PSTI Kecam Sanksi Berat Komdis PSSI untuk Yuran Fernandes
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) menyampaikan protes keras terhadap keputusan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI yang menjatuhkan sanksi berat kepada kapten PSM Makassar, Yuran Fernandes. Pemain asal Tanjung Verde itu dikenai larangan bermain selama satu tahun serta denda sebesar Rp 25 juta karena menyampaikan kritik terhadap kualitas wasit Liga 1 melalui media sosial.
Ketua Umum PSTI, Ignatius Indro, menyayangkan sikap PSSI yang dinilai tidak membuka ruang terhadap kritik konstruktif, terutama soal kinerja perangkat pertandingan. Menurutnya, PSSI telah menunjukkan sikap anti kritik yang menghambat perbaikan sepak bola nasional.
“Ini jelas menunjukkan PSSI sebagai organisasi anti kritik. Kritik Yuran seharusnya ditelaah, bukan langsung dijatuhi sanksi. Kita semua tahu kualitas wasit Liga Indonesia memang memprihatinkan. Tapi alih-alih memperbaiki, PSSI justru menghukum pengkritik,” ujar Indro, Minggu (11/5/2025).
Indro menilai bahwa sanksi 12 bulan larangan bermain yang dijatuhkan Komdis terlalu berlebihan. Ia berpendapat bahwa hukuman berat seharusnya diberikan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam praktik suap, bukan kepada pemain yang menyampaikan pendapatnya.
“Hukuman seperti ini semestinya untuk pelaku suap, bukan kritik. PSSI seharusnya menyelidiki keputusan-keputusan kontroversial yang muncul di lapangan, bukan membungkam suara pemain,” lanjutnya.
Lebih jauh, Indro menyinggung pola sikap anti kritik PSSI yang dinilainya bukan hal baru. Ia menyebut adanya upaya sistematis untuk meredam kritik, termasuk melalui penggunaan buzzer media sosial dan respons emosional beberapa anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI terhadap kritik publik.















