Ilustrasi - BMKG mencatat, sebanyak 33,3% wilayah Indonesia sudah masuk musim kemarau. Hujan diprediksi terus menyusut hingga Juli 2026. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) - Musim kemarau di Indonesia menunjukkan perkembangan yang semakin signifikan pada Dasarian I Juni 2026. Berdasarkan pemantauan terbaru, sekitar 33,3 persen wilayah Indonesia atau sebanyak 233 Zona Musim (ZOM) telah memasuki periode kemarau.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kondisi tersebut menandakan bahwa musim kering mulai mendominasi berbagai daerah di Tanah Air, terutama di wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Adapun wilayah yang saat ini tercatat mengalami musim kemarau meliputi sebagian wilayah Aceh, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, Lampung, Banten bagian utara, sebagian Jakarta, sebagian Jawa Barat, mayoritas Jawa Tengah dan Jawa Timur, sebagian Bali, sebagian besar Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, sebagian Kalimantan Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, Maluku, serta sebagian kecil Papua Selatan.
Dalam prakiraan cuaca dasarian periode Juni hingga awal Juli 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni berkisar antara 0 hingga 150 milimeter per dasarian.
Sejumlah wilayah bahkan diprediksi mengalami hujan dengan kategori rendah atau kurang dari 50 milimeter per dasarian, yang menjadi salah satu indikator menguatnya musim kemarau.
Juni Dasarian II: Kemarau Menguat di Jawa dan Nusa Tenggara
Pada Dasarian II Juni 2026, wilayah yang berpotensi mengalami curah hujan rendah mencakup sebagian Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara.Selain itu, kondisi serupa diperkirakan terjadi di sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah bagian selatan, Papua bagian timur, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Juni Dasarian III: Wilayah Kering Semakin Meluas
Memasuki Dasarian III Juni 2026, area dengan potensi hujan rendah diperkirakan bertambah luas. Sebagian besar Aceh dan Sumatera Utara diprediksi mulai didominasi cuaca kering.Kondisi yang sama juga berpotensi terjadi di Kepulauan Riau, sebagian Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, sebagian besar wilayah Banten hingga Nusa Tenggara Timur.Di Kalimantan, wilayah yang diperkirakan mengalami curah hujan rendah meliputi sebagian Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.Sementara di kawasan Sulawesi, daerah yang berpotensi mengalami kondisi serupa antara lain Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, dan Sulawesi Utara.Wilayah Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, serta Papua Selatan bagian selatan juga diprediksi memasuki fase yang lebih kering.
Awal Juli 2026: Kemarau Dominasi Sebagian Besar Indonesia
Pada Dasarian I Juli 2026, musim kemarau diperkirakan semakin mendominasi. Sebagian besar Pulau Sumatera dan Pulau Jawa diprediksi mengalami curah hujan rendah.Kondisi serupa juga berpotensi terjadi di mayoritas Bali dan Nusa Tenggara, sebagian besar wilayah Kalimantan, serta sejumlah daerah di Sulawesi, Maluku, dan Papua.Wilayah yang diperkirakan mengalami hujan kategori rendah meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, sebagian Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Dengan semakin luasnya wilayah yang memasuki musim kemarau, masyarakat diimbau mulai mengantisipasi berbagai dampak yang mungkin terjadi, seperti berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, serta potensi gangguan pada sektor pertanian.
Meski demikian, sejumlah daerah masih berpeluang mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Oleh karena itu, masyarakat tetap disarankan untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim terbaru guna mengantisipasi perubahan kondisi atmosfer yang dapat terjadi sewaktu-waktu.