Gus Nabil (sebelah kiri) menyerahkan tanda mata sebagai kenang-kenangan kepada Konjen RI Hong Kong, Jumat (2/10/2026). (Foto: Pagar Nusa).
HONGKONG, (ERAKINI) - Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa, Muchamad Nabil Haroen atau Gus Nabil, bertemu Konsul Jenderal Republik Indonesia di Hong Kong, Andi Ardiansyah, Jumat (2/10/2026).
Pertemuan di Kantor KJRI Hong Kong itu membahas pengembangan , pembinaan Pekerja Migran Indonesia (PMI), diplomasi budaya, hingga inisiasi pembentukan Federasi .
Gus Nabil yang juga Wakil Ketua Umum PB IPSI mengatakan, pengembangan pencak silat di luar negeri perlu mulai diperluas dengan melibatkan masyarakat lokal.
“Langkah strategis kita berikutnya adalah mentransformasi apresiasi budaya ini menjadi institusionalisasi olahraga, yaitu dengan menginisiasi pembentukan Federasi Pencak SilatHong Kong serta melatih warga lokal,” kata Gus Nabil.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari peta jalan pengembangan pencak silat secara global.
Namun, menurut dia, internasionalisasi pencak silat tidak boleh hanya berputar di lingkungan WNI.
“Kita ingin bukan hanya orang Indonesia yang berlatih pencak silat di luar negeri. Warga lokal harus semakin banyak yang belajar, menjadi pelatih dan atlet, serta pada akhirnya ikut membangun organisasinya,” katanya.
Karena itu, inisiasi pembentukan Federasi Pencak SilatHong Kong menjadi salah satu agenda yang dibicarakan bersama KJRI.
Menurut Gus Nabil, semakin banyak negara dan wilayah yang memiliki organisasi, pelatih, serta atlet lokal, semakin kuat pula ekosistem pencak silat internasional.
“Menuju Olimpiade membutuhkan ekosistem global. Harus ada organisasi, pelatih, atlet, kompetisi, dan regenerasi di berbagai negara,” ujarnya.
Selain pengembangan pencak silat, pertemuan membahas aktivitas Pagar Nusa di kalangan PMI.
PCI Pagar NusaHong Kong saat ini telah menaungi dua Pengurus Anak Cabang (PAC).
Latihan dilaksanakan secara rutin pada hari libur kerja. Victoria Park menjadi salah satu pusat latihan, ditambah dua lokasi lainnya di Hong Kong.
Menurut Gus Nabil, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana berlatih bela diri, tetapi juga ruang pembinaan karakter, kedisiplinan, persaudaraan, dan kegiatan positif bagi PMI.
“Kehadiran Pagar Nusa dan IPSI di Hong Kong bukan sekadar wadah pembinaan karakter bagi sahabat-sahabat Pekerja Migran Indonesia di hari libur mereka, melainkan instrumen aktif soft-power diplomacy Indonesia di panggung internasional,” katanya.
“KJRI Hong Kong memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas konsistensi dan peran aktif Pagar Nusa sebagai mitra perwakilan RI. Pagar Nusa tidak hanya menjadi pilar penting dalam pembinaan keanggotaan dan pengayoman kawan-kawan Pekerja Migran Indonesia (PMI) agar tetap tertib dan berkegiatan positif, tetapi juga menjadi etalase diplomasi budaya Indonesia di Hong Kong,” kata Andi.
Pagar Nusa telah tiga kali berturut-turut terlibat dalam Hong Kong Flower Show di Victoria Park dengan menampilkan Seni Wiraloka, Koreografi Salam Pagar Nusa, serta jurus gabungan dengan iringan musik Nusantara.
Andi menilai keterlibatan tersebut turut memperkuat citra Indonesia.
“Dukungan konsisten Pagar Nusa dalam berbagai agenda bergengsi—khususnya Hong Kong Flower Show selama tiga kali berturut-turut—telah memperkuat pencitraan positif bangsa di mata publik internasional dan otoritas lokal,” ujarnya.
“KJRI Hong Kong berkomitmen penuh untuk memfasilitasi dan mengawal langkah-langkah PB IPSI dan PP Pagar Nusa, dalam inisiasi pembentukan Federasi Pencak SilatHong Kong serta dalam menyukseskan visi besar Pencak Silat Road to Olympics,” lanjut Andi.
SerahkanBatikSolodiHariBatikNasional
Pertemuan tersebut berlangsung bertepatan dengan Hari Batik Nasional, 2 Oktober.
Pada kesempatan itu, Gus Nabil menyerahkan kain batik khas Solo dan plakat Pagar Nusa kepada Konjen Andi Ardiansyah.
Menurut Gus Nabil, momentum tersebut mempertemukan dua kekayaan budaya Indonesia dalam satu agenda diplomasi di Hong Kong.
“Pada Hari Batik Nasional, kita menyerahkan batik di Hong Kong sekaligus berbicara tentang masa depan pencak silat dunia. Batik dan pencak silat adalah kekayaan bangsa. Keduanya memiliki bahasa universal yang bisa menjadi jembatan Indonesia dengan masyarakat dunia,” ujarnya.