Debat pertama Capres 2024 yang berlangsung di Kantor KPU, Jakarta, Selasa (12/12/2024). Foto: Tangkapan Layar Youtube
JAKARTA, (ERAKINI) - Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan 11 panelis untuk Debat Capres edisi ketiga Minggu (7/1/2024). Mereka akan merumuskan pertanyaan-pertanyaan kepada ketiga capres seputar pertahanan, keamanan, hubungan internasional, globalisasi, geopolitik, dan politik luar negeri.
Panelis yang dipilih merupakan pakar di bidang tema debat tersebut. Panelis adalah orang atau sekelompok orang yang bertugas untuk menilai dan memberikan tanggapan terhadap objek yang diuji. Dalam hal ini, penelis bertugas untuk menilai dan menanggapi para capres dalam debat.
Mereka akan menggali program dan visi-misi ketiga capres, yakni Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo, seputar tema-tema debat tersebut.
Angel Damayanti merupakan Guru Besar bidang Ilmu Keamanan Internasional Fisipol Universitas Kristen Indonesia. Dikutip dari laman uki.ac.id, Angel Damayanti diangkat jadi Guru Besar mulai 1 Juni 2023.
Damayanti menempuh pendidikan S1 di Universitas Kristen Indonesia dan lulus tahun 2000. Ia kemudian melanjutkan pendidikan master (S2) di Universitas Indonesia (IU) lulus tahun 2008.
Ia juga diketahui menembuh pendidikan master bidang Strategic Studies/International Studies dan Counter Terrorism di S. Rajaratnam School of International Studies, Graduate School of Nanyang Technological University Singapore.
Setelah itu, Angel melanjutkan pendidikan doktor (S3) di National University of Singapore pada 2013 dan doktor filosofidi di Universitas Sains Malaysia dan lulus tahun 2018.
2. Curie Maharani Savitri
Berdasarkan informasi dari lama ir.binus.ac.id, Curie Maharani Savitri merupakan dosen Hubungan Internasional sekaligus ahli kajian industri pertahanan dan alih teknologi Universitas Bina Nusantara (Binus).
Curie menerima gelar sarjana jurusan Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia pada 2002. Ia kemudian menempuh pendidikan S-2 dan memperoleh predikat cum laude di Institut Teknologi Bandung, Jurusan Manajemen Pertahanan, pada 2007.
Selanjutnya, Curie juga menerima gelar Ph.D dalam Manajemen Pertahanan dan Kepemimpinan dari Cranfield University pada 2016.
Sebelum bergabung dengan Binus, Curie aktif menangani isu-isu manajemen pertahanan di Kementerian Pertahanan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Sekolah Kajian Internasional S Rajaratnam.
3. Prof Evi Fitriani
Dikutip dari lama Departemen Hubungan Internasional FISIP UI, Evi Fitriani diketahui menempuh pendidikan S-1 Ilmu Hubungan Internasional di UI. Evi kemudian memperoleh gelar magister dari Universitas Leeds dan dari Universitas Ohio, serta gelar doktor dari Universitas Nasional Australia.
Perempuan kelahiran 20 Desember 1968 ini mulai mengajar ilmu hubungan internasional di UI pada tahun 1996. Ia juga terlibat dalam organisasi internal di UI dan ikut terlibat dalam pembentukan kantor internasional UI. Evi menjabat sebagai kepala kantor tersebut sejak berdiri pada tahun 2003 hingga tahun 2005.
4. Prof Hikmahanto Juwana
Hikmahanto Juwana merupakan akademisi dan peneliti Ilmu Hukum. Ia merupakan Guru Besar Hukum Internasional di Fakultas Hukum UI. Sejak 2020, ia menjabat sebagai Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani.
Dikutip dari laman UI, Hikmahanto meraih gelar sarjana hukum dari Fakultas Hukum UI. Pria kelahiran 23 November 1965 ini melanjutkan pendidikan magister hukum internasional dari Universitas Keio pada tahun 1989, dan kemudian memperoleh gelar doktor dari Universitas Nottingham tahun 1997.
5. I Made Andi Arsana
I Made Andi Arsana merupakan ahli aspek geospasial hukum laut (Teknik Geodesi) Universitas Gadjah Mada (UGM). Mengutip laman website universitas tersebut, Andi Arsana juga merupakan dosen sekaligus peneliti di Departemen Geodesi UGM.
