Menteri Agama Nasaruddin Umar meninjau progres pembangunan Masjid Negara di IKN, Minggu (11/1/2026). Foto: Humas Kemenag
NUSANTARA, (ERAKINI) –Masjid Negara di Ibu Kota Nusantara (IKN) siap difungsikan selama Ramadan dan untuk Salat Idul Fitri 1447 H. Bahkan, salat Subuh berjamaah perdana sudah digelar di Masjid Negara pada Minggu (11/1/2026). Menteri Agama () bertindak sebagai imam sekaligus khatib.
Seusai melaksanakan salat Subuh, Nasaruddin Umar bersama Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono meninjau kesiapan operasional Masjid Negara, khususnya dalam menyambut bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 2026.
“Saya dan Pak Bas (Basuki Hadimuljono) mencoba untuk memanfaatkan masjid tercantik kita di Indonesia saat ini, Masjid IKN (Masjid Negara), menjelang bulan suci Ramadan, menjelang Bapak Presiden datang berkunjung ke tempat ini. Jadi kami melihat juga sejauh mana persiapan menjelang bulan suci Ramadan, karena insyaallah bulan suci Ramadan yang akan datang kita sudah mulai aktif menggunakan Masjid IKN (Masjid Negara),” kata Nasaruddin.
Berdiri di kawasan peribadatan Nusantara, Masjid Negara terdiri atas empat lantai dengan tambahan dua lantai mezanin. Dengan luas bangunan mencapai 76.647 meter persegi dan kapasitas hingga 29.095 jemaah, Masjid Negara juga diproyeksikan untuk diperluas agar dapat mengakomodasi hingga 60.000 jemaah, seiring bertumbuhnya aktivitas masyarakat di Nusantara.
Operasional Masjid Negara menjadi bagian dari kesiapan Nusantara sebagai pusat kegiatan pemerintahan sekaligus ruang interaksi sosial, spiritual, dan kebudayaan. Pembangunan fasilitas ini turut mencerminkan prinsip inklusivitas.
Sebagai ikon baru kegiatan keagamaan di ibu kota negara, Masjid Negara diharapkan menjadi penggerak atmosfer keberagamaan yang damai, produktif, dan modern, serta memberi ruang bagi masyarakat dari berbagai daerah untuk beribadah dan berinteraksi.
Menag memastikan percepatan pembangunan sarana peribadatan di IKN yang akan menjadi pusat spiritualitas sekaligus simbol kerukunan umat beragama.
Saat ini, proses konstruksi difokuskan pada dua bangunan besar, yakni Masjid Negara dan Gereja Basilika. Namun, Menag menegaskan bahwa kawasan ini nantinya akan menjadi kompleks rumah ibadah yang inklusif.
“Saat ini Masjid Negara dan Basilika sedang berproses. Ke depannya, seluruh rumah ibadah lintas agama mulai dari gereja Kristen, vihara, kuil, hingga pura besar akan dibangun dalam satu kawasan yang berdekatan,” ujar Menag.
Sementara itu, Kepala Petugas Konstruksi Evry menjelaskan bahwa rumah ibadah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu dirancang untuk berdampingan secara harmonis di IKN. “Tahap awal memang dua bangunan ini, namun rencana besar mencakup klenteng besar, vihara, dan pura yang semuanya terintegrasi,” katanya.
Kemegahan Masjid Negara dan Filosofi Basilika
Progres pembangunan Masjid Negara kini telah mencapai 90 persen. Masjid megah ini memiliki kapasitas hingga 60.000 jemaah. Salah satu ikon yang paling mencolok adalah menara minaret setinggi 99 meter yang melambangkan 99 nama Allah (Asmaul Husna).
Sementara itu, pembangunan Gereja Basilika juga terus menunjukkan kemajuan signifikan. Jika dilihat dari udara, arsitektur bangunan ini akan membentuk simbol salib.
Gereja dengan kapasitas 1.600 umat ini juga akan dilengkapi fasilitas pendukung seperti Wisma Uskup, Jalan Salib dan Taman Gua Maria, hingga Gedung Kolaborasi Lintas Agama.
Dalam peninjauan tersebut, Menag memberikan masukan teknis dan estetis. Ia menyarankan penambahan ornamen dinding serta pengaturan pencahayaan (lighting) yang lebih artistik pada Masjid Negara maupun Basilika guna memperkuat aura spiritualitas bangunan.
Nasaruddin berharap fasilitas publik ini dapat segera rampung agar manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat dan pegawai di IKN.
“Kami berharap pembangunan ini berjalan lancar dan segera selesai. Apalagi sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadan. Harapannya, jika sudah rampung, masyarakat bisa langsung memanfaatkannya untuk beribadah dan memperkuat ukhuwah di lingkungan IKN,” tandasnya.