Alumni SMID-PRD berfoto bersama pada acara Silatnas dan Reunin Akbar di Kalibata, Kamis (13/12/2024) (Foto: Ist)
JAKARTA, (ERAKINI) - Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Partai Rakyat Demokratik (PRD) menggelar Reuni Akbar dan Silaturahimi Nasional (Silatnas) di Kalibata, Jakarta Selatan pada Kamis (14/12/2024). Acara ini menjadi momen yang sangat dinantikan bagi para alumni untuk bernostalgia dan mempererat tali silaturahmi.
Ketua Panitia Silatnas, Jakobus Eko Kurniawan, mengungkapkan bahwa acara ini merupakan hasil kerja sama dan keinginan bersama para alumni untuk saling bertemu.
“Kami merasa terhormat menyelenggarakan Silatnas ini. Antusiasme tinggi dari alumni di berbagai daerah seperti Lampung, Jogja, Sumatera Selatan, Banten, NTB, Jawa Timur, Aceh, Kalimantan, hingga Sulawesi hadir, membuat kami semakin bersemangat,” ujarnya.
Silatnas kali ini juga dihadiri oleh sejumlah alumni ternama yang memiliki jabatan mentereng di kabinet Merah Putih, Prabowo-Gibran. Mereka adalah Faizol Riza (Wakil Menteri Perindustrian), Nezar Patria (Wakil Menteri Komunikasi dan Digital), Agus Jabo (Wakil Menteri Sosial), Habiburokhman (Anggota DPR RI), Natalius Pigai (Menteri HAM) dan Mugiyanto Sipin (Wakil Menteri HAM).
“Kita patut berbangga karena alumni SMID-PRD telah berkembang di berbagai bidang. Silatnas ini adalah kesempatan untuk merayakan kebersamaan dan pencapaian bersama,” tambah Jakobus dengan penuh semangat.
Sebagaimana diketahui, SMID-PRD dikenal sebagai kelompok mahasiswa yang vokal melawan rezim Orde Baru melalui advokasi dan aksi-aksi pemogokan massal. Pada 22 Juli 1996, secara resmi mendeklarasikan diri sebagai partai politik dan menerbitkan manifesto yang keras mengkritik pemerintahan Soeharto.
Kerusuhan besar terjadi di kantor DPP PDIP pada 27 Juli 1996, yang dikenal sebagai Kudatuli. Pemerintah menuduh PRD sebagai aktor utama di balik kerusuhan tersebut.
Tiga tokoh PRD yaitu Budiman Sudjatmiko, Andi Arief, dan Dita Indah Sari sempat ditangkap di waktu dan lokasi berbeda. Aktivis PRD lainnya juga ditangkap dengan tuduhan subversi atau upaya menggulingkan pemerintah.
Pada masa Orde Baru, lawan politik sering mengalami intimidasi hingga kematian tanpa proses hukum yang adil. Namun, beberapa tokoh PRD berhasil bebas. Andi Arief dilepaskan setelah sempat diculik di Lampung. Dita dan Budiman memperoleh amnesti dari Presiden Habibie dan Abdurrahman Wahid.
PRD sempat ikut dalam Pemilu 1999, tetapi hanya memperoleh 0,07% suara (sekitar 78 ribu suara) dan gagal mendapatkan kursi di DPR, menempatkan partai ini di peringkat 40 dari 48 peserta pemilu.
Sedangkan Prabowo Subianto, dituduh terlibat dalam sejumlah pelanggaran hak asasi manusia selama bertugas di militer. Salah satu tuduhan paling menonjol adalah keterlibatannya dalam penculikan aktivis pro demokrasi, termasuk diantaranya Budiman Sudjatmiko, Agus Jabo dan Faisol Riza pada 1997-1998. Saat itu, Prabowo masih menjabat sebagai Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Kini mereka yang dulu berlawanan dengan Prabowo tersebut berpotensi dilantik menjadi menteri dan wakil menteri di kabinet Prabowo-Gibran untuk pemerintahan 2024-2029.
Seperti apa sosok mantan aktivis PRD tersebut, berikut profilnya:
Budiman Sudjatmiko, adalah politisi kenamaan di Indonesia yang lahir pada 10 Maret 1970 yang kini menjabat Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan kabinet Prabowo-Gibran. Dia berasal dari Majenang, Cilacap Barat, Jawa Tengah. Namun sang aktivis itu besar dan tinggal di Bogor, Jawa Barat.