Ia meraih gelar S1 dari UGM pada tahun 2001. Kemudian melanjutkan S2 di University Of New South Wales dan lulus tahun 2007. Ia melanjutkan program doktor (S3) di University Of Wollongong dan lulus tahun 2014.
6. Ian Montatrama
Ian Montatrama merupakan dosen Program Studi Hubungan Internasional Ahli Keamanan dan Pertahanan Universitas Pertamina Mengutip laman situs Universitas Pertamina, Ian menempuh pendidikan S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada 1999.
Ia kemudian mengambil pendidikan Magister di European Business (M.E.B.), EDHEC Lille, Prancis pada 2000-2001, dan Program Pascasarjana dalam Strategi Perang Total (SPS) Universitas Pertahanan (Unhan).
Pada 2017, Ian memperoleh predikat cum laude atau dengan pujian saat menempuh pendidikan Program Doktor dalam Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran (UNPAD).
7. Irine Hiraswari Gayatri
Mengutip laman monash.edu, Irine Hiraswari Gayatri merupakan peneliti Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Irine menerima gelar Magister dari Departemen Penelitian Perdamaian dan Konflik Universitas Uppsala, Swedia.
Irine juga saat ini merupakan kandidat Ph.D di Pusat Gender, Perdamaian, dan Keamanan Universitas Monash, Australia.
Irene mendapatkan gelar doktor (S3) dari Monash University's Gender, Peace and Security (GPS) Centre, School of Social Sciences, Faculty of Arts, pada 15 November 2023. Sementara gelar magister didapatkannya dari Departemen Penelitian Perdamaian dan Konflik Universitas Uppsala di Swedia.
Irene sempat bekerja di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2017 hingga 2018 untuk mengembangkan Rencana Aksi Nasional dalam Menanggulangi/Mencegah Ekstremisme Kekerasan yang Menyebabkan Terorisme (P/CVE NAP), yang dirilis pada Januari 2021 lalu.
8. Kusnanto Anggoro
Kusnanto Anggoro merupakan pakar keamanan Universitas Pertahanan (Unhan). Dia juga Penasihat Senior Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Bidang Hubungan Internasional.
Mengutip laman asean.org, ia juga menjabat Ketua Komite Pejabat Senior Komunitas Sosial Budaya ASEAN. Kusnanto juga tercatat mengajar di Universitas Indonesia, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal). Selain mengajar, ia juga merupakan pengamat militer dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS).
9. Laksamana TNI (Purn) Prof Marsetio
Marsetio merupakan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) periode 2012-2014. Dia saat ini menjabat Ketua Dewan Guru Besar Universitas Pertahanan.
Ketika masih aktif di TNI, Marsetio menjadi lulusan terbaik Akademi Angkatan Laut (AAL) pada 1981. Ia juga pernah mengajar di Naval War College USA, di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut, di Sesko TNI, dan Lemhannas.
10. Philips Jusario Vermonte
Philips J. Vermonte merupakan Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Dia juga senior fellow badan strategi Centre for Strategic and International Studies (CSIS).
Pria kelahiran 14 Juli 1972 merupakan pakar ilmu sosial dan politik, peneliti serta pengajar. Philips merupakan lulusan Universitas Adelaide, Australia, dan aktif mengajar di beberapa universitas di Jakarta.
Philips juga merupakan salah seorang inisiator pendirian Pokja Papua (Perkumpulan Masyarakat Jakarta Peduli Papua) yang didirikan pada 25 November 2002.
11. Widya Setiabudi Sumadinata
Widya merupakan Guru Besar Bidang Keamanan Global Universitas Padjadjaran (Unpad). Selama ini Widya memiliki fokus pada studi keamanan dan pertahanan, hubungan sipil-militer, penyelesaian konflik, manajemen konflik, studi Perdamaian, kontra-terorisme, studi ASEAN, studi Tiongkok, serta demokrasi dan HAM.
Mengutip laman datadikti.com, Widya memperoleh gelar sarjana dari Universitas Padjadjaran pada 1998. Dia kemudian memperoleh gelar magister dari Institut Teknologi Bandung pada 2003.
Widya kemudian meneruskan pendidikan S-3 Ilmu Pemerintahan di Unpad dan kembali mengambil program S-2 Bidang Strategi Pertahanan Semesta di Universitas Pertahanan (Unhan).