Lulusan Terbaik Wisuda Tahap II Tahun Akademik 2025/2026 IPB University. Foto: Dok IPB
BOGOR, (ERAKINI) – IPB University mengukuhkan 800 lulusan atau sarjana baru dalam Wisuda Tahap II Tahun Akademik 2025/2026, Rabu (24/9). Para wisudawan terdiri atas 22 lulusan program doktor, 147 magister, dan 631 sarjana.
Rektor IPB University Prof Arif Satria menyebut mayoritas mahasiswa IPB memiliki karakter sebagai goal-getter atau pribadi yang berorientasi pada target.
“Berdasarkan hasil pemetaan talenta menggunakan artificial intelligence (AI), mahasiswa IPB University suka diberi target. Kalau diberi target 100, mereka bisa capai 150,” ujar Prof Arif.
Anjeli Elvari dinobatkan sebagai Lulusan Terbaik Fakultas Pertanian dengan IPK 3,98. Perjalanan akademiknya tidaklah mudah. Perempuan asal Jakarta ini sempat gagal masuk perguruan tinggi negeri (PTN) impiannya setelah lulus dari SMA Negeri 34 Jakarta pada 2020.
“Kondisi keuangan keluarga membuat kuliah di perguruan tinggi swasta bukan pilihan. Akhirnya saya memutuskan gap year selama satu tahun, menekuni hobi berkebun. Dari situlah hati saya tergerak memilih IPB University sebagai tempat pengembangan diri,” ungkapnya.
Pada tahun berikutnya Anjeli akhirnya lolos Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Selama empat tahun berkuliah di IPB, Anjeli merasakan pengalaman yang membahagiakan. Ia jatuh cinta pada Program Studi Agronomi dan Hortikultura (AGH) yang awalnya dipilih karena hobi berkebun. Di kampus, ia menemukan minat baru pada bioteknologi, pemuliaan tanaman, teknologi benih, hingga politik pertanian.
Tantangan terbesar datang pada semester akhir. Tanggung jawab menyelesaikan skripsi membuatnya harus menahan diri untuk tidak terlalu aktif di organisasi. Namun, berkat doa ibu, dukungan sahabat, serta bimbingan dosen, ia berhasil menuntaskan studi dengan baik dan berhak meraih predikat lulusan terbaik.
Selama kuliah, Anjeli menerima beasiswa KIP-K dan aktif di berbagai kegiatan. Ia tergabung dalam UKM Panahan, International Association of Students in Agricultural and Related Sciences Local Committee (IAAS LC) IPB, serta Himpunan Mahasiswa AGH (Himagron). Prestasinya pun tak sedikit, mulai dari terlibat dalam IPB Archery Open 2023, Festival Bunga Buah Nusantara, hingga meraih Juara 1 Basket Putri Seri A-Action dan Juara 3 Lomba Lukis Passion 6.
Kini, Anjeli melanjutkan studi magister di Program Studi Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman melalui program Sinergi. “Cita-cita saya sederhana, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi banyak orang, membahagiakan ibu dan keluarga, serta terus berkembang,” tuturnya.
2. Beutari Jiansarani, Lulusan Terbaik Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Beutari Jiansarani terpilih sebagai Lulusan Terbaik Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dengan IPK 3,89. Alumni SMAN 1 Jakarta atau Boedoet ini masuk IPB melalui jalur SBMPTN.
Menjalani kuliah di Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) menjadi pengalaman berharga bagi Beutari. Ia tak hanya memperoleh ilmu akademik, tetapi juga belajar disiplin, ketelitian, dan ketangguhan lewat kegiatan perkuliahan, praktik lapangan, serta berbagai kegiatan organisasi.
“Belajar di MSP tidak pernah jauh dari alam. Saya masih ingat rasanya turun langsung ke lamun, mangrove, sungai, dan terumbu karang. Meski melelahkan, semua itu terbayar dengan pengalaman melihat betapa berharganya ekosistem kita,” ujarnya.
Beutari aktif di Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (Himasper) dan IPB Mengajar yang memberinya banyak pengalaman kolaborasi dan pengabdian masyarakat. Prestasinya pun menonjol, antara lain penghargaan Mahasiswa FPIK dengan IPK Tertinggi 2021/2022 serta First Best Poster Award pada The 3rd International Symposium on Aquatic Sciences and Resource Management (ISARM) 2025.
“IPB telah menempa saya menjadi pribadi yang resilien, berani bermimpi, dan siap mengabdi. Semoga saya bisa menjadi alumni yang membanggakan dan bermanfaat bagi banyak orang,” tuturnya.
