TNI memiliki sejumlah satuan khusus dengan kemampuan di atas rata-rata, salah satunya Kopassus. Foto: Dok TNI
JAKARTA, (ERAKINI) - TNI memiliki sejumlah satuan khusus dengan kemampuan di atas rata-rata. Tiga matra TNI masing-masing memiliki pasukan elite yang disegani hingga dunia.
TNI terbagi dalam tiga matra yang memiliki tugas dan fungsinya masing-masing. Ketiga matra , yakni Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Angkatan Udara ( AU).
Ketiga matra TNI ini memiliki pasukan khusus. Tugas pasukan khusus ini berbeda dengan satuan pada umumnuya. Pasukan khusus ini merupakan satuan militer yang dibentuk dan dilatih khusus untuk melakukan misi-misi tertentu.
Karenanya, pasukan khusus ini merupakan satuan yang sangat terlatih. Berikut tiga pasukan khusus yang dimiliki masing-masing matra TNI:
Kopassus merupakan pasukan khusus milik matra TNI AD. Pasukan ini memiliki kemampuan khusus untuk gerak cepat dalam setiap medan, menembak cepat, pengintaian, dan anti-teror.
Kopassus identik dengan korps baret merah. Kopassus dibentuk pada 16 April 1952 . Pasukan berjuluk hantu rimba ini cukup disegani, bahkan di dunia.
Dikutip dari laman kopassus.mil.id, Rabu (3/1/2024), cikal bakal lahirnya Kopassus bermula dari pristiwa bulan Juli 1950, dimana saat itu terjadi pemberontakan di Maluku oleh kelompok yang menamakan diri Republik Maluku Selatan (RMS). Pimpinan Angkatan Perang RI saat itu segera mengerahkan pasukan untuk menumpas gerombolan tersebut, dan berhasil.
Peristiwa itu kemudian mengilhami Letkol Slamet Riyadi untuk mempelopori pembentuan satuan pemukul yang dapat digerakkan secara cepat dan tepat untuk menghadapi berbagai sasaran di medan yang bagaimanpun beratnya.
Setelah Letkol Slamet Riyadi gugur dalam sebuah pertempuran di sekitar Kota Ambon, gagasan ini kemudian diteruskan oleh Panglima Tentara dan Teritorium III/Siliwangi, Kolonol AE Kawilarang.
Melalui Instruksi Panglima Tentara dan Teritorium III/Siliwangi, pada 16 April 1952 terbentuklah Kesatuan Komando Teritorium III yang merupakan cikap bakal Korps Baret Merah.
Dalam perjalannya, Kopasuus berhasil melakukan sejumlah operasi penting, antara lain penumpasan DI/TII, operasi militer PRRI/Permesta, Operasi Trikora, Operasi Dwikora, penumpasan G30S, Pepera di Irian Barat, dan Operasi Seroja di Timor Timur.
Kopassus juga berhasil melakukan operasi pembebasan sandera di Bandara Don Muang-Thailand (Woyla), Operasi GPK di Aceh, operasi pembebasan sandera di Mapenduma, dan operasi pembebasan sandera perompak Somalia.
Matra TNI AU juga memiliki pasukan khusus yang cukup disegani dunia, yakni Kopaskat. Ciri khas pasukan khusus ini, yaitu menggunakan baret warna jingga. Pasukan ini merupakan pasukan tempur untuk kebutuhan matra udara yang memiliki kemampuan terjun payung militer.
Awalnya, pasukan khusus TNI AU bernama Korps Pasukan Khas (Kopaskhas). Kopaskhas resmi berganti nama menjadi Kopasgat pada Januari 2022. Perubahan nama itu tertuang dalam Surat Keputusan Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa Nomor Kep/66/I/2022.
Kopasgat awalnya dinamai Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) yang ditetapkan pada 17 Oktober 1947. Dalam perjalanannya, Kopasgat kemudian berubah menjadi Kopaskhas hingga akhirnya kembali menjadi Kopasgat.
Kopasgat ini berawal ketika Gubernur Kalimantan Pangeran Muhammad Noor meminta kepada AURI agar mengirimkan pasukan payung ke Kalimantan untuk membentuk dan menyusun gerilyawan, membantu perjuangan rakyat di Kalimantan.
