Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI Saiful Rahmat Dasuki saat mewakili Menteri Agama (Menag) RI Yaqut Cholil Qoumas pada pembukaan Konferensi Moderasi Beragama Asia Afrika-Amerika Latin di Gedung Merdeka, Bandung, Rabu (20/12/2023). (Foto: Kemenag)
Ke-18 negara tersebut yaitu: Kenya, Srilanka, India, Yaman, Sudan, Pakistan, Iran, Meksiko, Mesir, Libya, Kamboja, Mozambik, Irak, China, Uni Emirat Arab, Malaysia, Arab Saudi dan Yordania.
Menag Yaqut meyakini bahwa moderasi beragama dapat menjadi sarana mewujudkan kemaslahatan kehidupan beragama dan berbangsa yang harmonis, damai dan toleran di negeri manapun termasuk bangsa-bangsa AsiaAfrika dan Amerika Latin.
Dalam isi sambutannya itu, Menag mengatakan bahwa dalam konteks rekonsiliasi konflik yang akhir-akhir ini terjadi, para pemimpin agama dunia diajak menghadirkan kebangkitan agama sebagai solusi global dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia melalui gerakan wawasan toleransi dan moderasi beragama sebagai solusi persolan peradaban dunia.
Hal itu, lanjut dia, sekaligus menjadi pengingat umat dan bangsa di dunia di Negara manapun agar tidak melenceng dari wawasan moderat.
Sejauh ini, kata Menag, agama masih menjadi bagian dari beragam masalah di dunia dikarenakan ada beberapa pihak yang memperalat agama untuk mencapai tujuan mereka, sehingga para pemimpin perlu melakukan pembicaraan yang jujur untuk mengatasi persoalan tersebut.
"Hari ini kita berkumpul di Gedung Merdeka ini mengenang pada tahun 1955 atau 68 tahun silam diselenggarkan KonferensiAsiaAfrika (KAA) dengan tujuan mempromosikan Kerjasama ekonomi dan kebuyaan AsiaAfrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme, " katanya.
Tentu, kata dia, situasi saat ini berubah, dan agama, kebudayaan dan solidaritas antar bangsa bisa menjadi spirit untuk mengupayakan perdamaian dunia di tengah konflik yang terus terjadi di sejumlah negara.
Spirit solidaritas sebagai nilai historis KAA sepatutnya diteladani dan diinternalisasikan dalam implementasi pengembangan karakter warga negara kini. Keterlibatan yang solid dan efektif melalui pemaknaan sejarah perjuangan bangsa sebagai nilai dasar inisiasi warga negara menjadi bentuk keterlibatan dan solidaritas yang positif.
Adapun KonferensiModerasi Beragama yang digelar oleh Balitbang Diklat Kementerian Agama (Kemenag) RI yang bekerja sama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini akan menjadi pijakan awal Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika dan Amerika Latin yang akan digelar tahun 2024 mendatang.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Pelatihan (Kabalitbang Diklat) Kementerian Agama RI Suyitno dalam sambutannya di Gedung Merdeka, Bandung, Rabu (20/12/2023).
"Konferensi ini (KMBAA-AL) merupakan awal dari peristiwa yang lebih besar lagi pada tahun 2024, yakni KTTAsia-Afrika dan Amerika Latin. Kami menantikan pembicara dan delegasi dari negara-negara anggota PBB di Selatan, termasuk Brasil, Mesir, Meksiko, Arab Saudi, dan Afrika Selatan," kata Suyitno.
Konferensi yang mengusung tema 'Agama dan Kemanusiaan' ini mempersiapkan KonferensiAsiaAfrikaAmerika Latin (AALA) untuk menghidupkan kembali semangat Bandung dan Gerakan Non-blok dalam menanggapi dinamika geopolitik saat ini.
"Harapan kami adalah bersama dengan Indonesia, negara-negara ini dapat mengatasi tantangan kontemporer terhadap perdamaian dan keamanan internasional, " kata Suyitno di depan para delegasi konferensi tingkat internasional itu.