Sebelum masuk PDIP, Budiman adalah pendiri dan ketua umum PRD. Bukunya, Anak-Anak Revolusi, menjadi salah satu sumber informasi mengenai dunia aktivisme pada masa Orde Baru.
Pendidikan tinggi Budiman sebenarnya ditempuh di Universitas Gadjah Mada, namun kemudian aktivisme membuatnya drop out. Ia baru kembali melanjutkan pendidikannya selepas dipenjara ke Ilmu Politik di Universitas London dan Master Hubungan Internasional di Universitas Cambridge, Inggris.
Kini Budiman Sudjatmiko bersiap dilantik menjadi kepala badan yang mengurus masalah kemiskinan. Budiman yang terlihat happy usai pertemuan dengan Prabowo menyebutkan bahwa dia diajak terjun langsung untuk menyelesaikan masalah kemiskinan di Indonesia.
"Program kemiskinan baik di kota maupun di desa menyebabkan stunting, kurang gizi, ketertinggalan kita sehingga Pak Prabowo tadi meminta saya untuk menemani beliau secara reguler di kompleks istana untuk mengkoordinasikan pemberantasan kemiskinan di Indonesia," ungkap Budiman di Kompleks Kertanegara, Jakarta Selatan, Selasa (15/10/2024).
2. Agus Jabo Priyono
Agus Jabo Priyono adalah ketua umum Partai PRIMA sekaligus Wakil Menteri Sosial RI periode 2024-29. mantan aktivis yang menempuh pendidikan di Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Jawa Tengah. Bersama Budiman Sudjatmiko tahun 1996, Agus Jabo ikut mendirikan PRD dan sempat menjadi ketua umum setelah Budiman masuk PDIP.
Setelah gagal di Pemilu 1999, PRD tak lagi mengikuti pemilu selanjutnya hingga Pemilihan umum legislatif Indonesia 2019. Agus beserta sebagian rekan-rekannya di PRD mencoba peruntungan baru dengan mendirikan Partai Rakyat Adil Makmur (Prima) yang dideklarasikan pada 1 Juni 2021.
Kini Agus Jabo yang mendukung Prabowo Subianto di Pilpres 2024 berpotensi dilantik menjadi wakil menteri di kabinet Prabowo-Gibran 2024-2029.
Faisol Riza merupakan Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga Wakil Menteri Perindustrian RI periode 2024-2029. Sebelum bergabung dengan PKB, Faisol adalah kawan seperjuangan Budiman Sudjatmiko dan Agus Jabo yang sempat membesarkan PRD. Faisol juga sempat dipenjara karena melawan Orde Baru.
Kini santri yang juga aktivis tersebut, bersiap dilantik oleh Prabowo sebagai salah satu wakil menteri. Faisol mengaku bahwa telah ditugaskan untuk mendukung pemerintahan yang akan datang.
Namun, ia enggan untuk memberitahukan jenis tugas yang diberikan Prabowo kepadanya dalam kabinet yang akan datang. Ia meminta semua pihak untuk bersabar dan menantikan pengumuman resmi dari Presiden Terpilih Prabowo Subianto.
Faisol Riza sendiri lahir di Probolinggo pada 1 Januari 1973. Dia adalah aktivis yang terlibat dalam berbagai organisasi, termasuk menjadi ketua Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) pada periode 1998-1999 dan PRD.
Faisol mulai bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada tahun 2008 dan menjabat sebagai Wakil Ketua DPW PKB selama tahun 2008-2009. Sejak 2009, ia telah menjabat sebagai wakil sekretaris jenderal DPW PKB DKI Jakarta.
4. Habiburokhman
Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Habiburokhman juga diklaim sebagai alumni SMID-PRD. Meski belum banyak sumber yang mengungkap bahwa legislator ini adalah bagian dari SMID-PRD, Habiburrokhman memang cukup dekat dengan tokoh-tokoh SMID-PRD.
Habiburokhman merupakan anggota DPR RI periode 2019-2024 dan 2024-2029 yang lahir di Metro, Lampung, pada 17 September 1974. Ia menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila) dan S2 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, perjalanan kariernya penuh dengan kontribusi dan perjuangan, baik di dunia hukum maupun politik.
Semasa menjadi mahasiswa, Habib, demikian panggilan akrabnya, aktif di berbagai organisasi, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Unila, dan Keluarga Mahasiswa Pemuda Pelajar Lampung (KMPPRL). Pada era 1998-an, ia dikenal sebagai salah satu aktivis mahasiswa yang gigih memimpin demonstrasi untuk menuntut Presiden Soeharto mundur. Karena keterlibatannya dalam aksi-aksi protes, Habib beberapa kali ditangkap dan ditahan oleh pihak berwajib.
