.
Dalam sebuah podcast di kanal YouTube Penjaga Harapan seperti dilihat erakini, Rabu (25/6/2025), Budiman ditanya terkait idealisme aktivis, apakah memungkinkan dapat digunakan untuk membantu masyarakat, terlebih Budiman kerap dianggap sebagai musuh Presiden Prabowo karena selalu berseberangan.
Menjawab pertanyaan tersebut, Budiman menegaskan bahwa keterlibatannya di pemerintahan justru memperkuat posisinya sebagai bagian dari perjuangan rakyat.
“Menjadi aktivis itu kan berpihak pada rakyat dan berpihak pada masa depan. Ingin masa depan yang lebih baik untuk kita semua, ingin rakyat yang lebih sejahtera di hari ini dan di masa depan. Jadi semangatnya sebenarnya masih sama,” kata Budiman.
Budiman menilai bahwa penempatannya dalam lembaga yang fokus pada isu kemiskinan merupakan kelanjutan dari advokasi yang telah ia geluti sejak 1990-an, terutama terkait hak-hak korban penggusuran dan ketimpangan agraria.
“Kalau dulu dari resistensi, pergelangan perlawanan, sekarang menjadi eksekusi,” tuturnya.
Budiman juga menyebut bahwa banyak aktivis yang kini memilih jalur baru, termasuk menjadi teknolog. Dia menyebut mereka sebagai para pengembang teknologi akar rumput yang tetap memperjuangkan nilai-nilai sosial melalui inovasi digital.
“Hari ini mereka bukan pakai poster, bukan pakai spanduk, bukan pakai bom molotov, tapi tetap bicara soal problem sosial. Mereka menjadi coder, software engineer, bikin drone, bikin IOT, dan tetap mengabdi untuk rakyat,” ujarnya.
Budiman mengaku sering bertemu kembali dengan rekan-rekan seperjuangannya dahulu, dari aktivis agraria hingga penggiat desa yang kini terlibat dalam berbagai inisiatif pembangunan.
Budiman menegaskan bahwa peran barunya bukan berarti meninggalkan idealisme, melainkan membawa idealisme itu ke dalam kebijakan konkret.
“Bahasa aja, gagasanmu jadikan itu realita. Jadikan itu kebijakan. Isinya nggak beda, cara dan instrumennya yang berbeda,” katanya.
Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa dirinya turut menjaga dan merealisasikan visi besar Presiden Prabowo.
“Saya menjaga gagasan Presiden hari ini. Dan mikirnya tuh mungkin 10–20 tahun ke depan, yang mungkin masyarakat atau kebanyakan orang belum sampai sana,” ujarnya.