Pengamat Sosial, Ekonomi dan Keagamaan yang juga Wakil Ketua Umum (Waketum) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas. (Foto: Jakarta Islamic Centre)
JAKARTA, (ERAKINI) - Pengamat Sosial, Ekonomi dan Keagamaan yang juga Wakil Ketua Umum (Waketum) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menanggapi soal wacanalibur sekolah di bulan Ramadhan tahun ini.
Menurutnya, tempat belajar anak di bulan , bisa di mana saja, termasuk di rumah dan di tengah masyarakat dengan tujuan mengasah hingga .
“Kalau pendapat pribadi saya, yang libur itu adalah belajar di sekolah tapi tidak di rumah dan di tengah-tengah masyarakat. Jadi bagi saya pribadi anak-anak dalam bulan puasa tempat belajarnya dipindahkan dari sekolah ke rumah dan ke tengah-tengah masyarakat,” saat dihubungi Erakini melalui pesan WhatsApp (WA), Rabu (15/1/2025) malam.
Menurut Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu, libur belajar di sekolah itu tak lantas meliburkan belajarnya. Artinya, anak-anak bisa belajar di banyak tempat, termasuk di masjid, di lapas, di pasar, di lapangan olah raga, ke kantor kelurahan, di kantor DPRD, di pemukiman kumuh, di alam yang rusak dan alam yang terawat dan lainnya.
“Bagi saya, anak-anak di bulan puasa libur pergi ke sekolah, tapi mereka bisa belajar di rumah, atau di masjid, di lapas, di pasar, di lapangan olah raga, ke kantor kelurahan, ke kantor DPRD, ke pemukiman kumuh, ke alam yang rusak dan alam yang terawat dan lain-lain. Apa tujuan kita memindahkan tempat belajar mereka? Yaitu untuk meningkatkan keimanan, ibadah, akhlak, kecerdasan sosial, ilmu pengetahuan hingga life skill atau keterampilan hidup,” ujarnya.
Sementara itu, lanjut dia, guru tidak libur dan tetap memantau, mengawasi serta memberikan arahan kepada anak. “Ini agar tujuan dari program belajar di luar sekolah tersebut tetap berlangsung dengan baik,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya bahwa 3 kementerian sudah menyepakati keputusan mengenai libur sekolah saat bulan Ramadhan. Keputusan kini tinggal menunggu Surat Edaran (SE) Bersama.
"Sudah kita bahas tadi malam lintas kementerian. Tetapi nanti pengumumannya tunggu sampai ada SE Bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, serta Kementerian Dalam Negeri. Tunggu sampai surat edarannya keluar, mudah-mudahan dalam waktu singkat," ujar Mandikdasmen Abdul Mu'ti usai menghadiri Tanwir 1 Aisyiyah di Jakarta, Rabu (15/1/2025).
Menurut Mu'ti, sudah ada kesepakatan antara ketiga kementerian mengenai libur sekolah saat Ramadhan. Saat ini masyarakat hanya tinggal menunggu pengumuman resmi. Pihaknya juga masih menunggu kepulangan Menteri Agama Nasaruddin Umar dari Arab Saudi. "Intinya sudah kami bicarakan dalam rapat koordinasi lintas kementerian, dan sudah ada kesepakatan. Isinya bagaimana, kita tunggu sampai pada waktunya kita umumkan," tegasnya.
Mandikdasmen sebelumnya membeberkan terdapat sejumlah usulan dari masyarakat terkait libur sekolah saat Ramadhan. Pertama, ada masyarakat yang mengusulkan libur sekolah penuh selama Ramadhan. Lalu, kegiatan anak-anak selama libur akan diisi dengan kegiatan-kegiatan keagamaan yang diselenggarakan di masyarakat.
"Yang kedua, itu paro-paro (setengah-setengah). Artinya, ada sebagian. Biasanya, kalau yang berlaku sekarang awal Ramadhan itu libur. Jadi, misalnya tiga hari atau dua hari menjelang Ramadhan sampai misalnya empat hari atau lima hari Ramadhan pertama libur. Kemudian, habis itu masuk seperti biasa. Kemudian nanti biasanya menjelang Idul Fitri juga libur," jelas Mandikdasmen.