Pada tahun 2005, Habib mendirikan Serikat Pengacara Rakyat (SPR), sebuah organisasi yang rajin mengajukan gugatan Class Action untuk membela hak-hak rakyat. Selain itu, ia juga mendirikan Kantor Hukum Bisnis Habiburokhman & Co di Menteng, Jakarta Pusat, yang melayani klien-klien dari dalam dan luar negeri.
5. Nezar Patria
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria juga diklaim sebagai alumni SMID-PRD. Dia lahir pada 5 Oktober 1970 dan dikenal luas sebagai wartawan, aktivis, dan penyair yang memiliki perjalanan karier yang beragam dan cemerlang.
Sebelumnya, pada 17 Juli 2023, Nezar dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo) dalam Kabinet Indonesia Maju.
Nezar merupakan salah satu dari tiga belas korban penculikan aktivis pada masa Orde Baru, yang mengukuhkan dirinya sebagai sosok yang memiliki pengalaman luar biasa dalam perjuangan. Ia juga pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Harian The Jakarta Post dari 2015 hingga 2020, setelah sebelumnya mendalami dunia jurnalisme sebagai wartawan di Tempo pada 1999–2008.
Kariernya di media semakin cemerlang ketika ia menjadi pendiri portal berita online Viva.co.id (2008–2014) dan Wakil Pemimpin Redaksi di CNN Indonesia digital (2014–2015).
Nezar memperoleh gelar sarjana dari Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada 1997 dan kemudian melanjutkan pendidikan Magister Sejarah Hubungan Internasional di London School of Economics (LSE), Universitas London, Inggris. Ia adalah putra dari tokoh pers senior Aceh, Sjamsul Kahar, yang juga merupakan Pemimpin Umum Harian Serambi Indonesia.
Aktivis HAM sekaligus Menteri HAM periode 2024-2029, Natalius Pigai disebut-sebut sebagai alumni SMID-PRD. Jauh sebelum bergabung dengan kabinet Prabowo-Gibrab, Natalius Pigai dikenal luas sebagai anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) periode 2012–2017, di mana ia menjadi satu-satunya anggota yang berasal dari Papua.
Sebagai seorang aktivis, Pigai memiliki perjalanan panjang dalam dunia perjuangan hak asasi manusia. Ia pernah bekerja sebagai Staf Khusus Menteri di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia pada masa kepemimpinan Al Hilal Hamdi dan Jacob Nuwa Wea, antara tahun 1999 hingga 2004.
Pigai juga mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara selama 15 tahun di kementerian yang sama, dengan menempati berbagai jabatan fungsional dan struktural, termasuk sebagai Tim Asistensi Dirjen Kesbangpol Sudarsono Hardjosoekarto pada 2006–2008.
Pigai menempuh pendidikan Sarjana Ilmu Pemerintahan (S.I.P.) di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa "APMD" Yogyakarta pada tahun 1999.
Selain itu, ia juga aktif dalam berbagai organisasi, seperti PRD, PMKRI, WALHI, KontraS, Rumah Perubahan, dan Petisi 28, yang memperjuangkan hak-hak rakyat dan kepentingan kemanusiaan.
7. Mugiyanto Sipin
Mugiyanto dikenal sebagai aktivis pro-demokrasi yang aktif sejak berkuliah di Universitas Gadjah Mada. Pada 1990-an, Mugiyanto bergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID).
Aktivitasnya sebagai salah satu aktivis Reformasi membuat Mugiyanto diculik Tim Mawar dan disiksa.
Setelah Reformasi, Mugiyanto sempat aktif di Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) dan menjadi ketua pada periode 2000-2014.
Lembaga ini berfokus untuk membantu korban pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia.
Mugiyanto kemudian tetap berkiprah di sektor hak asasi manusia. Pada 2015-2020, ia bergabung dengan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) dan bertugas di bidang HAM dan demokrasi.
Mugiyanto juga aktif soal perjuangan HAM di tingkat regional, terlibat dalam Federasi Asia Melawan Penghilangan Paksa (AFAD) yang berpusat di Manila, Filipina pada 2006–2014.
Mantan korban penculikan ini kemudian bergabung dengan pemerintah dan menjadi tenaga ahli utama Kantor Staf Presiden (KSP) yang dipimpin Moeldoko. Mugiyono aktif terlibat dalam kegiatan pemerintah terkait penegakan hak asasi manusia.