Menteri Haji dan Umrah RI Moch Irfan Yusuf atau Gus Irfan (ketiga dari kiri) foto bersama usai bertemu Gubernur Samarkand Adiz Boboev di Samarkand, Uzbekistan, Sabtu (5/9/2026). (Foto: Kemenhaj).
SAMARKAND, (ERAKINI) - Menteri Haji dan Umrah RI Moch Irfan Yusuf atau Gus Irfan memperkuat kerja sama Indonesia-Uzbekistan dalam pengembangan wisata religi dan konektivitas kedua negara.
Salah satu peluang yang dibahas adalah pembukaan langsung Indonesia-Uzbekistan untuk mendorong mobilitas wisatawan dan memperluas pilihan perjalanan . Hal itu disampaikan Menhaj saat bertemu di Samarkand, Uzbekistan, Sabtu (5/9/2026).
Pertemuan tersebut merupakan bagian dari kunjungan balasan setelah Gubernur Samarkand bertemu dengan Menteri Haji dan Umrah di Indonesia pada April 2026.
Gus Irfan mengatakan, hubungan Indonesia dan Uzbekistan memiliki akar sejarah yang panjang. Interaksi kedua bangsa telah terjalin bahkan sebelum Indonesia dan Uzbekistan menjadi negara merdeka, antara lain melalui kiprah ulama asal Asia Tengah dalam perkembangan Islam di Nusantara.
“Kita ingin menguatkan kembali hubungan yang sudah terbentuk sejak lama,” kata Gus Irfan.
Menurut Gus Irfan, kerja sama kedua negara memiliki ruang yang luas, termasuk dalam pengembangan wisata religi.
Dia menyebut sebagian jemaah umrah Indonesia memilih menambah perjalanan ke sejumlah negara lain seperti Turki, Dubai, dan kawasan Timur Tengah. Samarkand, kata dia, memiliki potensi untuk menjadi salah satu destinasi tambahan dalam perjalanan tersebut.
Namun, Gus Irfan menegaskan penyelenggaraan ibadah umrah di Indonesia dilakukan oleh pihak swasta melalui Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU). Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah berperan dalam pengaturan dan tata kelola penyelenggaraan umrah.
“Karena umrah diselenggarakan oleh PPIU, maka pembicaraan ini perlu dilanjutkan dengan para pelaku usaha perjalanan umrah,” ujarnya.
Dalam pertemuan itu, Gus Irfan juga mengundang wisatawan Uzbekistan untuk berkunjung ke Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki banyak destinasi wisata yang dapat menjadi pilihan wisatawan Uzbekistan, tidak hanya Bali.
“Indonesia bukan hanya Bali. Ada Lombok, Belitung, Wakatobi, dan banyak destinasi lain yang tidak kalah menarik,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Samarkand menyambut baik penguatan hubungan tersebut. Dia mengungkapkan bahwa Uzbekistan memiliki sejumlah situs penting bagi umat Islam, termasuk tempat kelahiran dan jejak ulama besar seperti Imam Bukhari, Imam Al-Maturidi, Bahauddin Naqsyaband, dan At-Tirmidzi.
Dia berharap semakin banyak wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Uzbekistan. Menurutnya, penerbangan langsung antara Indonesia dan Uzbekistan menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan kunjungan wisatawan kedua negara.
Pertemuan pada 5 September tersebut juga memiliki makna historis. Tanggal itu bertepatan dengan 70 tahun kunjungan Presiden Soekarno ke Uzbekistan pada 1956.
Gus Irfan berharap momentum sejarah tersebut dapat menjadi pijakan untuk membangun kerja sama baru yang lebih konkret, khususnya dalam konektivitas penerbangan, wisata religi, serta pertukaran kunjungan wisatawan Indonesia dan Uzbekistan.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Duta Besar RI untuk Uzbekistan Siti Ruhaini Dzuhayatin, Duta Besar RI untuk Kazakhstan Fadjroel Rachman, Wakil Gubernur Samarkand Rustam Kobilov, Kepala Biro Humas Kementerian Haji dan Umrah Moh. Hasan Afandi dan Wakil Mufti Samarkand.