Kecelakaan maut di KM 58 Tol Jakarta-Cikampek (Japek) yang menghanguskan dua mobil pada Senin (9/4/2024) pagi. Foto: Antara/Awaludin
JAKARTA, (ERAKINI) - Kecelakaan maut di KM 58 Tol Jakarta-Cikampek (Japek) pada Senin (9/4/2024) pagi tergolong mengerikan. Kecelakaan yang menewaskan 12 orang ini melibatkan tiga kendaraan, dan dua di antaranya ludes terbakar.
Kecelakaan maut ini melibatkan Bus Primajasa Nopol B 7655 TGD, Gran Max Nopol B 1635 BKT, dan Daihatsu Terios. Mobil Gran Max dan Terios hangus dan menyebabkan 12 orang tewas mengenaskan dengan kondisi luka bakar parah. Lantas kenapa mobil bisa sampai hangus ?
Training Director sekaligus Pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengungkapkan, terdapat beberapa penyebab yang dapat membuat mobil terbakar usai mengalami kecelakaan atau tabrakan.
Menurut Jusri, kebakaran mobil terjadi karena adanya tiga sumber pemicu api atau yang disebut triangle of fire (segitiga api), yakni udara, bahan mudah terbakar, dan panas.
“Kenapa bisa terbakar? Itu sangat memungkinkan, karena di situasi luar ruangan itu ada triangle of fire, yaitu oksigen sebagai udara, kemudian bahan mulai dari plastik, karpet, kulit, karet, bensin, dan yang ketiga adalah panas. Itu diakibatkan benturan yang keras akan menimbulkan api,” ujarnya, dikutip dari Antara, Selasa (9/4/2024).
Tabrakan yang keras, kata Jusri, sangat memungkinkan membuat saluran bensin kendaraan pecah, sehingga bahan bakar minyak tersebut menyebar dan menyebabkan kebakaran hebat.
Oleh karena itu, Jusri menyebut kasus kecelakaan tersebut merupakan pembelajaran bagi pengendara untuk tidak memilih lajur contraflow ketika mereka masih memiliki opsi lajur yang lain. Meski dapat mengurai kemacetan, contraflow sesungguhnya memiliki risiko kecelakaan yang lebih besar dari jalur normal.
Cara kerja contraflow yang menggunakan jalur lalu lintas pada arah yang berlawanan, dan hanya disertai pembatas yang tidak permanen, misalnya dengan traffic cone (kerucut lalu lintas), tentu sangat berisiko tabrakan dari arah berlawanan.
“Ini seakan jalur yang mematikan, di sisi kiri ada tembok, sementara sisi kanannya ada kendaraan lain dari arus berlawanan. Sering ditemui ketika lengah sedikit saja, sangat mungkin untuk keluar jalur masuk ke lajur lawan, hingga terjadi tabrakan beruntun karena distrasi motorik,” sebut Jusri.
Tidak hanya pengemudi, penumpang juga harus mempersiapkan diri sebaik mungkin saat hendak melalui contraflow. Misalnya, tidak sedang menahan buang air, hingga tidak mengganggu konsentrasi pemegang kemudi, mengingat tidak ada lokasi pemberhentian atau peristirahatan pada lajur darurat tersebut.