Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama (Kemenag) RI Amien Suyitno. (Foto: Pendis Kemenag)
JAKARTA, (ERAKINI) - Kurikulum Cinta saat ini tengah digagas oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI sebagai sebuah inisiatif pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai cinta kepada Tuhan, sesama manusia, lingkungan, dan bangsa sejak usia dini.
Direktur Jenderal PendidikanIslam (Dirjen Pendis) Amien Suyitno menegaskan bahwa pendidikan karakter di Indonesia membutuhkan inovasi yang lebih mendalam, salah satunya melalui pendekatan yang lebih integratif dan sistematis dalam kurikulum.
“Masih terdapat fenomena di jenjang pendidikan dasar di mana anak-anak menunjukkan sikap intoleran, saling menyalahkan, bahkan membenci satu sama lain karena perbedaan keyakinan. Hal ini sering kali terjadi tanpa disadari sejak dini. Oleh karena itu, Kurikulum Cinta hadir sebagai solusi melalui insersi nilai-nilai keberagaman dalam berbagai mata pelajaran, khususnya dalam pendidikanIslam di bawah naungan Kementerian Agama,” kata Suyitno di Jakarta, Rabu (26/2/2024).
Ia menjelaskan bahwa kurikulum ini menekankan 4 aspek utama, yaitu: Pertama, ingin membangun cinta kepada Tuhan (Hablum Minallah), di mana anak-anak sejak dini sudah terbiasa memperkuat hubungannya dengan Allah.
Kedua, membangun cinta kepada sesama manusia, apa pun agamanya. “Anak-anak harus dibiasakan dengan keberagaman, membangun Hablum Minannas yang kuat,” katanya.
Ketiga, membentuk kepedulian terhadap lingkungan, sebagaimana sorotan dari Menteri Agama RI Nasaruddin Umar untuk membentuk kepedulian terhadap lingkungan (Hablum Bi’ah). “Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini harus ditangani secara terstruktur dan sistematis. Anak-anak kita harus disadarkan akan pentingnya menjaga bumi,” lanjutnya.
Keempat, kecintaan terhadap bangsa (Hubbul Wathan) juga menjadi pilar penting dalam kurikulum ini. “Banyak anak-anak kita yang setelah belajar di luar negeri, justru lebih merasa menjadi orang luar dibandingkan bagian dari bangsanya sendiri. Kita ingin menginsersi agar anak-anak kita tetap berpegang teguh pada akar budayanya,” ungkapnya.
Suyitno mengungkapkan, Kurikulum Cinta tidak diperkenalkan sebagai mata pelajaran baru, melainkan akan diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran yang sudah ada.
Kementerian Agama melalui Ditjen PendidikanIslam telah menyiapkan buku panduan yang akan menjadi acuan bagi para pendidik dalam menyisipkan nilai-nilai cinta, toleransi, dan spiritualitas ke dalam pembelajaran.
Strategi implementasi kurikulum ini, kata dia, akan disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Misalnya, di tingkat Pendidikan Raudhatul Athfal (RA/PAUD), metode pembelajaran akan menggunakan permainan dan pembiasaan positif. Sementara itu, di jenjang pendidikan lebih tinggi, pendekatan berbasis pengalaman dan refleksi akan lebih ditekankan.
“Kami sudah melakukan riset dan survei terkait kondisi keberagaman di Indonesia, dan memang masih ada tantangan yang perlu kita hadapi bersama. Oleh karena itu, pendidikan harus menjadi landasan utama untuk memperbaiki kondisi ini,” ujar Suyitno.
Ia berharap, implementasi Kurikulum Cinta dapat membawa perubahan nyata dalam kehidupan sosial, baik dalam konteks keagamaan, hubungan kemanusiaan, maupun keberagaman bangsa. Suyitno menegaskan bahwa keberhasilan kurikulum ini tidak hanya akan diukur dari aspek kognitif, tetapi juga dari perubahan sikap dan perilaku peserta didik.
“Kita tidak ingin agama hanya menjadi sesuatu yang normatif, tetapi harus bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari RA hingga perguruan tinggi, kita ingin membentuk individu yang ramah, humanis, nasionalis, dan peduli lingkungan,” tambahnya.
Sebagai langkah awal, Kementerian Agama akan melakukan pendampingan bagi para pendidik serta mempersiapkan instrumen evaluasi yang dapat mengukur keberhasilan Kurikulum Cinta secara berkelanjutan. “Dukungan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat dan pemangku kepentingan pendidikan, sangat dibutuhkan agar kurikulum ini dapat berjalan secara efektif dan berdampak luas,” katanya.
Pihaknya berharap, dengan diterapkannya Kurikulum Cinta, Indonesia dapat melahirkan generasi yang lebih toleran, inklusif, dan penuh kasih sayang—mewujudkan masyarakat yang harmonis dalam keberagaman.