Atas inisiatif Komodor (U) Soerjadi Soerjadarma kemudian dipilih 12 putra asli Kalimantan dan 2 orang PHB AURI untuk melakukan penerjunan. Pada 17 Oktober 1947, sebanyak 13 orang berhasil diterjunkan di Sambi, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Mereka diterjunkan dari pesawat C-47 Dakota RI-002 yang diterbangkan oleh Bob Freeberg berkebangsaan Amerika sekaligus sebagai pemilik pesawat. Ini adalah operasi lintas udara pertama dalam sejarah Indonesia.
Penerjunan yang dilakukan oleh 13 prajurit AURI tersebut merupakan peristiwa yang menandai lahirnya Kopasgat. Pasgat merupakan satuan tempur darat berkemampuan tiga matra, yaitu udara, laut, darat.
Setiap prajurit Pasgat minimal harus memiliki kualifikasi parakomando (Parako) untuk dapat melaksanakan tugas secara profesional, kemudian ditambahkan kemampuan khusus kematraudaraan sesuai dengan spesialisasinya.
Pasgat sebagai pasukan pemukul siap diterjunkan di segala medan baik hutan, kota, rawa, sungai, maupun laut untuk menumpas semua musuh yang melawan NKRI. Paskhas mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki oleh pasukan khusus lainnya yaitu, Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara Depan (OP3UD)
Kopaska merupakan pasukan khusus milik TNI AL. Pasukan ini dibentuk atas arahan Presiden Ir Soekarno untuk mendukung pembebasan Irian Barat pada 31 Maret 1962. Unit ini berfokus pada pelatihan dan tugas-tugas di lingkungan bawah air seperti air, sungai, dan danau.
Kopaska sering dikenal sebagai pasukan tengkorak karena mereka memiliki atribut identitas khas. Mulai dari pemakaian baret merah, kacamata hitam, dan masker motif tengkorak.
Kopaska memiliki dua divisi operasional, yang terletak di dua lokasi berbeda, yakni di Ujung Surabaya dan juga Satuan Pasukan Katak Armabar di wilayah Jakarta Utara.
Semboyan Kopaska adalah "Tan Hana Wighna Tan Sirna" yang berarti "Tidak ada rintangan yang tidak dapat diatasi" mencerminkan kemampuan dan tekad unit ini mengatasi segala tantangan.
Tugas utama kopaska adalah peledakan/demolisi bawah air, termasuk sabotase/penyerangan rahasia ke kapal lawan dan sabotase pangkalan musuh.
Dilansir dari laman tni.mil.id, Kopaska didirikan pada 31 Maret 1962 oleh Presiden Soekarno. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri/ Kepala Staf Angkatan Laut Nomor Kep.M/KSAL.5401.13, Kopaska diresmikan oleh Laksamana Madya RE Martadinata.
Ide pembentukan pasukan khusus Angkatan Laut ini sudah ada sejak periode awal kemerdekaan Republik Indonesia. Adanya blokade laut oleh Angkatan Laut Belanda mempersulit jalannya kapal Indonesia-Singapura.
Soekarno memberikan instruksi untuk membentuk satuan yang bisa menyerang kapal Belanda tetapi rencana pembentukan Pasukan Katak pada masa ini tidak berjalan baik.
Pada awal tahun 1960-an, Indonesia kembali menghadapi tantangan mempertahankan Irian Barat dari klaim Belanda. Menjelang Operasi Trikora, Angkatan Laut Republik Indonesia dipimpin oleh Menteri Panglima Angkatan Laut, Raden Eddy Martadinata, mengadakan latihan secara diam-diam.
Dari 17 orang yang ditunjuk, hanya 12 orang yang dinyatakan lulus seleksi. Puncak latihan tertutup ini dilaksanakan di halaman kolam renang Senayan Jakarta. Setelah itu, Kopaska ditetapkan untuk tugas di lingkungan perairan termasuk Irian.
Setelah Operasi Trikora, Kopaska tetap menjadi bagian penting keamanan maritim Indonesia. Kopaska terus berpartisipasi dalam latihan dan operasi khusus di bawah permukaan air.