3. Tsany Tsaqifa Attaqiya, Lulusan Terbaik Fakultas Peternakan
Tsany Tsaqifa Attaqiya terpilih sebagai Lulusan Terbaik Fakultas Peternakan dengan IPK 3,94. Alumni MA Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat, ini diterima melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan menempuh studi di Program Studi Teknologi Hasil Ternak.
Sejak awal, Tsany memang memiliki ketertarikan pada dunia pangan, khususnya pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi masyarakat. Pilihannya pada Teknologi Hasil Ternak mengantarkannya pada pengalaman akademik yang menantang sekaligus bermakna.
“Saya ingin mendalami bagaimana teknologi dapat meningkatkan nilai tambah, mutu, dan keamanan produk hasil ternak agar bisa dinikmati masyarakat luas dengan lebih baik,” ujarnya.
Selama kuliah, Tsany tidak hanya mengasah pengetahuan teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktikum, diskusi ilmiah, hingga riset. Ia pernah mewakili IPB University dalam Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) ke-37 bidang riset eksakta, serta aktif di Himpunan Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan.
Pada tahun ketiga, Tsany menerima beasiswa Charoen Pokphand Foundation Indonesia, yang semakin memacu semangatnya untuk berprestasi. Baginya, organisasi dan kegiatan nonakademik juga menjadi ruang berharga untuk melatih kepemimpinan, kolaborasi, dan adaptasi.
“Setiap perjalanan tidak lepas dari tantangan, tetapi dari situlah saya belajar disiplin, berpikir kritis, dan bijaksana dalam mengambil keputusan,” katanya.
Ke depan, Tsany berharap bisa berkontribusi langsung dalam pengembangan industri pangan asal ternak di Indonesia. “Saya ingin menebar manfaat dari ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan dengan terjun ke dunia industri,” ucapnya.
4. Hazna Aulya Nisa, Lulusan Terbaik Fakultas Kehutanan dan Lingkungan
Alumni SMAN 1 Karanganom, Klaten, Jawa Tengah, ini berhasil meraih predikat Lulusan Terbaik Fakultas Kehutanan dan Lingkungan dengan IPK 3,95. Ia masuk IPB University melalui jalur SNMPTN.
Selama kuliah, Hazna merasakan pengalaman berharga, mulai dari suasana kampus yang hijau dan nyaman, bimbingan dosen inspiratif, hingga kesempatan bertemu teman dari berbagai daerah. “Di sini saya tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung di lapangan serta mengembangkan diri lewat organisasi dan kegiatan nonakademik,” ujarnya.
Hazna memilih Program Studi Silvikultur karena ketertarikannya pada ilmu pengelolaan hutan. Menurutnya, silvikultur tidak hanya tentang menanam dan memelihara pohon, tetapi juga bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan alam tanpa merusaknya.
“Bidang ini sangat relevan dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Saya ingin berkontribusi dalam menjaga hutan Indonesia sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan,” tambahnya.
Semasa kuliah, Hazna menerima beasiswa dari Yayasan Korindo dan aktif di organisasi Tree Grower Community, Himpunan Profesi Program Studi Silvikultur. Melalui organisasi, ia banyak belajar kerja sama tim dan mengasah soft skill komunikasi.
Ke depan, Hazna bercita-cita menjadi dosen atau peneliti di bidang kehutanan, khususnya dalam pengelolaan hutan berkelanjutan. Ia juga berencana melanjutkan studi agar dapat semakin mendalami ilmu kehutanan dan mengaplikasikannya demi kelestarian hutan serta manfaat bagi masyarakat.
5. Muhammad Nibroos Abrar, Lulusan Terbaik Fakultas Teknologi Pertanian
Alumni SMAN 6 Depok ini meraih predikat Lulusan Terbaik Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) dengan IPK 3,92. Ia masuk IPB University melalui jalur SNMPTN.
Selama kuliah, Nibroos mendapatkan banyak pengalaman berharga dari lingkungan kampus yang suportif. “Saya bertemu dengan teman, dosen, dan civitas akademika yang inspiratif, ditambah fasilitas IPB yang memadai sehingga membuka wawasan lebih luas dan memotivasi saya untuk terus berkembang,” ujarnya.
Ia memilih Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem karena tertarik dengan peminatan sistem dan informatika pertanian. Menurutnya, penerapan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), internet of things (IoT), big data, hingga robotik akan sangat penting untuk kemajuan sektor pertanian Indonesia.
