Sejarah berdirinya satuan elite Kopassus tak lepas dari sosok Letkol (Purn) Mochammad Idjon Djanbi. Idjon Djanbi merupakan komandan pertama Kopassus yang sejatinya mantan prajurit Belanda. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) kini naik status setelah TNI melakukan validasi organisasi. Komandan Kopassus kini bernama Panglima dengan pangkat Letjen atau Bintang 3.
Sesuai Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1033/VIII/2025, Mayjen TNI Djon Afriandi yang sebelumnya menjabat sebagai Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen ) kini diangkat menjadi Panglima (Pangkopassus).
Kopassus merupakan pasukan elite milik TNI Angkatan Darat (TNI AD). Kopassus dikenal dengan kemampuannya yang luar biasa dalam bergerak cepat di berbagai medan tempur, menjalankan operasi pengintaian tingkat tinggi, serta menanggulangi aksi terorisme.
Kopassus kini sudah berusia 73 tahun. Sejak didirikan, satuan ini telah terlibat dalam berbagai operasi penting yang menentukan arah keamanan nasional. Sejarah berdirinya satuan elite TNI tak lepas dari sosok Letkol (Purn) Mochammad Idjon Djanbi. Idjon Djanbi merupakan komandan pertama Kopassus yang sejatinya adalah mantan prajurit Belanda.
Dirangkum Erakini, Rabu (13/8/2025), Idjon Djanbi lahir pada 13 Mei 1914. Ia dikenal sebagai prajurit legendaris kelahiran Belanda. Sebelum menjadi warga negara Indonesia, ia dikenal dengan nama Rodes Barendrecht "Rokus" Visser atau Barendregt.
Lahir dari keluarga petani tulip sukses di Belanda, Visser sempat membantu ayahnya berjualan bola lampu di London. Namun, pecahnya Perang Dunia II memaksanya bertahan di Inggris, karena tanah kelahirannya telah dikuasai Jerman.
Visser lalu bergabung dengan ketentaraan Belanda di pengasingan dan membentuk kekuatan baru di Britania. Ia sempat dipercaya menjadi sopir Ratu Wilhelmina selama setahun, lalu mendaftar sebagai operator radio di pasukan Belanda ke-2 (2nd Dutch Troop).
Pengalaman tempur perdananya terjadi dalam Operasi Market Garden, September 1944, bersama Divisi Lintas Udara 82 Amerika Serikat. Diterjunkan menggunakan pesawat layang, ia mendarat di wilayah dengan konsentrasi pasukan Jerman tinggi, lalu dua bulan kemudian ikut operasi pendaratan amfibi di Walcheren, Belanda selatan.
Atas prestasinya, Visser dikirim ke Sekolah Perwira sebelum menjalani pelatihan pasukan para di India, untuk rencana operasi melawan Jepang di Indonesia. Namun, kekalahan Jepang pada 1945 membuatnya justru memimpin School voor Opleiding van Parachutisten (Sekolah Pasukan Terjun Payung) yang berpindah dari Jakarta ke Jayapura (Hollandia), Irian Barat.
Menetap di Asia membuat Visser betah. Ia meminta istri dan empat anaknya pindah ke Indonesia. Namun, karenanya istrinya menolak, ia memilih bercerai. Pada 1947, sekolah pimpinannya dipindah ke Cimahi, Bandung, dan Visser dipromosikan menjadi Kapten.
Selama 1947-1949, ia terus mencetak tentara terjun payung hingga Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia. Saat Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Indonesia (1949), ia memutuskan menetap di tanah air, memeluk Islam, menikahi perempuan asal Yogyakarta, dan mengganti namanya menjadi Mochammad Idjon Djanbi.
Pengalaman Idjon Djanbi sebagai anggota pasukan komando pada Perang Dunia II menarik perhatian salah satu petinggi militer saat itu, Kolonel A E Kawilarang, untuk mengajaknya merintis satuan komando TNI. Ia kemudian aktif di ketentaraan Indonesia dengan pangkat Mayor, langsung melatih kader perwira dan bintara untuk membentuk pasukan elite.
Pada 16 April 1952, dibentuklah Kesatuan Komando Teritorium III/Siliwangi (Kesko TT III/Siliwangi) dan Idjon Djanbi sebagai komandan pertama. Satuan ini berkembang pesat hingga pada Januari 1953 beralih kedudukan langsung di bawah KSAD dan berganti nama menjadi Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD).
Pada 29 September 1953, KSAD mengesahkan penggunaan baret bagi prajurit yang lulus pelatihan komando. Latihan lanjutan dengan materi pendaratan laut atau “latihan selundup” pertama kali dilakukan tahun 1954 di Pantai Cilacap, Jawa Tengah.
Selanjutnya, pada 25 Juli 1955, KKAD resmi berganti nama menjadi Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) dengan Idjon Djanbi tetap sebagai komandan. Demi meningkatkan kemampuan prajurit, pada 1956 RPKAD menggelar pelatihan penerjunan pertama di Bandung. Lulusan pelatihan ini berhak menyandang Wing Para sebagai peterjun militer.
Namun, dinamika organisasi membuat pimpinan Mabes AD mulai menyiapkan peralihan kepemimpinan RPKAD kepada perwira pribumi. Mengetahui rencana itu, Idjon Djanbi menolak tawaran jabatan baru yang jauh dari dunia komando dan memilih mengundurkan diri.
Pada saat yang sama, pemerintah Indonesia tengah menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing. Sebagai warga negara Indonesia, Idjon Djanbi dipercaya memimpin salah satu perkebunan yang diambil alih negara. Meski tidak lagi memimpin RPKAD, ia tetap berstatus prajurit aktif hingga 1969, ketika pada peringatan ulang tahun RPKAD dirinya dianugerahi kenaikan pangkat menjadi Letnan Kolonel.
Idjon Djanbi meninggal dunia pada 1 April 1977, meninggalkan warisan besar sebagai perintis pasukan eliteTNI AD yang kini dikenal di dunia sebagai salah satu satuan komando terbaik.