Konferensi pers Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Jakarta, Kamis (27/8/2026) malam.
JAKARTA, (ERAKINI) — Tokoh kebangsaan yang juga alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, Muhammad Sirajuddin "Din" Syamsuddin, menilai kebangkitan peradaban Islam harus ditopang oleh penguatan pendidikan yang mampu memadukan nilai keislaman, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pendidikan politik.
Menurut Din, pendidikan menjadi salah satu kunci penting untuk mengembalikan supremasi di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
"Kalau dunia Islam ingin membangkitkan kembali peradaban Islam dan menjadi bagian dari kebangkitan supremasi peradaban dunia, tidak lain harus lewat teknologi. Dan teknologi itu lewat pendidikan," kata Din Syamsuddin dalam konferensi pers Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Jakarta, Kamis (27/8/2026) malam.
Din mengatakan, konsep pendidikan Islam holistik sejatinya bukan gagasan baru. Menurutnya, tradisi pendidikan Islam di kawasan Melayu pada masa lalu telah menerapkan pola pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengajaran, tetapi juga pembentukan karakter dan pemahaman keagamaan.
Pendidikan tersebut, kata dia, memadukan ilmu-ilmu keagamaan dengan ilmu-ilmu umum atau ilmu kemasyarakatan.
"Ini pendidikan yang integratif, yang memadukan ilmu-ilmu keagamaan dengan ilmu-ilmu keduniaan," ujarnya.
Din berharap GIHES 2026 menjadi ruang pertukaran gagasan dan pengalaman antara lembaga pendidikan Islam di Indonesia dengan institusi pendidikan dari berbagai negara.
GIHES 2026 dijadwalkan berlangsung pada 5-6 September 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka tasyakur dan Milad 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.
Menurut Din, forum tersebut tidak dimaksudkan sebagai pertemuan organisasi untuk menghasilkan keputusan yang mengikat. GIHES lebih diarahkan sebagai forum bertukar pikiran dan pengalaman mengenai keunggulan berbagai sistem pendidikan.
"Pertemuan ini bukan merupakan pertemuan atau musyawarah sebuah organisasi untuk mengambil keputusan atau kesepakatan. Namun lebih sebagai ajang tukar-menukar pandangan sehingga kelebihan-kelebihan yang ada di berbagai lembaga pendidikan dapat menjadi pertimbangan," katanya.
Ia menegaskan pendidikan Islam tidak harus seragam atau monolitik. Sebaliknya, keberagaman sistem pendidikan dapat menjadi kekuatan apabila masing-masing lembaga mampu mempertahankan ciri khas sekaligus berbagi keunggulan.
"Jangan seragam, jangan monolitik. Ada nuansa perbedaan atau distingsi untuk menunjukkan keunggulan masing-masing. Inilah saatnya bertukar pikiran dan pengalaman," ujar Din.
Din pun mengajak para pengelola pesantren, sekolah, perguruan tinggi, praktisi pendidikan, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pendidikan Islam untuk mengikuti GIHES 2026.
"Saya mengimbau dan mengajak stakeholders pendidikan, khususnya di kalangan umat Islam, para pengasuh pondok pesantren, sekolah-sekolah, dan siapa saja yang berminat dalam bidang pendidikan untuk hadir menjadi peserta Global Islamic Holistic Education Summit," katanya.
Penyelenggaraan Global Islamic GIHES 2026 juga strategis untuk memperkuat sistem pendidikan dengan pendekatan holistik berbasis tradisi pesantren tersebu.
"Penyelenggaraan GIHES ini memiliki urgensi yang sangat strategis. Kita perlu memastikan bahwa agenda GIHES ini benar-benar menjadi fondasi yang kokoh dalam membangun dunia pendidikan holistik di Indonesia, sebuah sistem yang tidak hanya mencerdaskan otak, tapi juga membentuk karakter dan akhlak," kata Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW).
Dia menegaskan pentingnya mengambil inspirasi dari sistem pendidikan yang telah lama berkembang di Tanah Air. Dunia pesantren dinilai perlu dilirik.
"Kita harus ingat bahwa pesantren telah eksis dan menjadi pusat peradaban ilmu jauh sebelum Indonesia merdeka," ujar Hidayat
Dalam forum tersebut, isu teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), juga akan menjadi salah satu pembahasan utama.
Perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk menjawab tantangan pendidikan pada masa mendatang, termasuk bagaimana teknologi dapat digunakan dalam proses pembelajaran di pesantren dan lembaga pendidikan Islam.
"AI itu termasuk yang akan dibahas. Bagaimana memanfaatkan teknologi kekinian dalam konteks pembelajaran anak-anak masa kini, termasuk di pesantren, dan bagaimana ke depan ini bisa berdampak baik bagi dirinya dan manusia secara umum," kata Ketua Panitia GIHES KH Anang Rikza Mashadi.
Kata Anang, forum tersebut dirancang sebagai pertemuan pendidikan Islam berskala global yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan pendidikan.
Peserta dan pembicara dijadwalkan berasal dari sejumlah negara, antara lain Malaysia, Turki, Iran, Nigeria, Amerika Serikat, Mesir, dan negara lainnya.
Selain pesantren dan lembaga pendidikan Islam, forum tersebut juga akan melibatkan sekolah-sekolah Muhammadiyah, sekolah umum, serta sekolah internasional.
Anang menilai keberagaman peserta menjadi salah satu kekuatan utama GIHES karena memungkinkan terjadinya pertukaran pengalaman mengenai penerapan pendidikan holistik di berbagai negara.
"Kita ingin mengumpulkan keragaman sistem dan konsep pendidikan yang ada. Indonesia memiliki banyak keragaman, begitu juga negara-negara lain. Ini yang ingin kita bangun secara global," ujarnya.
GIHES juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara dunia pendidikan dengan pemerintah dan pemangku kepentingan nasional.
Gagasan yang muncul dalam forum diharapkan tidak berhenti sebagai diskusi, tetapi dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengembangan kebijakan pendidikan.
"Kita bisa tukar-tukar pikiran sehingga ada satu kesamaan persepsi. Nanti bisa mereka artikulasikan sesuai dengan tanggung jawab masing-masing," katanya.