Selain aktif di kelas, Nibroos terlibat dalam berbagai organisasi, seperti Forum for Scientific Studies (Forces) dan BEM Fateta. Ia juga mengikuti berbagai program dan kompetisi, mulai dari Youth Researcher (YAR-TSRA), Magang Bersertifikat, hingga berhasil meraih Juara 3 Datathon Competition Spark Telkomsel. Ia pun lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan berkesempatan tampil di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas).
Nibroos juga menerima beasiswa KIP-K mulai semester 5, yang menurutnya sangat membantu penyelesaian studi. “Beasiswa ini membuat saya lebih fokus menggali potensi diri,” katanya.
Ke depan, ia bercita-cita berkontribusi dalam pengembangan teknologi di bidang pertanian, khususnya melalui pemanfaatan AI, robotik, IoT, dan big data. “Saya ingin mengimplementasikan ilmu sistem dan informatika pertanian ke dalam kehidupan nyata agar bisa memberikan manfaat bagi banyak orang,” tukasnya.
6. Muhamad Farhan Alfarizqi, Lulusan Terbaik Fakultas Matematika dan IPA
Alumni SMA Negeri 9 Garut ini berhasil meraih predikat Lulusan Terbaik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dengan IPK 3,99. Farhan masuk IPB University melalui jalur SNMPTN.
Selama masa studi, Farhan merasakan banyak pengalaman berharga. Meski perkuliahan penuh tantangan, mulai dari tugas menumpuk, praktikum melelahkan, hingga jadwal padat, semua itu terbayar dengan ilmu, persahabatan, dan pembentukan karakter. “IPB University tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mendidik saya untuk disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Farhan memilih Program Studi Biokimia karena ketertarikannya pada bagaimana molekul-molekul kecil, seperti protein, karbohidrat, lipid, dan DNA, bekerja untuk mengatur kehidupan. Baginya, biokimia adalah bidang menakjubkan yang aplikasinya luas, mulai dari kesehatan, pertanian, hingga industri farmasi.
Selama kuliah, Farhan aktif di berbagai organisasi, antara lain Al Hurriyyah Care, Serum-G, serta Himpunan Profesi Mahasiswa Biokimia: CREBs. Ia juga menerima Beasiswa Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (KIP-K) yang sangat membantu dalam mendukung studinya.
Ke depan, Farhan bercita-cita menjadi peneliti biokimia dengan fokus pada aplikasi bioteknologi untuk kehidupan. Saat ini, ia tengah melanjutkan studi S2 di Program Studi Biokimia IPB University melalui program Sinergi, dengan harapan dapat lebih cepat mengembangkan kemampuan penelitian dan memberikan kontribusi ilmiah di bidang yang diminatinya.
7. Nadia Sinta Rindiani, Lulusan Terbaik Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Alumni SMA Negeri 1 Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah, ini berhasil meraih predikat Lulusan Terbaik Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) dengan IPK 3,93. Nadia diterima di IPB melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
Merantau jauh dari keluarga dan beradaptasi dengan teman-teman dari berbagai latar belakang menjadi pengalaman berharga bagi Nadia. Tantangan akademik maupun organisasi selama kuliah telah membentuknya menjadi pribadi yang lebih tangguh dan berwawasan luas.
Nadia memilih Program Studi Ekonomi Pembangunan karena sejak SMA ia sudah menaruh minat pada bidang tersebut. Menurutnya, program studi ini tidak hanya memperdalam pemahaman teori ekonomi mikro dan makro, tetapi juga membekali dengan keterampilan analisis data serta kemampuan menerapkan ilmu ekonomi dalam pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan perencanaan pembangunan, sosial, maupun bisnis.
Selama kuliah, Nadia juga mendapat dukungan dari beasiswa Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (KIP-K) yang sangat membantu perjalanan pendidikannya. Ke depan, ia berencana memulai karier profesional di bidang yang relevan dengan ilmunya, dengan harapan dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
8. Desi Alifia Putri, Lulusan Terbaik Fakultas Ekologi Manusia
Alumni SMAN 1 Ciamis ini berhasil meraih predikat Lulusan Terbaik Fakultas Ekologi Manusia (Fema) dengan IPK 3,96. Desi diterima di IPB University melalui jalur SNMPTN.
Bagi Desi bisa berkuliah di IPB University adalah sebuah privilese. Ia bersyukur mendapat kesempatan berada di lingkungan yang mendukung pengembangan diri, baik dari segi hard skill maupun soft skill. “IPB University menjadi pintu yang membuka ruang belajar luas, sekaligus membentuk cara pandang dan karakter diri,” ujarnya.
