Ilustrasi - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, kemarau mulai meluas, namun cuaca ekstrem dan hujan lebat masih mengintai sejumlah wilayah Indonesia. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa musimkemarau mulai berkembang secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia. Namun demikian, potensi cuaca ekstrem dan hujan lebat masih belum sepenuhnya mereda akibat pengaruh sejumlah faktor atmosfer yang masih aktif.
Sebagaimana dilansir dari laman resminya pada Jumat (5/6/2026), sebagian besar wilayah Indonesia, berdasarkan pemantauan terbaru, saat ini mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan durasi yang beragam, mulai dari kategori sangat pendek hingga sangat panjang. Sekitar 47,96 persen wilayah tercatat berada dalam kategori HTH sangat pendek atau berkisar antara satu hingga lima hari.
Meski demikian, terdapat sejumlah daerah yang telah mengalami periode kering lebih lama. Sebanyak 20 titik pemantauan atau sekitar 0,44 persen masuk kategori HTH panjang dengan rentang 21 hingga 30 hari. Sementara itu, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menjadi satu-satunya wilayah yang tercatat mengalami HTH sangat panjang selama 31 hari berturut-turut.
Analisis BMKG menunjukkan sekitar 28,6 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musimkemarau. Kondisi tersebut terutama terjadi di kawasan Indonesia bagian selatan yang dipengaruhi oleh menguatnya Monsun Australia. Fenomena ini membawa massa udara kering ke wilayah Indonesia sehingga pembentukan awan berkurang dan sinar matahari dapat mencapai permukaan bumi dengan lebih optimal.
Akibat kondisi tersebut, sejumlah wilayah mengalami peningkatan suhu udara yang cukup signifikan. Pada periode 1 hingga 3 Juni 2026, suhu maksimum di atas 35 derajat Celsius tercatat di beberapa daerah, antara lain Sumatra Utara, Riau, Lampung, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Papua Barat, dan Papua Selatan.
Walaupun musimkemarau mulai berlangsung di sebagian wilayah, hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat masih terjadi di berbagai daerah, terutama di kawasan Indonesia bagian utara. Curah hujan tertinggi tercatat di Sumatra Utara mencapai 73,3 milimeter per hari, disusul Papua Tengah 72,8 milimeter per hari, Kalimantan Tengah 61,6 milimeter per hari, Bangka Belitung 60 milimeter per hari, Kalimantan Utara 57,4 milimeter per hari, dan Papua Barat 57,1 milimeter per hari.
Tingginya curah hujan tersebut dipicu oleh berbagai dinamika atmosfer yang masih aktif. Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin terpantau memengaruhi sejumlah wilayah di Sumatra, Jawa, serta Kalimantan bagian barat dan selatan. Selain itu, anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) bernilai negatif di wilayah barat Indonesia mengindikasikan adanya pertumbuhan awan konvektif yang cukup signifikan.
Faktor lain yang turut berkontribusi adalah keberadaan sirkulasi siklonik di kawasan Teluk Cendrawasih dan wilayah utara Papua. Sistem ini memengaruhi pola aliran udara dan meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan di daerah sekitarnya.
Untuk sepekan mendatang, BMKG mencatat adanya kondisi El Niño di Samudra Pasifik yang ditandai dengan indeks Niño 3.4 sebesar +0,69 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -16,0. Fenomena tersebut secara umum berpotensi mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia. Namun, faktor atmosfer regional masih dapat memicu pembentukan awan hujan di sejumlah daerah.
Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diperkirakan bergerak dari fase 7 menuju fase 8 sehingga dampaknya terhadap Indonesia relatif terbatas. Meski demikian, pengaruh konvektif MJO masih diprediksi aktif di wilayah Papua bagian tengah hingga timur.
Sementara itu, Gelombang Kelvin diperkirakan tetap aktif dan bergerak dari Indonesia bagian barat menuju timur. Gelombang Rossby Ekuatorial juga diprediksi masih memengaruhi wilayah Sumatra bagian utara. Selain itu, potensi terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Pasifik utara Papua dapat menciptakan daerah pertemuan dan perlambatan angin yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
BMKG juga mengingatkan adanya labilitas atmosfer yang cukup kuat di sejumlah wilayah seperti Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan. Kondisi tersebut dapat mempercepat proses pembentukan awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang.
Masyarakat di berbagai daerah diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan. Meskipun musimkemarau mulai berkembang, kombinasi berbagai fenomena atmosfer masih berpotensi memicu hujan lebat dan kondisi cuaca yang berubah secara cepat di sejumlah wilayah Indonesia.