Menteri Agama (Menag) Prof Nasaruddin Umar (keempat dari kanan) memberikan keterangan kepada awak media usai usai seminar “Indonesia's Contribution to Contemporary Global Peace and Conflict Resolution” di Auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Kamis (27/11/2025). (Foto: Ahdori/Erakini)
TANGERANG SELATAN, (ERAKINI) - Menteri Agama (Menag) Prof Nasaruddin Umar meminta Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) mengambil peran lebih aktif dalam mengembangkan diplomasi internasional ala . Upaya tersebut, menurut , merupakan langkah strategis untuk memperkuat kontribusi Indonesia dalam mendorong .
“Forum-forum ini bertujuan menegaskan posisi Indonesia dalam memperkuat perdamaian global serta menggali kearifan lokal seperti peran pondok pesantren dalam menjaga moderasi beragama,” ujar Nasaruddin usai seminar “Indonesia’s Contribution to Contemporary Global Peace and Conflict Resolution” di Auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Kamis (27/11/2025).
Menag menjelaskan, hasil rangkaian seminar itu akan dirumuskan secara komprehensif oleh UIN Jakarta sebelum disampaikan kepada Presiden melalui Kementerian Luar Negeri. Rumusan tersebut, kata dia, akan menjadi artikulasi penting mengenai posisi Indonesia dalam percaturan diplomasi internasional.
Dalam kesempatan itu, Nasaruddin juga menegaskan dukungannya terhadap pendekatan diplomasiPresidenPrabowo Subianto yang belakangan mendapat perhatian luas dunia internasional. Salah satu contohnya adalah pidato Presiden pada Sidang Majelis Umum ke-80 PBB di New York, September 2025, yang kembali menegaskan sikap Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian Agama mendorong PTKIN untuk membuka lebih banyak kesempatan belajar bagi mahasiswa asing, khususnya dari negara-negara Timur Tengah termasuk Palestina.
“Kalau ada seribu mahasiswa Palestina mau belajar di Indonesia, kita siap. Kita punya 58 UIN, tinggal dibagi saja. Itu ringan untuk kita, dan itu sekaligus menguatkan nama besar Indonesia dan Pak Prabowo,” ucapnya.
Nasaruddin menambahkan, Kemenag terus mengartikulasikan gagasan Presiden dalam berbagai forum nasional dan internasional. Ia menilai pernyataan Prabowo di PBB, yang banyak mendapat respons positif, harus diikuti langkah konkret.
“Kita tidak ingin gagasan cerdas Pak Presiden ditindaklanjuti negara lain tanpa kita bergerak. Turki, Mesir, dan Arab Saudi sudah mulai menindaklanjuti apa yang disampaikan Pak Prabowo. Karena itu, kita harus lebih dulu mengartikulasikan pernyataan tersebut,” katanya.
Sementara itu, Rektor UIN JakartaProf Asep Saepudin Jahar menegaskan bahwa kontribusi Indonesia bagi perdamaian dunia merupakan amanat konstitusi. Ia menilai diplomasi Indonesia bersifat kemanusiaan, bukan ekspansionis.
“Indonesia berperan sebagai penyeimbang moral. Kita tidak mengandalkan kekuatan militer, tetapi nilai kemaslahatan dan kemanusiaan,” kata Asep.
Asep menyebut pidato Presiden Prabowo di PBB terkait Gaza sebagai momentum penting yang menegaskan posisi etis Indonesia dalam tragedi kemanusiaan global. Seruan Presiden agar pembantaian dihentikan dan gencatan senjata diberlakukan dinilai mencerminkan keberpihakan Indonesia pada keadilan internasional.
“Respons dunia menunjukkan bahwa suara Indonesia didengar. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar sekaligus demokrasi besar, Indonesia punya posisi unik dalam menyuarakan perdamaian,” ujarnya.