Selama kuliah, Desi banyak memperoleh pengalaman berharga, mulai dari kegiatan akademik, organisasi, hingga keterlibatan langsung di tengah masyarakat. Semua itu mengajarkannya arti kolaborasi, empati, tanggung jawab, serta ketangguhan dalam menjalani peran sebagai mahasiswa maupun pengurus organisasi.
Minat besar pada isu pemberdayaan masyarakat dan pembangunan membuatnya memilih Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Di program studi ini, Desi belajar memahami realitas sosial secara holistik sekaligus mengintegrasikan strategi komunikasi dan desain program efektif untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Desi mendapatkan beasiswa penuh Jabar Future Leaders Scholarship (JFLS) selama masa kuliahnya. Ia juga aktif di Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu-Ilmu Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (Himasiera) pada periode 2022–2023 dan 2023–2024.
Saat ini, Desi telah bekerja di bidang program development di sebuah lembaga filantropi yang berfokus pada pencapaian dampak sosial berkelanjutan. Dalam jangka pendek, ia bercita-cita menjadi praktisi community development worker yang profesional. Ke depan, ia berharap dapat menjadi akademisi di bidang community development untuk membagikan ilmu yang dimilikinya secara lebih luas.
Aida Fitri Muthia berhasil meraih predikat Lulusan Terbaik Sekolah Bisnis (SB) dengan IPK 3,93. Alumni SMA Negeri 47 Jakarta ini menempuh pendidikan tinggi melalui jalur SBMPTN.
Keputusan Aida memilih Sekolah Bisnis IPB bukanlah langkah spontan, melainkan hasil pertimbangan matang terhadap prospek masa depan dan ketertarikannya pada ilmu bisnis yang dinamis serta terus berkembang mengikuti zaman.
Bagi Aida, pengalaman belajar di Sekolah Bisnis terasa sangat komprehensif. Setiap mata kuliah tidak hanya berisi teori, tetapi juga disertai penerapan nyata. Diskusi kelas, presentasi, hingga proyek kelompok melatih kemampuan berpikir kritis, analitis, sekaligus kreatif. Para dosen pun kerap membagikan inspirasi melalui pengalaman mereka di dunia bisnis.
“Kebersamaan dengan teman-teman dalam menyelesaikan tugas, menghadapi ujian, maupun berbagi cerita di luar kelas memberi warna tersendiri. Dari situ saya belajar arti kolaborasi, saling menguatkan, dan tumbuh bersama,” ujarnya.
Meski penuh pengalaman berharga, perjalanan kuliah juga tidak lepas dari tantangan. Dunia bisnis yang bergerak cepat menuntut mahasiswa untuk selalu kritis, solutif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi maupun dinamika pasar. Dari tantangan itulah Aida belajar ketangguhan (resilience): kemampuan bertahan, bangkit, dan menemukan solusi dengan tetap berpegang pada prinsip etika.
Selama kuliah, Aida berkesempatan menerima beasiswa dari Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) dan aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) IPB pada 2022. Keterlibatannya dalam organisasi melatih kepemimpinan, memperluas jaringan, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab yang lebih besar.
Bagi Aida, gelar sarjana bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk membuktikan bahwa keteguhan, inovasi, dan etika dapat berjalan beriringan dalam dunia nyata. “IPB University bukan hanya membekali ilmu, tetapi juga membentuk karakter, nilai, dan semangat untuk terus berkembang,” ungkapnya.
Ke depan, Aida berharap dapat memberikan manfaat lebih luas melalui ilmu dan karya, sekaligus menjadi bagian dari generasi muda yang siap menghadirkan perubahan positif bagi bangsa.
10. Karen Louise Paschalis, Lulusan Terbaik Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis
Karen Louise Paschalis meraih predikat lulusan terbaik dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) dengan IPK 3,89. Perjalanan akademiknya dimulai pada 2021 setelah diterima di Program Studi Kedokteran Hewan melalui jalur SNMPTN. Sebelumnya, ia menempuh pendidikan di SMA Regina Pacis Bogor yang membekalinya dengan disiplin dan kerja keras.
Selama berkuliah, Karen mengaku mendapatkan pengalaman berharga, baik dari sisi akademik maupun nonakademik. Lingkungan kampus yang suportif membuatnya terus berkembang, sementara interaksi dengan dosen dan teman-teman dari berbagai latar belakang memberikan inspirasi tersendiri.
“Tantangan terbesar selama kuliah adalah padatnya jadwal perkuliahan dan praktikum, ditambah kegiatan organisasi. Kondisi itu menuntut saya untuk disiplin dalam manajemen waktu dan mampu menentukan prioritas,” ungkapnya.
