Ilustrasi - Kemarau makin meluas. BMKG menyebut bahwa hujan lebat masih mengintai sejumlah wilayah Indonesia pada periode 12-15 Juni 2026. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) – Musimkemarau mulai menunjukkan pengaruh yang semakin kuat di berbagai wilayah Indonesia. Meski demikian, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat masih membayangi sejumlah daerah pada periode 12-15 Juni 2026. Kondisi cuaca yang dinamis ini membuat masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.
Berdasarkan analisis terbaru, sekitar 28,6 persen wilayah zona musim di Indonesia telah memasuki fase kemarau. Kondisi tersebut terutama terjadi di kawasan Indonesia bagian selatan yang mulai mengalami peningkatan periode hari tanpa hujan.
Fenomena Hari Tanpa Hujan (HTH) di wilayah selatan kini banyak didominasi kategori panjang, yakni antara 21 hingga 30 hari berturut-turut tanpa curah hujan. Situasi ini menandakan bahwa kondisi kering semakin berkembang secara konsisten, didorong oleh menguatnya pengaruh Monsun Australia yang membawa massa udara kering menuju wilayah Indonesia bagian selatan.
Meski musimkemarau mulai meluas, cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi hujan ringan hingga lebat. Potensi hujan dengan intensitas sedang diperkirakan terjadi di sejumlah daerah, antara lain Aceh, Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, dan Papua Selatan.
Selain itu, beberapa wilayah juga berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang. Daerah dengan status peringatan dini kategori siaga meliputi Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Sementara itu, ancaman angin kencang diprakirakan berpeluang terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua Selatan.
Menghadapi kondisi cuaca yang masih berpotensi berubah secara cepat, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko cuaca ekstrem yang dapat memicu banjir, tanah longsor, pohon tumbang, hingga gangguan aktivitas transportasi.
Pengguna jalan juga diminta berhati-hati terhadap kemungkinan hujan deras yang disertai petir dan angin kencang karena dapat mengurangi jarak pandang serta mengganggu keselamatan perjalanan.
Selain itu, masyarakat perlu mengantisipasi potensi robohnya baliho, patahnya ranting pohon, genangan air, serta sambaran petir. Saat terjadi hujan deras dan angin kencang, warga disarankan menghindari berteduh di bawah pohon besar, papan reklame, maupun bangunan yang rentan rusak.
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah yang telah memasuki musimkemarau maupun masa peralihan musim, penggunaan pelindung diri seperti topi, payung, atau tabir surya sangat dianjurkan guna mengurangi dampak paparan sinar matahari secara langsung.
Selain itu, kebutuhan cairan tubuh harus tetap terpenuhi, terutama bagi mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan pada siang hari. Langkah ini penting untuk mencegah dehidrasi, kelelahan, serta gangguan kesehatan lainnya akibat suhu udara yang lebih panas.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa musimkemarau tidak selalu identik dengan kondisi tanpa hujan. Curah hujan masih dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama ketika kelembapan udara di atmosfer masih cukup tinggi. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap perubahan cuaca mendadak tetap diperlukan.