Anies mengatakan ingin proses demokrasi Pilkada Serentak 2024 berujung manfaat untuk rakyat. "Bukan manfaat untuk segelintir orang, bukan bermanfaat untuk elite," tegas Anies.
Menurut dia, suasana teduh harus tetap dijaga agar Pilkada 2024 tidak menimbulkan perpecahan dan konflik berkepanjangan di tengah masyarakat.
Anies mengakui telah melalui banyak dinamika politik selama proses Pilkada 2024, mulai gagal dicalonkan di Jakarta hingga Jawa Barat. Meski demikian, Anies mengaku tetap mensyukuri dan menjadikan perjalanan politiknya sebagai pelajaran.
Lantas apa rencana Anies ke depan setelah gagal jadi kontestan di Pilkada 2024? "Nanti saya akan sampaikan khusus terkait dengan rencana ke depan, langkah-langkah apa yang akan dikerjakan dan semua hal-hal yang menyangkut apa yang sudah dikerjakan, yang mau dikerjakan," pungkas Anies.
Diketahui, perjalanan politik Anies di tahun 2024 ini cukup tragis. Setelah kalah di Pilpres 2024, Anies harus menghadapi dinamika politik pilkada yang tidak mulus.
Sempat diusung sebagai bakal calon gubernur (bacagub) oleh PKS berpasangan dengan Mohamad Sohibul Iman untuk Pilkada Jakarta 2024, Anies secara mengejutkan ditinggal partai besutan Ahmad Syaikhu.
Anies gagal menambah dukungan kursi di DPRD DKI sebagai syarat dukungan, sehingga PKS tidak memungkinkan mengusung sendiri pasangan calon.
PKS akhirnya bergabung dengan Koaliasi Indonesia Maju (KIM), dan memilih mengusung Ridwan Kamil dan kadernya Suswono.
Ditinggal PKS, Anies mulai dikait-kaitkan dengan PDIP. Setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) memungkinkan PDIP mencalonkan sendiri jagoannya, Anies semakin santer bakal diusung oleh PDIP berpasangan dengan Rano-Karno. Puncaknya pada saat PDIP akan mengumumkan calon kepala daerah (cakada) gelombang 3 pada Senin (26/8/2024).
Ketua DPP PDIP Bidang Sumber Daya Said Abdullah sempat menyebut duet Anies-Rano Karno sudah hampir pasti. Bahkan Anies sudah merapat ke Kantor DPP PDIP untuk menghadiri pengumuman bakal cakada.
Akan tetapi, ketika Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengumumkan cagub dan cawagub untuk 6 provinsi, nama Anies-Rano Karno, tidak ada.
Sehari pendaftaran cakada dibuka, nama Anies malah menghilang. Muncul nama Pramono Anung-Rano Karno sebagai jagoan PDIP. Pada akhirnya, pilihan akhir Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri adalah duet Pramono-Rano Karno.
Gagal diusung PDIP di Pilkada Jakarta, peluang Anies mengikuti Pilkada 2024 dianggap sudah tertutup. Namun, tiba-tiba nama Anies kembali mencuat sebagai bacagub.
Anies kembali digadang-gadang maju pada Pilkada Jabar berpasangan dengan Ketua DPD PDIP Jabar Ono Suroso. Sama halnya di Pilkada Jakarta, Anies juga dikabarkan hampir pasti diusung PDIP.
Lagi-lagi, pada detik-detik akhir penutupan pendaftaran di KPUD Jabar Kamis (29/8/2024) malam, nama Anies tiba-tiba terdepak. Secara mengejutkan, PDIP mengusung Jeje Wiradinata dan Ronald Surapradja.
Ono Surono menegaskan ada pihak yang tidak menginginkan Anies maju dalam Pilkada Jabar 2024. "Ada tangan-tangan dari luar yang tidak menghendaki Pak Anies diusung di Jawa Barat," kata Ono, di Kantor KPUD Jabar, Jumat (30/8/2024).
"Siapa, Pak?" tanya wartawan. "Ya, Mulyono dan geng," jawab Ono. Lantas siapa sosok Mulyono? Ono enggan mengungkap sosok misterius itu. Yang pasti, kata dia, Mulyono tidak ingin Anies maju pada Pilkada Jabar.