Sejak kecil, Karen sudah memiliki ketertarikan pada dunia hewan. Rasa ingin tahu itu mendorongnya mendalami bidang veteriner. Baginya, peran dokter hewan tidak hanya sebatas menjaga kesehatan hewan, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan masyarakat dan lingkungan.
Di luar akademik, Karen aktif berorganisasi. Ia pernah menjadi Badan Pengawas Himpunan Profesi Satwa Liar (Himpro Satli) periode 2023/2024, serta menjabat Ketua Divisi Zoonosis, Lingkungan, dan Pengabdian Masyarakat PC IMAKAHI IPB periode 2022/2023. Melalui organisasi, ia mengasah kepemimpinan, komunikasi, serta keterampilan bekerja sama.
Ke depan, Karen berencana melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar dokter hewan. Ia berharap dapat berkontribusi nyata bagi kesehatan hewan sekaligus masyarakat luas.
11. Farhan Abdillah Harahap, Lulusan Terbaik Sekolah Sains Data Matematika dan Informatik
Farhan Abdillah Harahap terpilih jadi Lulusan Terbaik Sekolah Sains Data Matematika dan Informatik dengan IPK 3,91. Alumni MAN 2 Kota Bogor ini berhasil menempuh pendidikan di IPB University melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Sejak lama, ia memiliki ketertarikan pada angka, analisis, dan teknologi, sehingga dengan mantap memilih Program Studi Statistika dan Sains Data.
“Bagi saya, data itu menarik karena di balik deretan angka ada cerita yang bisa diungkap. Dari data, kita bisa melihat pola, membuat prediksi, hingga membantu orang dalam mengambil keputusan. Apalagi hampir semua bidang kini membutuhkan data, sehingga jurusan ini terasa sangat relevan dan memiliki prospek menjanjikan,” ungkapnya.
Selama kuliah, ia bersyukur mendapat Beasiswa Pancakarsa yang tidak hanya membantu secara finansial tetapi juga menjadi motivasi untuk terus berprestasi. Ia aktif berorganisasi di Gamma Sigma Beta (GSB) serta mengikuti berbagai lomba statistika, baik tingkat nasional maupun internasional. Dari pengalaman tersebut, ia belajar kepemimpinan, kerja sama tim, manajemen waktu, hingga berani keluar dari zona nyaman.
Ia mengakui tantangan terbesar selama kuliah adalah membagi waktu antara perkuliahan, organisasi, dan aktivitas lain. Namun dari situ ia justru belajar arti disiplin, pentingnya manajemen waktu, serta menjaga fokus pada tujuan.
Ke depan, ia bercita-cita menjadi seorang data scientist. Harapannya, ilmu yang diperoleh di IPB University dapat dimanfaatkan untuk mengolah dan menganalisis data agar menghasilkan solusi bermanfaat, tidak hanya untuk dunia kerja tetapi juga masyarakat luas.
12. Theresa Vindri Pramesti, Lulusan Terbaik Program Magister
Theresa Vindri Pramesti terpilih sebagai Lulusan Terbaik Program Magister dari Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika, dengan IPK 3,99. Baginya, kesempatan menempuh pendidikan di kampus pertanian terbaik di Indonesia ini merupakan pengalaman yang berkesan sekaligus membanggakan.
“IPB University bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga wadah yang menempa mental, spiritual, dan kedewasaan saya. Saya belajar menjadi pribadi yang lebih adaptif, disiplin, dan ambisius,” ungkap Theresa.
Perjalanan studinya tidak selalu mudah. Theresa harus menghadapi tuntutan akademik yang tinggi, mulai dari mengatur waktu, menyusun tesis, hingga terus berinovasi dan berpikir kritis. Namun, tantangan tersebut justru membentuknya semakin matang.
Ketertarikan Theresa pada konservasi lingkungan sudah tumbuh sejak kuliah di Program Studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) IPB University. Melalui program Sinergi (fast-track), ia bisa melanjutkan langsung ke jenjang magister.
Tesisnya berfokus pada pemulihan ekosistem di kawasan taman nasional dengan pendekatan spasial (GIS) selama 14 tahun. Ia menganalisis variabel penting seperti suhu permukaan, kerapatan tajuk, produktivitas primer, hingga fragmentasi lanskap.
“Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi bagi pengelola taman nasional dalam mengoptimalkan pemulihan ekosistem. Jika ekosistem pulih, maka jasa lingkungan bisa kembali maksimal bagi masyarakat dan keberlanjutan alam,” jelasnya.
Ke depan, Theresa bertekad melanjutkan karier di bidang riset konservasi serta berkontribusi dalam program perlindungan dan pemulihan ekosistem di Indonesia.